Tautan-tautan Akses

Gita Wirjawan: Indonesia Tak akan Tambah Korup 5-10 Tahun Mendatang


Gita Wirjawan saat menjadi pembicara forum diskusi di CSIS, Washington DC (7/7).

Gita Wirjawan saat menjadi pembicara forum diskusi di CSIS, Washington DC (7/7).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan meyakini Indonesia tidak akan bertambah korup. Ia juga mengemukakan GDP Indonesia akan bertambah tiga kali lipat. Hal tersebut dikemukakannya dalam sebuah forum di Washington DC, hari Kamis, 7 Juli 2011.

Gita Wirjawan mengatakan tantangan bagi Indonesia untuk bisa berkembang dan maju di masa depan bervariasi. Tantangan paling pertama, menurut dia, adalah korupsi. Ia menilai orang-orang akan mengukur apakah Indonesia akan lebih atau tidak begitu korup dalam 5 hingga 15 tahun dari sekarang. Tapi, dia yakin Indonesia tidak akan bertambah korup.

Ia mengatakan, “Saya sangat yakin, Indonesia tidak akan bertambah korup. Hong Kong membutuhkan waktu 30 hingga 40 tahun untuk mengatasi korupsi. Makin banyak anak-anak muda di Indonesia yang paham apa yang penting bagi Indonesia, bagaimana agar kehidupan lebih berarti.”

Dalam laporan Transparency International yang diterbitkan bulan Juni lalu, indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2011 memiliki skor 2,8 dalam skala 0 hingga 10, dengan artian skor 0 paling korup dan 10 korupsinya sedikit. Indeks Indonesia tahun ini sama dengan tahun lalu. Sementara itu, dari 178 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat ke-110.

Dalam forum yang dihadiri sekitar 75 orang Amerika dan Indonesia itu, Gita menganggap satu-satunya cara untuk mempercepat pemberantasan korupsi di Indonesia adalah memastikan bahwa lebih banyak orang Indonesia mendapat akses kepada pendidikan tinggi. Dia bahkan menyebut Indonesia kurang berpendidikan dibanding dengan Tiongkok dan India.

Dalam kurun 20 tahun hingga sekarang, jumlah orang Indonesia yang bergelar S3 berkisar 14.000, sedangkan Tiongkok dan India masing-masing sekitar 500.000 orang. Oleh sebab itu, tegasnya, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus direformasi di level terendah hingga level tertinggi universitas, dan juga pendidikan politeknik. Jika hal ini tidak dilakukan, Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan kedua negara berkembang tersebut.

Ditambahkannya, selain korupsi, tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia adalah bencana alam, kebutuhan akan reformasi institusi, dan kurangnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur. Sebagai contoh, ia menyebut pencapaian Tiongkok dan India.

“Awal tahun 1990-an, Tiongkok datang ke Indonesia untuk belajar membuat jalan raya. Sejak itu, mereka telah membangun 70.000 kilometer jalan raya, tapi Indonesia hanya membangun 500 kilometer. Sekarang Tiongkok dan India masing-masing punya 4,5 juta kilometer jalan raya, sedangkan Indonesia 340.000 kilometer. Kita tidak membangun infrastruktur secepat Tiongkok dan India," ujar Gita.

Ia juga mengemukakan ekonomi Indonesia adalah terbesar ke-17 di dunia, dengan nilai GDP tahun 2010 mencapai 720 miliar dolar AS. Dalam 10 tahun mendatang, pemerintah menargetkan GDP tumbuh menjadi sekitar 2 triliun dolar AS.

Gita Wirjawan memaparkan hal itu dalam forum diskusi mengenai “Masa Depan Ekonomi Terbesar di Asia Tenggara”. Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Center for Strategic & International Studies (CSIS), Washington DC. Pada diskusi itu, Gita juga menyediakan waktu bagi para hadirin untuk mengajukan pertanyaan.

XS
SM
MD
LG