Tautan-tautan Akses

Hakim Yogyakarta Kabulkan Permohonan Ganti Kelamin

  • Nurhadi Sucahyo

Kantor Pengadilan Negeri Bantul, DI Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Kantor Pengadilan Negeri Bantul, DI Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Pengadilan Negeri Bantul, Yogyakarta mengabulkan tuntutan ganti kelamin yang diajukan seorang pensiunan hakim perempuan menjadi laki-laki.

Semua ini dimulai dari keresahan seorang perempuan berinisial S yang meyakini dirinya sebagai laki-laki.

Kepada hakim di Pengadilan Negeri Bantul, Yogyakarta, perempuan berkerudung berumur 74 tahun ini mengaku belum pernah mengalami menstruasi seumur hidupnya. Di lehernya juga ada benjolan seperti jakun.

Namun apa daya, sejak lahir dia dikenal sebagai perempuan. Selama berkarir menjadi hakim pun, dia berstatus hakim perempuan.

Dari catatan persidangan diketahui, S tidak menikah hingga hari tuanya. Dia juga mengungkapkan keresahannya sebagai penganut agama Islam, tentang bagaimana dia harus diberlakukan ketika meninggal nanti.

Hakim sekaligus juru bicara di PN Bantul, Supandriyo SH kepada VOA mengatakan, berbagai pertimbangan baik medis maupun kemanusiaan mendorong pengadilan mengabulkan permohonan penggantian identitas kelamin ini.

“Beliau ingin ketika nanti dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, beliau sudah menemukan sejatinya beliau ini seperti apa. Ini nanti kaitannya dalam proses penyelesaian jenazah beliau nanti supaya bisa diperlakukan secara benar. Intinya beliau begitu, kegalauan hatinya," ujar Supandriyo.

Dr. Probosuseno Sp PD, yang selama beberapa waktu terakhir menangani S, mengatakan selama menjadi dokter, baru kali ini ada yang datang berkonsultasi dengannya dengan kasus semacam ini dan sudah berusia lanjut.

Akhirnya dibentuklah sebuah Komite Medis untuk membahas kasus yang sangat langka itu, katanya. Melalui pemeriksaan fisik dan kromosom, akhirnya para dokter meyakini bahwa S adalah seseorang yang lebih tepat sebagai laki-laki dan bukan perempuan.

"Kemudian diputuskan untuk melakukan cek kromosom, cek kejiwaan, cek alat kelaminnya dan saluran kencingnya. Dari data yang masuk, dari kromosomnya mengarah kepada kromosom laki-laki. Dari segi kejiwaan, melalui pemeriksaan dari beberapa psikiater dan seorang psikolog klinis senior, memang kejiwaannya laki-laki. Jadi diputuskan jenis kelaminnya laki-laki. Dari segi kromosom jelas, kalau orang medical forensic langsung tahu kalau ini laki-laki,” ungkap Probosuseno.


Di Indonesia, kata Probosuseno, apa yang dilakukan S adalah sebuah langkah yang luar biasa. S akan menerima tekanan sosial yang muncul karena pertanyaan dan ketidakpercayaan masyarakat atas pergantian kelamin ini. Namun, kata Probosuseno, S telah bertekad bulat dan akan menerima akibat apapun yang muncul dari keputusannya.

Sebagai pribadi, Probosuseno mendukung sepenuhnya langkah S dan bahkan berharap masyarakat yang memiliki kondisi sama untuk tidak lagi bersembunyi.

“Justru ini yang membuat saya sangat hormat kepada beliau. Beliau mengambil sikap yang sangat berani dan itu pasti akan menimbulkan goncangan pada lingkungan sekitar, terhadap dia dan bagaimana sikap masyarakat sendiri terhadap dia. Ini bagi saya perang batin yang luar biasa, dan hebat beliau menurut saya. Saya hormat, sebab kalau terjadi pada saya, mungkin saya tidak berani seperti ini,” tambahnya.

J, seorang pegawai pengadilan yang pernah bekerja sebagai staf di bawah S kepada VOA mengaku terkejut atas perubahan kelamin mantan atasannya itu. J tidak mau namanya ditulis lengkap, karena ingin menjaga hubungan baik dengan S.

Selama empat tahun bekerja untuk S, J mengatakan tidak melihat tanda-tanda S sebagai seorang laki-laki. Hanya saja memang J menilai, S "tidak memiliki cukup rasa keibuan." S juga dikenal tegas dan kuat mental. Dalam sebuah sidang, S pernah dikalungi celurit oleh anggota sebuah organisasi masyarakat, tetapi dia bersikap tenang-tenang saja.

“Saya dan semua teman-teman tidak ada yang tahu sebelum ini kalau beliau laki-laki. Cuma memang kadang jadi pembicaraan karena tidak menikah sampai tua. Tetapi tingkahnya biasa, seperti perempuan pada umumnya. Beliau juga relatif pendiam, kalau tidak disapa tidak pernah menyapa,” tutur J.

Probosuseno menyarankan orangtua untuk memeriksa alat kelamin anak-anaknya sejak dini. Jika ditemukan kondisi yang berbeda dari sewajarnya, orangtua harus segera menghubungi dokter.

Penanganan di masa kanak-kanak akan lebih mudah dan membawa konsekuensi yang lebih ringan dibandingkan dengan yang terjadi dalam kasus S ini, ujarnya.

XS
SM
MD
LG