Tautan-tautan Akses

Gunung Sinabung Diprediksi Masih Akan Meletus

  • Nurhadi Sucahyo

Gunung Sinabung menyemburkan asap hitam dan abu tebal terlihat dari wilayah desa Simpang Empat di distrik Karo, Sumatera Utara, 5 November 2013 (Foto: dok).

Gunung Sinabung menyemburkan asap hitam dan abu tebal terlihat dari wilayah desa Simpang Empat di distrik Karo, Sumatera Utara, 5 November 2013 (Foto: dok).

Letusan Gunung Sinabung yang sudah berlangsung lebih dari sebulan, diprediksi masih akan terus terjadi. Tidak ada pertanda yang dapat digunakan untuk mengetahui, kapan proses letusan tersebut akan berhenti.

Letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara kemungkinan akan terjadi dalam durasi yang panjang. Dalam satu bulan terakhir, gunung ini kembali beraktivitas pada skala tinggi. Hujan abu sebagai dampak letusan, terus terjadi di sejumlah kota-kota di Sumatera Utara dan bahkan wilayah Aceh. Hingga saat ini, ada lebih dari 17 ribu warga yang terpaksa mengungsi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendrasto kepada VOA menjelaskan, aktivitas Sinabung adalah dampak dari proses alami yang terjadi di dapur magma. Selama simpanan magma itu masih ada, selama itu pula gunung tersebut akan beraktivitas.

Hendrasto menjelaskan, tidak ada teknologi yang bisa dipakai untuk menentukan kapan letusan ini akan berakhir. "Ini ada suplai magma dari bawah. Kan belum dilepas semuanya. Nah, apakah dilepasnya itu pelan-pelan, tidak seketika, tergantung proses yang di bawah. Makanya, kitapun tidak tahu, apakah ini akan berhenti kapan, karena itu tergantung suplai dari bawah," jelasnya.

Ditambahkan Hendrasto, Sinabung bukan satu-satunya gunung yang beraktivitas dalam jangka waktu panjang. Setidaknya ada lima gunung yang terus meletus dalam periode beberapa bulan terakhir. Bedanya adalah, karena gunung-gunung itu berada di kawasan terpencil, maka dampaknya bagi masyarakat hampir tidak ada. Beda dengan Sinabung, dimana ada banyak desa dan kota di sekitarnya.

"Ada Rokatenda di NTT, Gunung Lokon dan Karangetan dua-duanya di Sulawesi Utara, kemudian Gunung Ibu di Halmahera. Gunung Ibu juga sampai sekarang meletus-meletus dan tidak selesai, selama dua tahun. Abunya juga keluar terus. Tidak jadi masalah karena di Gunung Ibu itu masyarakatnya jauh dari gunung, jadi tidak jadi masalah. Apalagi coverage medianya jadi kurang karena ada di Halmahera sana," kata Hendrasto.

Ketua Harian Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Prof. Sarwidi menegaskan, pemerintah dan masyarakat harus siap dengan segala konsekuensi letusan Sinabung. Koordinasi lembaga penanggulangan bencana terus dilakukan, sehingga dirinya yakin, dampak yang muncul dari aktivitas gunung ini telah diantisipasi. Sarwidi yang juga dosen di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta ini meminta pemerintah tegas dalam penataan kawasan Sinabung dalam jangka panjang, dimana keselamatan manusia menjadi prioritas utama.

"Opsi apa saja atau kemungkinan apa menurut PVMBG itu. Kalau seandainya dari opsi ini kemudian letusannya itu sampai radius berapa atau di sungai sepanjang berapa. Kalau memang PVMBG sudah membuat satu zonasi, ini yang harus kita taati. Misalnya harus dipindah masyarakatnya, tidak boleh ditempati areanya sampai satu waktu yang ditentukan, ya itu harus ada solusi. Misalnya harus ada relokasi, karena memang sangat membahayakan, karena prinsipnya adalah keselamatan jiwa manusia itu nomor satu," kata Prof. Sarwidi.

Catatan PVMBG menyebutkan bahwa Gunung Sinabung sebelum tahun 2010 dikelompokkan sebagai gunung bertipe B yang tidak berbahaya dan karenanya tidak diamati. Letusan terakhir yang dicatat sejarah, terjadi pada tahun 1600-an. Namun tiba-tiba, Sinabung meletus pada 29 Agustus 2010 tengah malam, dan kemudian menjadikannya gunung api tipe A.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG