Tautan-tautan Akses

Gamelan Venerable Showers of Beauty dari Oregon, AS


"Venerable Showers of Beauty" atau gamelan "Kyai Guntur Sari" dalam bahasa Jawa adalah kelompok pemain instrumen gamelan yang ada di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Komunitas ini terbentuk di tahun 1980 dan beranggotakan hampir seluruhnya warga Amerika. Kelompok ini biasa berlatih di kampus "Lewis and Clark College" di mana anggotanya terdiri dari mahasiswa dan alumni Lewis & Clark serta warga dan komunitas setempat.

"Di kelompok ini ada orang-orang yang sudah bermain gamelan satu atau dua bulan, ada juga yang sudah main lebih dari 20 tahun. Ada juga orang-orang yang memiliki latar belakang instrumen yang berbeda dan tidak pernah memainkan gamelan sebelumnya," ujar Mindy Johnston selaku direktur Gamelan "Venerable Showers of Beauty" kepada VOA Indonesia.

Mindy menyebut, dirinya mulai mengenal gamelan Jawa sejak tahun 1993 dan dirinya sudah memiliki pengetahuan yang cukup mendalam atas gamelan.

"Saya tiba-tiba saja jatuh cinta pada gamelan dan kebetulan Lewis & Clark College memiliki program ke Indonesia, jadi saya sangat beruntung karena bisa pergi ke sana. Setelah lulus, saya mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan akhirnya, saya tinggal selama empat tahun di Solo," ujar Mindy.

Mindy, yang juga banyak belajar dari Midiyato, seniman senior pendiri Gamelan Jawa "Sari Raras" di Universitas California, Berkeley, lewat keahliannya bermain gamelan mampu membuat warga Amerika tertarik mempelajari gamelan.

"Jadi untuk orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang gamelan sebelumnya biasanya mereka sangat tertarik untuk mencoba. Pokoknya gamelan selalu mendapat sambutan yang baik karena banyak yang penasaran. Jadi gamelan itu seperti pintu gerbang untuk tahu lebih banyak tentang Indonesia dan bagaimana alat musik ini digunakan," sambung Mindy.

Sedangkan Deniz Kihtir, anggota gamelan "Venerable Showers of Beauty" menyebut bahwa dirinya sangat menyukai kelas gamelan yang diambilnya dan berencana melanjutkan kelas gamelannya di semester selanjutnya.

"Saya sangat terkejut dan senang ketika mengambil kelas gamelan ini semester lalu, dan saya akan mengambil kelas ini lagi untuk semester depan," sebut Denis.

Sedangkan satu-satunya diaspora Indonesia yang menjadi anggota "Venerable showers of Beauty", Priska Hillis mengaku dirinya baru pertama kali mempelajari cara bermain gamelan Jawa lewat Mindy.

"Saya bangga musik tradisional Indonesia itu betul-betul jadi kesukaan orang asing, malah sampai jauh-jauh belajar, malam-malam belajar, sedangkan banyak orang kita sendiri yang kadang gak peduli, tapi kayaknya kalau kita sudah jauh dari negeri sendiri itu baru perasaan tergerak untuk belajar itu ada, itu saya tapi gak tau yang lain," sebut Priska.

Para anggota gamelan "Venerable Showers of Beauty" ini memang bangga memainkan instrumen gamelan yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini. Gamelanpun sering dimainkan di berbagai ajang pentas budaya untuk memperkenalkan Indonesia, khususnya musik tradisional. [hi/dw]

XS
SM
MD
LG