Tautan-tautan Akses

Film 'The Look of Silence' Soroti Penyintas Peristiwa Pembunuhan Massal 1965

  • Carolyn Weaver

Film dokumenter 'The Look of Silence,' keluarga korban pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965, mencari jawaban atas kejadian tersebut (Foto: dok/screengrab).

Film dokumenter 'The Look of Silence,' keluarga korban pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965, mencari jawaban atas kejadian tersebut (Foto: dok/screengrab).

Film Joshua Oppenheimer tahun 2012 yang berjudul "The Act of Killing" menyoroti kejadian pasca pembantaian massal para anggota PKI, aktivis, etnis Tionghoa, dan lainnya di Indonesia pada tahun 1965 dan 1966.

Dua film dokumenter mengenai pembantaian massal di Indonesia 50 tahun lalu mendorong seruan agar dilakukannya perubahan di negara itu dan supaya AS meminta maaf atas perannya dalam mendukung pertumpahan darah itu.

Wartawan VOA Carolyn Weaver melaporkan tentang "The Act of Killing" dan "The Look of Silence", keduanya dibuat oleh sineas AS Josh Oppenheimer.

Film Joshua Oppenheimer tahun 2012 yang berjudul "The Act of Killing" menyoroti kejadian pasca pembantaian massal para anggota PKI, aktivis, etnis Tionghoa, dan lainnya di Indonesia pada tahun 1965 dan 1966.

“Terjadi kudeta militer sayap kanan, dimana pemerintahan Sukarno digulingkan. Ini didukung oleh sebagian besar dunia Barat, termasuk AS, dan akibatnya, antara setengah sampai 2.5 juta orang tewas dalam kurang dari enam bulan,” kata Josh Oppenheimer.

Bahkan kini, 16 tahun setelah berakhirnya kediktatoran militer Indonesia, para algojo dan antek-anteknya tetap berkuasa dan dihormati. Ke-40 pembunuh yang diwawancarai Oppenheimer mengaku bangga melakukan pembunuhan itu. Di antaranya adalah seorang penggemar film Hollywood yang latihan berbulan-bulan untuk melakukan reka ulang adegan pembunuhan itu di depan kamera.

"Act of Killing" meraih nominasi Oscar 2014. Oppenheimer kemudian merilis dokumenter "The Look of Silence", yang memusatkan perhatian pada para penyintas, khususnya seorang ahli kacamata bernama Adi. Kakaknya, Ramli, dibunuh oleh paramiliter yang beranggotakan beberapa guru Sekolah Dasar setempat. Salah seorang adik lainnya mendengar mereka merencanakan pembunuhan itu:

“Pada waktu istirahat makan siang di sekolah, dia mendengar gurunya berkata ‘malam ini kami akan membunuh Ramli.’ Dan dia pulang malam itu dan memberitahu ibunya. Ramli benar-benar dibunuh malam itu. Keesokan harinya, ibunya tetap mengantar anak-anak lainnya ke sekolah untuk diajar oleh para pembunuh puteranya,” lanjutnya.

Beberapa dasawarsa kemudian, para keluarga korban masih dicap dengan stigma dan dilarang bekerja pada banyak bidang. Bahkan kini, anak-anak sekolah diajarkan bahwa pembunuhan itu perlu dilakukan.

“Pelajaran sejarah tidak membicarakan kejadian itu sebagai genosida, namun pembantaian yang heroik, dan yang diajarkan adalah bahwa para korban pantas menerimanya,” imbuh Josh Oppenheimer.

Para penyintas tetap diam dan khawatir tetapi itu mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir, ketika jutaan warga Indonesia menonton "The Act of Killing" dengan mengunduhnya secara gratis. Untuk pertama kalinya, Oppenheimer mengatakan, beberapa media besar dan pejabat pemerintah di negara itu menyebut pembunuhan itu sebagai genosida meskipun berbagai upaya untuk membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi sejauh ini gagal.

Di Washington, Senator Tom Udall telah memperkenalkan sebuah resolusi yang menyerukan AS untuk mengungkap semua dokumen terkait dukungan AS bagi kudeta militer dan rezim genosida di Indonesia. (vm/ii)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG