Tautan-tautan Akses

Film 'Elysium' Soroti Isu Segregasi Sosial

  • Penelope Poulou

Aktor Matt Damon dalam film fiksi ilmiah "Elysium".

Aktor Matt Damon dalam film fiksi ilmiah "Elysium".

Film ini adalah sebuah alegori tentang berbagai masalah saat ini, seperti kemiskinan, imigrasi, keamanan negara, kurangnya layanan kesehatan universal dan pencemaran.

Sineas Afrika Selatan Neil Blomkamp kembali muncul dengan film fiksi ilmiah terbarunya “Elysium”. Seperti drama futuristik Blomkamp sebelumnya, “District 9,” “Elysium” menyoroti isu segregasi sosial di masa depan.

Pada tahun 2154, dunia terbagi dua antara orang kaya dan orang miskin. Orang yang terpinggirkan mendiami Bumi yang tercemar, padat penduduk, sementara yang kaya telah bermigrasi ke Elysium, sebuah tempat di antariksa di mana tidak ada kemiskinan atau penyakit.

Cerita film ini berpusat pada Max (Matt Damon). Setelah melanggar hukum berkali-kali, ia berupaya memperbaiki hidupnya di Bumi. Dia berhasil mendapat pekerjaan di sebuah pabrik, namun di sana dia terpapar radiasi.

Penyakit Max semakin parah dan dia divonis usianya hanya tinggal lima hari lagi, kecuali jika dia bisa ke Elysium, tempat impiannya.

“Semua yang membuat kehidupan lebih baik, semua yang dihasilkan bumi, semua bantuan medis, teknologi, kesejahteraan, standar kehidupan dan umur yang panjang… semuanya ada di Elysium,” ujar Blomkamp.

Tapi Elysium tidak bisa dimasuki orang asing, termasuk penduduk Bumi seperti Max.

Selain Damon, ada aktris Jodie Foster yang memerankan Madame Delacourt, pejabat Elysium yang tidak pantang menyerah menegakkan undang-undang anti-imigrasi untuk melindungi lingkungannya.

Film arahan Neil Blomkamp ini adalah sebuah alegori tentang berbagai masalah sekarang ini, seperti kemiskinan dan imigrasi, keamanan negara, kurangnya layanan kesehatan universal, dan pencemaran planet bumi.
XS
SM
MD
LG