Tautan-tautan Akses

Gerakan Salafi Berkembang di Batam


Staf Radio Hang, stasiun radio khusus Islam Salafi di Batam. (VOA/K. Varagur)

Pulau Batam, yang biasanya dikenal dengan pijat murah, golf dan alkohol bebas pajak, telah menjadi titik panas Asia Tenggara untuk gerakan Salafi, yang mempraktikkan bentuk fundamentalis Islam Sunni yang berakar di Arab Saudi.

Karena lokasinya yang strategis dekat Singapura dan Malaysia, Batam telah menjadi lintasan bagi pemeluk Salafi di wilayah ini, dan lembaga-lembaganya mengindikasikan jaringan subur yang melintasi perbatasan-perbatasan nasional.

Pusat gerakan Salafi di Batam adalah Radio Hang FM, stasiun radio biasa sampai 2004, ketika pemiliknya, pengusaha Zein Alatas, tiba-tiba beralih pada aliran Salafisme. Jika Hang merupakan wajah publik Salafi Batam yang mengilap, pesantren Salafi yang telah bermunculan di seluruh pulau itu dapat dianggap sebagai inti privat, akar rumputnya.

Kehadiran kedua jenis lembaga Salafi ini membuat Batam sebagai mikrokosmos Salafisme Asia Tenggara, yang membangun identitas yang berlainan dari tempat asalnya di padang pasir Arab.

Radio Hang

Dari pukul 4 dini hari sampai tengah malam setiap hari, Radio Hang FM menyiarkan ceramah, khotbah dan pengajian al-Quran, tanpa musik sama sekali. Mereka yang bekerja di Hang secara resmi menyebut kontennya sebagai dakwah.

"Ini tidak ada hubungannya dengan Salafisme," ujar Jamhur Poti, konsultan bisnis radio tersebut, yang berbicara di kantor pusatnya di sebuah mal di Batam. "Dakwah, pendidikan, bisnis, kesehatan, ya. Tapi bukan Salafisme."

"Ya, mereka boleh bilang apa saya yang mereka mau," ujar Din Wahid, peneliti di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta. "Tapi Radio Hang benar-benar Salafi. Jelas dari konten program-program yang mereka siarkan."

Para penceramah di jaringan tersebut menyerang bid'ah, atau inovasi yang menyimpang dari ajaran al-Quran, seperti merayakan hari lahir Nabi Muhammad atau berziarah makam. Yang lainnya menjelek-jelekkan sekte-sekte non-Sunni seperti Syiah dan Ahmadiyah.

Para pembicara di Radio Hang datang dari Indonesia, Singapura dan Malaysia, serta akademisi-akademisi dari Timur Tengah, yang menurut Din mengindikasikan saling keterhubungan antara Salafi-Salafi Asia Tenggara. Jamhur mengatakan para pendengarnya sekarang bahkan ada yang dari Hong Kong dan Australia, berkat penyiaran digital di laman mereka.

Tahun lalu, Radio Hang terimplikasi dalam skandal ekstremisme ketika dua warga Singapura yang "meradikalkan diri" menyebut stasiun radio itu sebagai sumber simpati mereka terhadap jihadis. Kedua pria itu ditahan sebelum mereka dapat pergi ke wilayah Negara Islam (ISIS) di Suriah. Radio Hang menerima surat peringatan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan berjanji menghentikan ceramah-ceramah dari pengkhotbah yang intoleran atau garis keras.

"Radio Hang bukan lagi sebuah masalah, mereka telah betul-betul mengubah konten mereka yang bermasalah setelah diberi peringatan," kata Zulkifli Aka, Kepala Kantor Departemen Agama di Batam.

"Kami tidak mengubah apa pun setelah insiden Singapura," kata Jamhur kemudian. "Kami tidak pernah mendukung jihadisme atau terorisme, jadi tidak perlu ada yang diperbaiki."

Pesantren Salafi di Batam. (VOA/K. Varagus)
Pesantren Salafi di Batam. (VOA/K. Varagus)

Pesantren Salafi

Meskipun kontennya garis keras, Radio Hang merepresentasikan Salafisme yang secara sukarela berintegrasi ke dalam kerangka kerja politik Indonesia. Jamhur pernah bekerja di KPI, dan stasiun itu mempertahankan hubungan dengan Zulkifli dan KPI, dan bahkan mengundang Kapolri bulan lalu.

Namun sementara beberapa kelompok Salafi mengambil sikap penyebaran paham, komunitas-komunitas lain melihat ke dalam, memupuk ideologi mereka dengan keluar dari kehidupan sipil biasa. Fenomena ini tampak di Cendana, Batam, lokasi Pesantren Anshur al-Sunnah.

Meskipun daerah itu hanya berjarak 15 menit berkendara dari pusat kota Batam, di mana para turis berpakaian santai di bar-bar pinggir pantai dengan suara musik disko yang mengentak, Cendana sangat sunyi -- gerakan Salafi tidak menyukai musik -- dan hampir semua anak perempuan dan perempuan dewasa memakai burqa hitam atau niqab.

Wildan, seorang laki-laki asal Aceh, memulai pesantren itu pada 2004 setelah belajar lima tahun di Islamic University of Medina di Arab Saudi dengan beasiswa. Ada 150 murid, sebagian besar tinggal di kampus, dan mereka datang dari seluruh Indonesia, Malaysia dan Singapura. Banyak keluarga-keluarga Salafi mencari pesantren sejenis di internet. Kampus kecil ini secara rapi memisahkan ruang perempuan dan laki-laki, dan anak-anak perempuan belajar di ruangan kelas yang sedikit lebih kumuh dan lebih jauh dari jalanan.

Kurikulum pesantren fokus pada Bahasa Arab, al-Quran dan hadits, serta teologi. Beberapa buku pelajaran diimpor dari Arab Saudi, menurut istri Wildan. Zulkifli mengatakan Kementerian Agama mengawasi semua pesantren, dan bahwa mereka harus menegakkan Pancasila.

Salafisme Asia Tenggara

"Salafi di Batam adalah contoh bagus dari jaringan transnasional yang meningkat," ujar Din. Penceramah Radio Hang berkhotbah untuk para pekerja migran di Singapura, Wildan dari Pesantren Anshur al-Sunnah mengajar di Kuala Lumpur dan Jakarta, dan Reihan dari Imam Syafi'i kadang-kadang berbicara di Radio Hang mengenai adab.

Meskipun ada ketegangan-ketegangan politik antara Batam yang ekonominya berasal dari pariwisata dan peningkatan jumlah Salafi, Zulkifli tidak khawatir.

"Ya, mereka tidak toleran, tapi...lalu apa?" ujarnya. "Saat ini, gerakan Salafi ini bisa dikontrol. Kami tidak menganggapnya sebuah persoalan. Semua orang bebas mengekspresikan diri mereka."

Namun para pengamat tidak sepakat dengan dampak Salafisme di Batam, dan di Indonesia. Ekstremisme sedang meningkat di pulau kecil itu. Pada 2016 saja, Kantor Imigrasi Batam menolak 418 permintaan paspor dari orang-orang yang berniat bergabung dengan ISIS.

"Dampak Salafisme jelas terlihat dalam peningkatan Islamisme yang terjadi sejak mundurnya Soeharto," ujar Sunaworto Dema, profesor di UIN Yogyakarta. "Kekuatan pesan radio Salafi terletak pada target pendengar mereka: mahasiswa dan kelas menengah sekuler yang tidak memiliki pendidikan agama. Tradisi-tradisi agama lokal, yang dikecam sebagai bid'ah, sekarang sangat menghadapi tantangan." [hd]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG