Tautan-tautan Akses

Gencatan Senjata di Suriah Kembali Terancam Gagal


Seorang gadis cilik menghadiri demonstrasi anti-Presiden Bashar al-Assad setelah sholat Jumat (20/4), di Talbiseh, dekat Homs.

Seorang gadis cilik menghadiri demonstrasi anti-Presiden Bashar al-Assad setelah sholat Jumat (20/4), di Talbiseh, dekat Homs.

Pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah demonstran dan menghantam kubu-kubu oposisi, sementara pemerintah menyalahkan pemberontak atas sebuah ledakan mematikan

Pasukan pemerintah Suriah hari Jum’at menghantam sedikitnya tiga distrik di kota Homs yang bergolak, meskipun gencatan senjata sudah ada gencata senjata selama delapan hari. Tank-tank dan kendaraan lapis baja yang membawa personil militer pemerintah Suriah juga dilaporkan menyerbu salah satu kompleks pemukiman di kota Daraa dan mengepung sebuah kota di selatan Homs.

Aktivis oposisi Hani Abdallah memberitahu saluran televisi Arab bahwa situasi di dalam kota Homs sangat mengenaskan, karena bahan pangan, air bersih dan pasokan medis mulai habis. Ia mengatakan beberapa orang yang luka-luka kini sakit parah akibat gangrene atau luka-luka yang membusuk karena tidak adanya dokter dan obat-obatan.

Dalam lawatan ke kota Daraa di selatan, Kolonel Ahmed Himiche, ketua tim pemantau PBB yang berasal dari Maroko, berbicara dengan seorang tentara pemberontak, yang memberitahunya bahwa pemerintah tidak mematuhi gencatan senjata.

Seorang tentara pemberontak mengatakan kota Qasri dihantam dengan tembakan artileri dan tidak satu media pun berada disana untuk melaporkannya. Ia menambahkan 60 persen warga menghilang dari salah satu kota.

Laporan-laporan media pemerintah Suriah mengatakan sebuah ledakan menewaskan 10 anggota pasukan keamanan di dekat kawasan Dataran Tinggi Golan. Pemerintah Suriah menyalahkan “teroris bersenjata” atas serangan tersebut.

Meskipun gencatan senjata sudah disetujui, pemerintah Suriah mengatakan pihaknya berhak membalas serangan. Pemimpin pemberontak Mustafa al-Sheikh, yang mengetuai Dewan Militer Tinggi Tentara Pembebasan Suriah, mendesak negara-negara yang bersimpati kepada pemberontak untuk membentuk aliansi militer dengan pemberontak, guna membantu menumbangkan pemerintah Suriah.

Jenderal Mustafa meminta negara-negara asing yang bersahabat dengan kelompok oposisi itu untuk membentuk aliansi militer bersama di luar Dewan Keamanan PBB, guna melakukan serangan terhadap rejim Suriah itu untuk mencegah pertumpahan darah lebih jauh dan memulihkan stabilitas di Suriah.

Gambar amatir ini menunjukkan ledakan diduga terjadi di Homs (foto: dok).

Gambar amatir ini menunjukkan ledakan diduga terjadi di Homs (foto: dok).

Meskipun aksi kekerasan berlangsung, ribuan demonstran kelompok oposisi turun ke jalan-jalan di beberapa kota Suriah. Khattar Abou Diab, dosen Ilmu Politik di Universitas Paris, mengatakan pemerintah Suriah belum mampu menguasai negara itu, dengan demikian menciptakan apa yang kemudian menjadi buntu.

Khattar Abou Diab mengatakan Presiden Bashar Al-Assad kini menggunakan kekuatan, seperti yang dilakukan ayahnya tahun 1982, untuk tetap berkuasa. Ia menambahkan, meskipun mengandalkan dua satuan militer yang setia dan paling berpengaruh di Suriah, Presiden Bashar Al-Assad gagal menundukkan kubu kelompok oposisi di Homs dan kawasan-kawasan lain yang bergolak.

Dewan Keamanan PBB sedang mempertimbangkan rencana yang akan meningkatkan jumlah pemantau internasional di Suriah, dari sekitar 30 menjadi 300 personil.

Ahmad Fawzi, juru bicara PBB, menggambarkan gencaan senjata itu sebagai sesuatu yang “sangat rentan”. Ia menyatakan harapan agar tim pemantau tambahan akan ditempatkan di Suriah segera.
XS
SM
MD
LG