Tautan-tautan Akses

Gadis Belia Rawan Tertular HIV di Malawi


Unjuk rasa untuk meningkatkan kesadaran akan HIV/AIDS di desa Njoloma, Malawi (foto: dok).

Unjuk rasa untuk meningkatkan kesadaran akan HIV/AIDS di desa Njoloma, Malawi (foto: dok).

Survei di Malawi menunjukkan bahwa 20 persen dari gadis-gadis belia di sana menjadi aktif secara seksual sebelum usia 13 tahun.

Di Malawi, hampir sepertiga penderita baru HIV terjadi pada perempuan di bawah usia 30. Pendukung kampanye penanggulangan AIDS mengatakan ini sebagian adalah akibat dari pengenalan dini pada gadis-gadis belia ke aktivitas seksual dalam upacara tradisional memasuki masa ramaja.

Survei demografi dan kesehatan Malawi menunjukkan bahwa 20 persen dari gadis-gadis belia di negara Afrika Selatan menjadi aktif secara seksual sebelum usia 13 tahun dan banyak dari mereka melakukannya dengan pengetahuan yang terbatas akan seks yang aman.

Para pendukung pemberantasan AIDS menyalahkan hal ini pada budaya dan praktek-praktek tradisional di mana anak-anak gadis dikirim ke kamp-kamp khusus inisiasi, dan mereka terkadang dianjurkan untuk melakukan hubungan seks sebagai bagian dari upacara memasuki masa dewasa.

Kepala Suku Chowe adalah pemimpin tradisional senior di distrik Mangochi di Malawi Selatan di mana praktek tersebut banyak dilakukan.

Chowe mengatakan praktek tersebut menyebabkan gadis-gadis itu berisiko tinggi terhadap penularan HIV karena orang-orang yang berhubungan seks dengan mereka biasanya lebih tua yang juga tidur dengan sejumlah anak gadis di kamp itu.

Jaringan Pemberdayaan remaja Putri, Genet, adalah sebuah LSM lokal di Malawi yang bekerja untuk mencegah anak-anak perempuan terlibat dalam aktivitas seksual pada usia muda.

Penasihat Komunikasi Joyce Mkandawire mengatakan bahaya lain dari praktik tradisional tersebut adalah gadis-gadis itu menjadi kecanduan seks.

"Jadi, ketika gadis-gadis itu diperkenalkan pada hubungan seks untuk pertama kalinya, seusai upacara inisiasi mereka kembali melakukan hal itu sendiri karena mereka telah melakukannya selama kamp inisiasi,” katanya.

Mkandawire mengatakan sebagai akibatnya, sebagian besar perempuan itu hamil dan putus sekolah.

Kepala suku Chowe dan Mkandawire mengatakan intervensi sedang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah terkait aktivitas seks di kalangan remaja putri.

Chowe mengatakan dia telah mengajar para konselor di inisiasi kamp tentang bahaya mendorong anak-anak perempuan berhubungan seksual dini.
Dia mengatakan bersama dengan para pemimpin tradisional lainnya di wilayah itu, ia telah membuat peraturan yang bertujuan untuk mengekang aktivitas seksual di kalangan anak perempuan.

“Sebagai pemimpin tradisional di Mangochi kami telah merancang peraturan yang mengharuskan semua anak usia sekolah pergi ke sekolah dan jika mereka hamil, kami akan mendenda pelakunya. Orang tua diminta untuk membayar dengan seekor kambing jika anaknya hamil saat bersekolah,” ujar Chowe.

Mkandawire mengatakan organisasinya mengupayakan perubahan pada kamp-kamp inisiasi.

"Kami berusaha untuk mengubah silabus kamp-kamp inisiasi. Sebenarnya kami ingin mengganti upacara inisiasi dengan kamp musim panas dimana para remaja dianjurkan untuk berperilaku seperti remaja, dan mereka didorong agar tetap bersekolah, dan tidak diperkenalkan pada kehidupan perempuan dewasa,” papar Mkandawire.


Unit koordinasi penanggulangan HIV Pemerintah Malawi, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, mengatakan mereka mendukung beberapa inisiatif yang berusaha mengubah praktik-praktik tradisional yang mengarah pada pemularan HIV di kalangan remaja putri.

Pemerintah Malawi saat ini melaksanakan Strategi Penanggulangan HIV/AIDS Nasional lima tahun yang diluncurkan pada 2012. Strategi itu juga menyediakan pendidikan ketrampilan untuk remaja putri agar mereka memahami hak-hak mereka dan bisa memberdayakan diri.

(Lameck Masina/VOA).

XS
SM
MD
LG