Tautan-tautan Akses

Gubernur Indonesia di OPEC: Pembekuan Produksi Minyak Tidak Mendesak


Gedung kantor OPEC di Wina.

Gedung kantor OPEC di Wina.

Harga minyak US$45 per barrel "tidak buruk" dan tidak perlu tergesa-gesa membekukan hasil produksi jika minyak mentah tetap seharga itu.

Gubernur Indonesia untuk Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mengatakan Senin (25/4) bahwa harga minyak US$45 per barrel "tidak buruk" dan tidak perlu tergesa-gesa membekukan hasil produksi jika minyak mentah tetap seharga itu.

Meski gagal mencapai kesepakatan untuk membekukan hasil produksi minyak dan mendukung harga pada pertemuan OPEC dan produser non-OPEC tanggal 17 April, harga-harga minyak mentah mulai menampilkan tren naik sejak mencapai titik terendah selama 12 tahun bulan Januari.

Harga minyak mentah acuan Brent mencapai $44,75 per barrel hari Senin, turun 36 sen atau 0,8 persen karena para pedagang mengambil laba setelah tiga minggu untung.

"Harga di $45 tidak begitu buruk," ujar Widhyawan Prawiraatmadja kepada kantor berita Reuters di sela-sela acara energi di Abu Dhabi.

"Jika masih seperti itu, tidak perlu pembekuan hasil produksi. Itu tidak mendesak."

Widhyawan mengatakan harga minyak $50 sampai $60 "mungkin ideal, tapi masih relatif murah." Indonesia, yang bergabung kembali dengan OPEC sebagai anggota ke-13 Desember tahun lalu, memerlukan harga minyak mentah senilai $50 untuk menopang industri minyak dan gas.

"Barangkali situasi yang lebih ideal adalah jika OPEC dapat melibatkan non-OPEC untuk mencapai kesepakatan sambil mendorong ekonomi (global) untuk tumbuh," ujarnya.

Widhyawan mengatakan belum ada kontrak yang ditandatangani Indonesia untuk mengimpor LPG dari Iran, karena masih ada kendala seperti mekanisme pembayaran.

Meski sanksi-sanksi terhadap Iran akibat program nuklirnya dihapus bulan Januari, sanksi terpisah yang diberlakukan Amerika Serikat atas transaksi keuangan masih ada, sehingga menghambat upaya-upaya untuk melakukan bisnis dengan Republik Islami tersebut.

"Belum ada kontrak, pengertiannya adalah (kesepakatan) dapat terjadi begitu eksekusi bisa dilaksanakan. Masalahnya adalah transaksi, karena tidak selalu mudah untuk meminta bank-bank melakukannya," kata Widhyawan.

Ia menolak berkomentar mengenai kuantitas LGP yang dapat diimpor Indonesia, hanya bahwa negara ini akan "mengambil apapun yang mereka punya, asal syarat-syaratnya lebih baik dibandingkan sumber-sumber lain."

Widhyawan mengatakan tanggal 7 Maret lalu bahwa kesepakatan sedang dibuat untuk mengimpor kondensat dan LPG dari Iran, tapi bukan untuk minyak mentah karena tingkat keasaman minyak Iran tidak sesuai dengan kilang-kilang minyak di Indonesia. [hd/dw]

XS
SM
MD
LG