Tautan-tautan Akses

Sampul Charlie Hebdo Kembali Tampilkan Nabi Muhammad


Warga memegang panel untuk menciptakan gambar mata editor Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, saat ratusan ribu warga ambil bagian dalam pawai solidaritas di Paris (11/1). (Reuters/Charles Platiau)

Warga memegang panel untuk menciptakan gambar mata editor Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, saat ratusan ribu warga ambil bagian dalam pawai solidaritas di Paris (11/1). (Reuters/Charles Platiau)

Sampul depan tabloid satir Perancis “Charlie Hebdo” hari Rabu (14/1) kembali memicu kecaman warga Muslim, karena menyajikan karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad sedang menangis sambil membawa poster bertuliskan “Je suis Charlie” atau “Saya Charlie”.

Inilah edisi pertama “Charlie Hebdo” yang terbit pasca serangan teror pekan lalu terhadap kantornya di Paris yang menewaskan 12 karyawan – termasuk dua polisi.

Bagian atas sampul tabloid “Charlie Hebdo” terbaru bertuliskan “All is Forgiven” atau “semua dimaafkan” dan menyajikan karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad sedang menangis sambil membawa poster bertuliskan “Je suis Charlie” atau “Saya Charlie” – slogan yang digunakan secara luas oleh para demonstran pasca serangan teroris 7 Januari lalu, guna menunjukkan dukungan pada wartawan yang tewas.

Lebih dari tiga juta orang berpawai di jalan-jalan kota di Perancis akhir pekan lalu, mengecam serangan teroris terhadap tabloid itu.

Presiden Asosiasi Muslim di Inggris Omer el-Hamdoon mengatakan sampul terbaru tabloid itu akan kembali memicu kemarahan warga Muslim.

“Reaksi saya adalah karikatur itu menjijikkan dan cenderung menjengkelkan juga. Saya merasa yang sedang terjadi sekarang ini tidak berbeda dengan apa yang kita saksikan tahun 2005 ketika muncul karikatur Nabi Muhammad di tabloid Denmark dan media menanggapi kerusuhan yang timbul saat itu dengan terus menerbitkan karikatur-karikatur yang terkesan menantang. Itu menimbulkan lebih banyak kemarahan”.

Anggota kerajaan Yordania – Pangeran Hassan bin Talal – juga mengecam karikatur itu dengan mengatakan slogan yang seharusnya digunakan adalah “Je suis Ahmed” atau “Saya Ahmed” – yang merujuk pada polisi Muslim yang tewas dalam serangan itu.

Diwawancarai VOA, Direktur Komunikasi Council on American-Islamic Relations Ibrahim Hooper mengatakan orang berhak memiliki kebebasan berpendapat, tetapi mengolok-olok Muslim merupakan tindakan kontra-produktif.

“Kami percaya orang berhak memiliki kebebasan berpendapat dan bersikap, tetapi kami juga percaya bahwa menghina Muslim di seluruh dunia tanpa alasan saat ini merupakan tindakan kontra-produktif. Saya kira sikap yang tepat atas apa yang terjadi baru-baru ini adalah berupaya menenangkan situasi, bukan memanas-manasinya, meskipun mereka – orang-orang picik yang anti-Islam – memiliki hak untuk itu. Tidak ada warga Muslim yang senang Nabi Muhammad dihina. Tetapi isunya bukan itu. Isunya adalah bagaimana kita bereaksi terhadap hak orang untuk menghina,” kata Hooper.

Tiga juta kopi tabloid “Charlie Hebdo” edisi terbaru itu sudah dicetak. Biasanya, Charlie Hebdo hanya mencetak 60 ribu kopi tabloid yang terjual setiap pekan. Guna menunjukkan solidaritas, beberapa suratkabar Barat dan situs-situs berita juga memuat karikatur tersebut – termasuk suratkabar Amerika “Washington Post” dan “Daily Beast”, suratkabar Inggris “The Guardian”, suratkabar Perancis “Le Monde and Liberation”, dan suratkabar Jerman “Frankfurter Allgemeine”.

Berbicara pada BBC, seorang kolomnis di “Charlie Hebdo” Zineb El Rhazoui mengatakan tulisan sampul “All is Forgiven” itu menunjukkan bahwa majalah tersebut memaafkan para penyerang tersebut.

"Saya kira jika hari ini korban yang tewas bisa minum kopi bersama para teroris, mereka bakal membahas mengapa teroris melakukan serangan itu. Kami di Charlie Hebdo merasa perlu memaafkan mereka. Kami tidak membenci mereka. Kami tahu kami tidak melawan mereka sebagai individu, tapi perjuangan yang kami lakukan adalah menentang ideologinya,” ungkapnya.

Berbicara pada stasiun televisi Perancis “France Inter” hari Selasa (13/1) mantan perdana menteri Perancis Francois Fillon menggambarkan sampul depan itu sebagai “luar biasa”. “Saya selalu membela Charlie Hebdo. Tidak akan pernah ada perdebatan tentang kebebasan berpendapat – tidak pernah,” tegasnya.

Minggu lalu, dua kakak beradik ekstremis, Cherif dan Said Kouachi, membantai 12 orang di kantor tabloid satir tersebut di Paris. Charlie Hebdo dikenal atas kartunnya yang mengolok-olok semua agama dan juga tokoh publik.

​Pihak berwenang mengatakan Perancis tetap berisiko tinggi terhadap kemungkinan serangan teror.

Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian mengatakan lebih dari 10.000 pasukan akan dikerahkan di seluruh negeri pada Selasa. Pemerintah-pemerintah Eropa sedang mengkaji langkah-langkah keamanan menyusul serangan-serangan teror minggu lalu yang menewaskan 17 orang di Perancis. ​

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG