Tautan-tautan Akses

Gempa Kuat Kembali Guncang Nepal, Sedikitnya 41 Tewas

  • Associated Press

Anak-anak Nepal menutup hidung akibat bau jenazah korban gempa saat melewati puing-puing di Chautara, 80 kilometer dari ibukota Kathmandu (foto: dok). Nepal kembali diguncang gempa Selasa (12/5) sore.

Anak-anak Nepal menutup hidung akibat bau jenazah korban gempa saat melewati puing-puing di Chautara, 80 kilometer dari ibukota Kathmandu (foto: dok). Nepal kembali diguncang gempa Selasa (12/5) sore.

Gempa kuat 7,3 skala Richter kembali melanda Nepal pada Selasa (12/5) sore, sehingga menewaskan sedikitnya 41 orang.

Gempa kuat melanda Nepal pada Selasa sore, sehingga menewaskan sedikitnya 41 orang, sementara negara itu masih berjuang untuk mengatasi dampak gempa dahsyat yang terjadi kurang dari tiga pekan silam.

Kementerian dalam negeri Nepal juga melaporkan lebih dari 1.100 orang luka-luka.

Survei Geologi Amerika menyatakan gempa berkekuatan 7,3 skala Richter itu berpusat sekitar 80 kilometer sebelah timur ibukota Kathmandu.

Enam gempa susulan yang kuat dilaporkan terjadi tidak lama setelah gempa itu, yang getarannya dirasakan di India, di mana sedikitnya empat orang tewas, dan Tibet, di mana satu orang dilaporkan tewas.

Sudarshan Shrestha dari organisasi bantuan internasional Save The Children mengatakan kepada VOA, ia berada di dalam sebuah rumah sakit di Kathmandu sewaktu gempa terjadi. Meskipun bangunan rumah sakit itu tampaknya tidak rusak, ia belakangan melihat beberapa bangunan lain di sekitarnya runtuh.

“Apa yang kami lihat adalah kekacauan dan hiruk pikuk. Seluruh pasien di dalam gedung berlarian keluar, dan mungkin 300 hingga 350 pasien di dalam gedung itu yang berlarian keluar,” ujarnya.

Shrestha mengatakan, pasokan bantuan Save The Children telah disalurkan setelah gempa 25 April yang menewaskan lebih dari 8.000 orang dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, termasuk sebagian di desa-desa yang belum dijangkau kelompok itu. Bencana baru itu serta musim hujan mendatang hanya akan mempersulit pekerjaan mereka.

"Akan sulit untuk memulihkan sumberdaya, dalam arti memenuhi kebutuhan akan bantuan, sementara musim hujan akan berlangsung sekitar empat atau lima minggu lagi, jadi kami harus benar-benar berpikir keras mengenai cara memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Rose Foley dari UNICEF, yang juga berada di Kathmandu pada waktu gempa belakangan terjadi, mengatakan, staf badan anak-anak PBB itu bergegas berlindung di bawah meja sewaktu bangunan mereka berguncang, dan kemudian mereka keluar.

“Duduk di ruang terbuka pada waktu gempa-gempa susulan terjadi membuat saya merasa seperti berada di kapal di laut yang berombak besar,” katanya. Ia menambahkan PBB prihatin mengenai dampak bencana baru ini terhadap anak-anak, yang sekarang ini membutuhkan bantuan.

Episentrum gempa hari Selasa ini terletak sekitar 100 kilometer dari pusat gempa terdahulu, dekat kota Chautara yang terisolasi antara Kathmandu dan Gunung Everest. Beberapa bangunan ambruk, sementara sebuah tim penyelamat telah mulai melakukan pencarian di tengah puing-puing kota kecil tersebut.

Chautara telah menjadi pusat bantuan kemanusiaan setelah gempa pada 25 April yang menewaskan lebih dari 8.150 orang dan melukai lebih dari 17.860 meratakan desa-desa pegunungan dan menghancurkan bangunan.

Gempa pada Selasa lebih dalam, datang dari kedalaman 18,5 kilometer, dibandingkan dengan gempa 25 April dengan kedalaman 15 kilometer. Lebih dangkal pusat gempa, kerusakan di permukaan akan lebih besar.

Dalam waktu satu jam, enam gempa susulan mengguncang daerah itu dengan kekuatan 6,3 SR. Episentrum atau pusat gempa hari Selasa itu berasal dari sekitar 100 kilometer dari pusat gempa skala 7,8 yang menerpa pada tanggal 25 April lalu, menewaskan lebih dari 8.000 orang dan menyebabkan ribuan lainnya tunawisma.

Instansi pemerintah dan badan-badan bantuan lainnya telah berjuang menyediakan makanan, air dan tempat berteduh dalam sebuah operasi yang sulit pada hari-hari pertama akibat gempa susulan yang melanda. Kesemua tantangan tersebut ditambah cuaca buruk dan rintangan dalammencapai daerah-daerah terpencil di negara pegunungan Himalaya itu.

Bandar udara internasional di Kathmandu, yang telah menjadi pusat transportasi untuk bantuan internasional, telah ditutup untuk sementara, dan lalu lintas sangat kusut di jalanan Kathmandu.

XS
SM
MD
LG