Tautan-tautan Akses

Gusmao Bersiap Mundur, Timor Leste Hadapi Ketidakpastian


Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berbicara pada wartawan di Dili. (Foto: Dok)

Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berbicara pada wartawan di Dili. (Foto: Dok)

Namun, meski lengsernya Xanana akan membawa Timor Leste ke wilayah yang tidak pasti, banyak yang merasa sudah waktunya ia mundur.

Timor Leste menghadapi ketidakpastian dengan bersiapnya pahlawan Xanana Gusmao untuk turun dari jabatannya sebagai perdana menteri, setelah mempersatukan negara kecil itu dalam masa-masa semrawut pada masa-masa awal kemerdekaannya.

Pemimpin karismatik berusia 68 tahun itu telah mengisyaratkan niatnya untuk mundur sebagai kepala pemerintahan, langkah yang akan membuat negara termuda di Asia itu kehilangan pemimpin pemersatu yang dianggap menyelesaikan serangkaian krisis.

"Semua orang takut ia mundur sebagai perdana menteri," ujar Lino Marques Sarmento, 30, pekerja di sebuah resor turis. Ia mengatakan ada ketakutan bahwa kekerasan fraksional dapat muncul tanpa otoritas personal Xanana.

Tidak jelas kapan ia akan mundur. Awal tahun ini ia berjanji akan mundur pada September namun tidak jadi, meski para analis mengatakan bahwa pemimpin tersebut tak dapat dihindari lagi tidak akan dapat maju pada pemilu 2017.

Namun meski lengsernya Xanana akan membawa Timor Leste ke wilayah yang tidak pasti, banyak yang merasa sudah waktunya ia mundur.

Beberapa pihak mengatakan dominasinya dalam politik menghambat transisi untuk generasi baru pemimpin di negara miskin itu, yang dianggap penting untuk menghapus ketegangan-ketegangan yang disebabkan atas persaingan lama antara fraksi-fraksi yang berbeda.

Pemerintahannya telah semakin tidak populer akibat tuduhan korupsi dan nepotisme, dengan beberapa menteri dituduh korupsi.

"Saya kira kita membutuhkannya, tapi Timor Leste juga membutuhkan pemimpin-pemimpin baru," ujar analis politik Matias Boavida dari National University of East Timor.

Siapapun yang mengambil alih jabatannya, politisi-politisi tua dan Xanana sepertinya akan mempertahankan perannya, mungkin di kabinet, menurut para pengamat.

Hal ini mungkin ada sedikit perubahan dalam jangka pendek, namun para analis mengatakan mundurnya tokoh yang begitu dominan dalam posisi kepemimpinan akan menimbulkan riak-riak dalam transisi ke generasi baru.

Beberapa berspekulasi bahwa pemulihan hubungan dengan lawan lamanya, mantan perdana menteri Mari Alkatiri, telah membantu membujuk Xanana bahwa sudah waktunya ia mundur. Ia telah diyakinkan janji Alkatiri bahwa ia tidak akan lagi menjadi perdana menteri, ujar para pengamat.

"Yang kita butuhkan stabilitas dan kedamaian. Dari konfrontasi, kita sadar bahwa kita saling memerlukan," ujar Alkatiri.

"Tidak akan mudah bagi lembaga-lembaga negara yang lemah untuk beradaptasi dengan sistem pemerintahan yang tidak terlalu personal. Namun mereka tidak akan mengalami peluang untuk berkembang selagi masih ada sistem seperti itu," ujar laporan awal tahun ini dari lembaga penelitian di Jakarta, Institute for Policy Analysis of Conflict. (AFP)

XS
SM
MD
LG