Tautan-tautan Akses

Greenpeace Tuduh Perusahaan China Hancurkan Lingkungan di Mongolia

  • William Ide

Seorang pekerja di perusahaan batubara China (foto: dok). Greenpeace menuduh perusahaan batubara China melakukan penghancuran lingkungan di Mongolia.

Seorang pekerja di perusahaan batubara China (foto: dok). Greenpeace menuduh perusahaan batubara China melakukan penghancuran lingkungan di Mongolia.

Kelompok lingkungan internasional Greenpeace menuduh perusahaan batu bara terbesar China secara besar-besaran mengeksploitasi sumber daya air di wilayah gersang Mongolia tengah.

Dalam laporan investigasi yang baru dirilis, Greenpeace mengatakan sumur-sumur mengering, danau menyusut dan bukit pasir meluas di dekat pabrik perusahaan batubara China itu. Menurut Greenpeace, sejak perusahaan Shenhua Group, milik pemerintah China mulai mengambil air untuk pabriknya guna mengolah batubara menjadi bahan bakar cair, tingkat air di dalam tanah menurun hampir 100 meter.

Satu danau yang airnya disedot juga telah menyusut dua pertiga sejak kegiatan perusahaan itu dimulai tahun 2006. Greenpeace mengatakan perusahaan itu tidak hanya membuat sumber daya air mengering, tapi secara ilegal juga membuang limbah industri beracun.

Petani lokal dan penggembala ternak kesulitan untuk mempertahankan mata pencaharian mereka sehingga memicu kerusuhan sosial. Tetapi perusahaan tersebut sedang berencana untuk memperluas proyek itu secara besar-besaran.

Li Yan, adalah Ketua kelompok lingkungan, kampanye iklim dan energi di China. Dia mengatakan Shenhua perlu mengakhiri kegiatan penghancuran itu

"Kami juga ingin memperingatkan rencana pembangunan ambisius saat ini di tingkat pemerintah daerah dan pusat untuk proyek-proyek batubara kimia yang lebih banyak, menganggap ini sebagai sebuah contoh dan menjadikan pembatasan sumber daya air sebagai prioritas," papar Li Yan.

China sangat bergantung pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan ekonominya yang sangat besar, terbesar kedua di dunia, namun para pemimpinnya juga menghadapi peningkatan tuntutan untuk mengatasi masalah lingkungan.

Awal bulan ini, China membatalkan pabrik pengolahan uranium bernilai enam miliar dolar setelah ada protes menentang fasilitas itu. Proyek petrokimia lainnya baru-baru ini juga dihentikan.

Penerbitan laporan Greenpeace ini adalah yang pertama kalinya mengarah pada perusahaan milik negara dengan pemeriksaan dan fokus semacam itu.

Li Yan mengatakan bahwa Greenpeace tidak menerbitkan temuan untuk membuat perusahaan terlihat buruk, tapi untuk memastikan bahwa perluasan industri batu-bara tanpa persiapan yang baik, tidak akan terjadi tanpa kerugian keamanan air dan ekologi.

"Ini jelas bukannya bebas risiko dan kami berusaha sebaik mungkin untuk memastikan bahwa bukti dan temuan kami sangat kuat dan berusaha menyajikan bukti serta menunjukkan apa yang terjadi pada departemen-departemen berbeda dan para pembuat kebijakan," tambah Li Yan.

Li juga mengatakan Greenpeace telah menyampaikan salinan laporan itu kepada Kementerian Lingkungan Hidup China, Kementerian Sumber Daya Air dan badan pemerintah yang mengawasi BUMN. Kelompok ini belum menerima tanggapan.

Salinan lainnya dikirim ke perusahaan itu hari Selasa, tidak lama sebelum kelompok itu mengadakan konferensi pers di Beijing untuk mengumumkan temuannya.

Shenhua belum mengomentari laporan tersebut. Cairannya ke pabrik batu-bara di Mongolia Tengah adalah satu dari tiga proyek percontohan semacam itu di China.
XS
SM
MD
LG