Tautan-tautan Akses

'Friends of Syria' Adakan Pertemuan Kedua di Turki


Menlu AS Hillary Clinton memberikan keterangan pers usai pertemuan 'Friends of Syria' di Tunis, Februari lalu (foto: dok).

Menlu AS Hillary Clinton memberikan keterangan pers usai pertemuan 'Friends of Syria' di Tunis, Februari lalu (foto: dok).

Utusan tingkat tinggi dari puluhan negara pendukung kelompok oposisi Suriah akan bertemu di Istanbul, Turki hari Minggu untuk pertemuan kedua.

Ketika sekutu kelompok oposisi Suriah bertemu di Istanbul, mereka akan mencari gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang ingin dilakukan oposisi jika mereka mengambil alih kekuasaan.

Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton mengatakan, penting bagi warga Suriah untuk bersatu dalam mendukung perubahan politik.

“Mereka harus tampil ke depan dengan posisi bersatu, dengan satu visi, Suriah macam apa yang ingin mereka bangun. Mereka harus bisa menunjukkan dengan jelas sebuah kebulatan tekad mengikutkan dan melindungi semua warga Suriah,” ujarnya.

Dewan Nasional Suriah (SNC) adalah kelompok oposisi terbesar yang muncul akibat penumpasan pemerintah selama setahun ini terhadap para demonstran.

Juru bicara SNC, George Sabra, mengatakan bahwa pemerintahan baru nanti akan mewakili semua pihak di Suriah. Presiden Suriah akan dipilih secara bebas, apakah oleh parlemen atau rakyat. Pemerintahan terpilih itu menjamin sistem hukum yang independen serta hak individu dan kelompok.

Analis politik Timur Tengah Steve Heydemann mengatakan keragaman kelompok oposisi Suriah memperumit kesepakatan mengenai strategi bersama, khususnya di tengah konflik bersenjata.

“Dalam kelompok oposisi Suriah ada sejumlah besar kelompok dengan prioritas dan agenda yang sangat berbeda. Jadi membuat mereka bersatu di bawah satu payung seperti Dewan Nasional Suriah dan berharap mereka bisa dengan mudah atau cepat menentukan tujuan yang ingin dicapai, mungkin agak kurang realistik,” paparnya.

Karena pasukan pemerintah memukul mundur kelompok oposisi, kelompok Sekutu-sekutu Suriah mendesakkan kerjasama yang lebih erat antara para pemimpin demonstrasi dan militer yang mendukung pemberontakan agar menarik pihak yang pesimistis berpihak kepada mereka.

Lebih jauh Heydemann mengatakan, “Saya rasa masyarakat internasional khawatir kelompok oposisi agak pesimistis dengan seperti apa masa depan Suriah. Ketidakpastian itu membuat banyak warga Suriah menyisih. Warga yang mungkin mendukung kelompok oposisi adalah mereka yang yakin dengan apa arti Suriah pasca-Assad bagi mereka.”

Amerika dan Turki sedang mempertimbangkan bantuan non-militer bagi pemberontak itu dengan harapan bisa membangun semangat bagi para penentang Presiden Assad selagi utusan PBB dan Liga Arab Kofi Annan mendesakkan usul perdamaian yang disetujui Rusia untuk melakukan gencatan senjata dan pemberian bantuan kemanusiaan.

Pemerintah Suriah minggu ini menerima usul Annan. Tetapi para diplomat Barat dan kelompok oposisi Suriah pesimistis mengenai usul yang tidak menghimbau agar Assad meninggalkan kekuasaan.
XS
SM
MD
LG