Tautan-tautan Akses

Temuan Fosil Baru Mungkin Tuntaskan Debat Soal 'Hobbit' di Flores


Penggalian arkeologis di Flores, tempat ditemukannya fosil Homo floresiensis.

Penggalian arkeologis di Flores, tempat ditemukannya fosil Homo floresiensis.

Fosil-fosil berusia 700.000 tahun itu menghapus klaim dari beberapa ilmuwan bahwa Hobbit merupakan anggota spesies kita dengan kondisi medis yang membuatnya berukuran kecil.

Fosil-fosil yang ditemukan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mungkin dapat menuntaskan salah satu misteri dalam ilmu antropologi, yakni keturunan spesies manusia pendek yang luar biasa yang disebut "Hobbit."

Para ilmuwan, Rabu (8/6), menggambarkan potongan tulang dan gigi berusia sekitar 700.000 tahun yang ditemukan di sebuah dasar sungai purba, yang tampaknya milik spesies Hobbit yang telah punah. Spesies ini sebelumnya dikenal hanya dari fosil-fosil dan alat batu dari sebuah gua Flores dengan usia berkisar 190.000 sampai 50.000 tahun.

Spesies tersebut, disebut Homo floresiensis, memiliki tinggi sekitar 106 sentimeter, dengan otak kecil seperti simpanse.

Fosil-fosil baru ini "dengan kuat mengindikasikan" bahwa Hobbit berevolusi dari spesies manusia Homo erectus berbadan dan berotak besar yang hidup di Asia dan telah punah, ujar paleontropolog Yousuke Kaifu dari Museum Alam dan Ilmu Pengetahuan Nasional di Tokyo.

Homo erectus, yang pertama kali muncul di Afrika sekitar 1,9 juta tahun yang lampau, dikenal dari sejumlah fosil berusia 1,5 juta sampai 150.000 tahun dari Jawa, dan fosil-fosil baru dari Flores itu memiliki kesamaan dengan mereka, ujar paleontolog Gerrit van den Bergh dari University of Wollongong di Australia.

Fosil-fosil itu termasuk empat gigi orang dewasa dan dua gigi bayi, sepotong tulang rahang dan pecahan tengkorak dari dua anak-anak dan satu atau dua orang dewasa yang mungkin tewas dalam letusan gunung berapi. Mereka ditemukan dalam penggalian di padang rumput sekitar 70 kilometer dari gua tempat tulang-tulang Hobbit pertama ditemukan tahun 2003.

Tengkorak spesies Homo floresiensis berusia 18.000 tahun (kiri) disandingkan dengan tengkorak manusia normal pada konferensi pers di Yogyakarta, 2004.

Tengkorak spesies Homo floresiensis berusia 18.000 tahun (kiri) disandingkan dengan tengkorak manusia normal pada konferensi pers di Yogyakarta, 2004.

Ukuran tulang rahang mengindikasikan bahwa individu itu bahkan sedikit lebih kecil dibandingkan yang ditemukan di gua.

Alat-alat batu yang sebelumnya ditemukan menunjukkan bahwa nenek moyang Hobbit yang berbadan besar mencapai Flores sejuta tahun yang lalu, mengindikasikan spesies tersebut menciut selama evolusi 300.000 tahun.

"Sekarang tampaknya terlihat bahwa 'Hobbit' Flores adalah benar Homo erectus yang memendek," ujar arkeolog Adam Brumm dari Griffith University di Australia.

Riset itu diterbitkan dalam jurnal Nature.

Pengurangan ukuran yang terjadi dalam banyak generasi spesies mamalia yang lebih besar, seperti gajah, yang entah bagaimana mencapai habitat pulau yang baru disebut "aturan pulau," didorong oleh terbatasnya sumber daya makanan di pulau-pulau tersebut.

​Brumm mengatakan fosil-fosil berusia 700.000 tahun itu menghapus klaim dari beberapa ilmuwan bahwa Hobbit merupakan anggota spesies kita dengan kondisi medis yang membuatnya berukuran kecil. Homo sapiens pertama kali muncul di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu.

Karakteristik dari fosil-fosil tersebut juga tidak mendukung ide bahwa Hobbit berevolusi dari manusia yang lebih purba seperti Homo habilis atau Australopithecus, menurut para peneliti. [hd]

XS
SM
MD
LG