Tautan-tautan Akses

Gubernur Aceh Resmi Buka ICAIOS Ke-5

  • Budi Nahaba

Gubernur Zaini (ketiga dari kiri) bersama sejumlah pakar dari negara yang mengikuti ICAIOS ke-5.

Gubernur Zaini (ketiga dari kiri) bersama sejumlah pakar dari negara yang mengikuti ICAIOS ke-5.

Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Minggu malam (16/11) membuka resmi konferensi dunia tentang Kajian Aceh dan Samudera Hindia (International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies -ICAIOS) yang ke-5 di Banda Aceh.

Gubenur Zaini menekankan komitmen pemerintahannya guna melanjutkan kerjasama bidang pendidikan dengan pakar sejumlah negara guna mewujudkan pembangunan dan mempertahankan perdamaian di provinsi Aceh.

Gubernur Zaini Abdullah dalam sambutannya mengatakan di Banda Aceh Minggu (16/11), kehadiran delegasi pakar dari 17 negara dalam konferensi merupakan momentum cukup istimewa, terutama terkait erat dengan tema konferensi yang membahas bidang pendidikan, kerjasamam riset dan masa depan pembangunan dan perdamaian Aceh.

Gubernur Zaini meminta kalangan perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa agar lebih proaktif memperkuat program riset berbasis teknologi, terutama dalam menghadapi era pasar global yang cukup kompetitif.

Penyelenggara mengatakan Sabtu (15/11), dalam konferensi tokoh-tokoh pendidikan dunia dari 17 negara rencananya akan menyampaikan sejumlah rekomendasi bagi Aceh, lebih 70 naskah akademik akan dipresentasikan dalam konferensi.

Konferensi dunia ICAIOS dilaksanakan pada 17-19 November 2014 di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. ICAIOS merupakan wujud kemitraan tiga universitas terkemuka di Aceh, Universitas Malikussaleh (Unimal), UIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). ICAIOS didukung Kementerian Riset dan Tekhnologi, Pemerintah Aceh dan sejumlah lembaga riset internasional.

Berbagai rangkaian kegiatan mengisi kegiatan ICAIOS ke-5 di Aceh, terutama pameran foto tsunami, seminar lokakarya pendidikan dan peran kaum muda dalam kegiatan-kegiatan riset, pengetahuan tentang kebencanaan, pengembangan industri kreatif serta berbagai masalah-masalah sosial dan ekonomi lainnya.

Seorang mahasiswa Tika Hafsari (20) mengatakan, kaum muda Aceh perlu lebih banyak belajar dari keberhasilan sejumlah negara dalam menerapkan model pendidikan yang cukup berorientasi dengan program kewirausahaan mandiri.

Teuku Faiza memuji peran pemerintah dan kalangan swasta yang turut mendukung konferensi, dan berharap hasil konferensi mendorong peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya dunia pendidikan tinggi Aceh, sehingga kaum muda lebih mampu bersaing di tengah pesatnya persaingan global.

Mahasiswa Unsyiah Aceh, Ulul Azmi (21) mengatakan, kaum muda Aceh perlu mendapat jaminan oleh negara agar mereka dapat mengeyam pendidikan yang memadai sehingga lebih mampu menguasai disiplin ilmu yang mereka tekuni, dan berkontribusi dalam pembangunan.

Pembicara kunci dalam konferensi ICAIOS ke-5 di Banda Aceh, beberapa di antaranya, prof Anthony Reid dari Univeristas Nasional Australia (ANU), Marjaana Jauhola dari University og Helsinki, Anne Marie Samuel dari University of Amsterdam. Eriko Kameyama dari NPU Japan, Evelin Witruk dari Leipzig Jerman, Jyotiraj Patra dari IDRC Canada serta sejumlah pakar pendidikan dari berbagai universitas terkemuka di dunia.

Penyelenggara menyatakan, konferensi dunia ICAIOS ke-5 diselaraskan dengan momentum peringatan tsunami Aceh ke-10. Pakar mengatakan gempa bumi 26 Desember 2004 silam di lepas pantai barat Aceh menghasilkan serangkaian tsunami mematikan di sebagian besar pesisir dan daratan Samudra Hindia. Gelombang tsunami dengan puncak tertingginya mencapai 30 meter, menewaskan lebih 220.000 orang tewas di 13 negara. Aceh, Indonesia merupakan wilayah yang terkena dampak paling besar. Gempa berkekuatan 9,1–9,3 pada Skala Richter (SR), tambah analis, merupakan gempa terbesar ketiga yang pernah tercatat pada seismograf dan memiliki durasi terlama sepanjang sejarah, sekitar 8,3 sampai 10 menit.

XS
SM
MD
LG