Tautan-tautan Akses

Ganja: Rekreasional atau Pendorong Performa Olahraga?


Setelah atlet yudo AS dikeluarkan dari Olimpiade karena mengisap ganja, perdebatan muncul mengenai substansi ini. (Foto: AFP)

Setelah atlet yudo AS dikeluarkan dari Olimpiade karena mengisap ganja, perdebatan muncul mengenai substansi ini. (Foto: AFP)

Perdebatan mengenai apakah ganja merupakan substansi peningkat performa berolahraga muncul lagi di Olimpiade 2012.

Dikeluarkannya atlet yudo Amerika Nick Delpopolo dari Olimpiade London 2012 pada Senin (6/8) setelah hasil tesnya positif menunjukkan ia mengkonsumsi mariyuana, mendorong para ilmuwan mempertanyakan logika di balik dimasukkannya substansi tersebut dalam daftar terlarang Badan Anti Doping Dunia (WADA).

Hanya sedikit ahli yang berpendapat bahwa mariyuana, atau ganja, baik dimakan atau dihisap, dapat meningkatkan kecepatan, kekuatan, daya atau presisi yang diinginkan para atlet Olimpiade.

Dan banyak yang berpikir apa tidak lebih baik jika waktu, usaha dan biaya yang dilakukan untuk menguji para atlet dipakai untuk mengejar mereka yang curang dengan mengkonsumsi EPO atau steroid anabolik pop untuk meningkatkan kadar testosteron dan pertumbuhan otot.

“Tidak ada bukti bahwa ganja itu dapat meningkatkan performa dalam olahraga. Dan karena penggunaannya legal di sejumlah negara, tidak ada alasan bagi WADA untuk melarangnya,” ujar David Nutt, profesor neuropsikofarmakologi di Imperial College London.

“Saya tidak bisa menemukan cabang olahraga manapun yang dapat memanfaatkan [ganja]. Sepertinya konyol jika orang bisa secara legal merokok ganja di Amsterdam pada pagi hari lalu datang ke London siangnya untuk dikeluarkan dari kompetisi.”

Inti permasalahannya adalah di mana menarik garis antara obat-obatan pendorong performa, yang menurut para ahli memang harus dilarang dalam olahraga karena membuat pertandingan tidak adil, dan obat-obatan rekreasional seperti mariyuana, yang tidak dapat meningkatkan performa namun dapat memberi citra buruk pada olahraga.

Ilmiah atau Politis?

Meski secara umum ganja dianggap tidak akan memberi manfaat bagi atlet dalam olahraga berkecepatan tinggi, beberapa ahli berpendapat ganja bisa membantu dalam olahraga seperti menembak atau golf yang memerlukan tangan yang stabil.

Peraturan WADA menyatakan hukuman skors dua tahun bagi para atlet yang sistem tubuhnya mengandung ganja selama kompetisi.

Namun badan anti doping tersebut tidak memberikan sanksi bagi mereka yang hasil tesnya positif mengandung mariyuana di luar waktu kompetisi, saat kamp pelatihan atau selama istirahat.

Para ilmuwan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan standar ganda dan bahwa larangan ganja dari WADA lebih bersifat politis daripada ilmiah.

“Masalahnya adalah para atlet elit seharusnya dilihat sebagai panutan anak-anak, jadi mereka melarang ganja karena tidak ingin ada citra pemenang medali emas yang merokok mariyuana,” ujar seorang ilmuwan olahraga Inggris yang menolak disebut namanya.

Foto juara renang AS Michael Phelps mengisap mariyuana dari pipa kaca pada 2009 mengundang kritikan dari Komite Olimpiade AS.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan tak lama setelah gambar itu diterbitkan tabloid Inggris, Phelps mengaku mengisap ganja dan meminta maaf atas apa yang ia sebut “penilaian yang salah.” Ia tidak mendapat skors karena sedang tidak berkompetisi.

Para pakar mengatakan bahwa debat tersebut, dan juga yang menimpa Delpopolo yang mengatakan ia tidak sengaja makan kue coklat berisi ganja, jauh lebih menyangkut citra olahraga dibanding kecurangan.

“Sulit membayangkan bagaimana merokok ganja atau makan kue coklat berisi mariyuana dapat membantu seseorang melakukan yudo,” ujar Michael Joyner, anggota Masyarakat Fisiologi dan peneliti di Mayo Clinic, Minnesota di AS.

“Saran saya untuk WADA adalah supaya fokus pada obat-obatan yang jelas-jelas meningkatkan performa olahraga,” katanya.

Masalah Sensitif

Beberapa badan olahraga nasional juga melawan sikap WADA. Koalisi Profesional dan Partisipasi Olahraga dari Australia pada bulan Mei meminta mariyuana dihapus dari daftar karena tidak sama jenisnya dengan obat-obatan peningkatan performa seperti hormon pertumbuhan manusia dan steroid.

Substansi-substansi yang masuk dalam daftar terlarang oleh WADA harus memenuhi kriteria berikut: Terbukti sebagai peningkat performa, berbahaya terhadap kesehatan atlet, atau berlawanan dengan semangat olahraga.

Meski ada beberapa indikasi bahwa mariyuana dapat meningkatkan performa berolahraga, bukti menunjukkan bahwa ia menghasilkan dampak negatif.
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa THC, zat dalam ganja yang dapat membuat mabuk meningkatkan tekanan darah dan degup jantung serta menurunkan volume pukulan jantung, sehingga mengurangi performa puncak.

Ganja juga dapat memperlambat waktu reaksi, menyebabkan masalah koordinasi, mengurangi koordinasi mata dan tangan, serta mempengaruhi persepsi visual/
Pihak yang berwenang mengenai anti doping sendiri tidak berkenan memberi komentar.

Presiden WADA John Fahey mengisyaratkan pada bulan Mei bahwa badan tersebut mungkin akan mengubah kriteria bagi ganja sebagai substansi terlarang untuk atlet, namun keputusan tersebut sepertinya tidak akan keluar tahun ini. (Reuters/Kate Kelland)
XS
SM
MD
LG