Tautan-tautan Akses

Film "DRY" Karya Sineas Indonesia Raih Penghargaan di Festival Film International


Film "DRY" produksi sineas Indonesia, Jane Lawalata, di Los Angeles, California (dok: Next Page Productions)

Film "DRY" produksi sineas Indonesia, Jane Lawalata, di Los Angeles, California (dok: Next Page Productions)

Film produksi sineas Indonesia, Jane Lawalata di Los Angeles, California yang berjudul “DRY” banyak memperoleh penghargaan di berbagai ajang festival film internasional. Film ini mengetengahkan topik mengenai pernikahan dini dan fistula yang mempengaruhi kesehatan reproduksi pada perempuan.

Film produksi sineas Indonesia, Jane Lawalata di Los Angeles, California yang berjudul “DRY” belum lama ini mendapatkan penghargaan Programmers’ Award Narrative Feature di ajang Pan African Film festival 2016, setelah sebelumnya juga banyak menang di berbagai ajang festival film internasional lainnya, seperti Africa Magic Viewers Choice Awards 2016 dan Zulu African Film Academy Awards 2015.

“Ceritanya ini lebih tentang human rights, untuk membela hak perempuan, anak-anak khususnya, dari pernikahan dini,” papar Jane Lawalata saat ditemui oleh VOA Indonesia belum lama ini di Los Angeles.

Film yang mengambil lokasi syuting di Nigeria dan Inggris ini menyoroti kasus pernikahan dini dan fistula vagina atau lubang obstetri yang banyak diderita oleh para perempuan muda bahkan di bawah umur di Afrika, khususnya Nigeria.

Fistula vagina merupakan kondisi medis yang menyebabkan adanya fistula atau lubang di antara kandung kemih dan vagina. Hal ini bisa disebabkan oleh hubungan seksual di masa dini atau melahirkan pada usia muda di mana organ belum berkembang sepenuhnya.

Sineas Indonesia, Jane Lawalata, saat berkunjung ke Washington, DC (dok: Jane Lawalata)

Sineas Indonesia, Jane Lawalata, saat berkunjung ke Washington, DC (dok: Jane Lawalata)

“Untuk berhubungan seksual kebanyakan (perempuan di bawah umur) dipaksa, jadi secara tidak langsung anak-anak ini di perkosa karena usia yang masih dini dan belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual. Itulah yang menyebabkan ada yang sobek di bagian organ itu,” jelas Jane.

Faktor kemiskinan juga minimnya pendidikan bagi para penduduk menengah ke bawah yang hidup di perkampungan Afrika menurut Jane juga menjadi pemicu kurangnya pemahaman mengenai kondisi fistula tersebut. Bukan hanya itu saja, kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses berobat ke rumah sakit.

“Orang tua pun enggak tau bahwa fistula itu bisa diobati, bisa disembuhkan. Jadi korbannya sampai sekarang masih terhitung banyak,” papar perempuan yang juga pernah menjadi sutradara untuk film komedi bertajuk "Chatterbox" ini.

Pada akhirnya kondisi fistula vagina ini menimbulkan isu sosial, di mana para perempuan yang menderita penyakit tersebut tidak dioperasi, melainkan dikucilkan atau bahkan dibuang oleh keluarga dan suami.

“Intinya juga adalah pendidikan. Kita mau anak-anak muda diberi pendidikan. Kalau menurut filmnya, di Afrika itu kan penduduk menengah ke bawah kadang-kadang enggak punya pendidikan. Jadi selain untuk hak asasi perempuan juga untuk pendidikan,” kata Jane.

Selain berhasil meraih penghargaan di Pan African Film Festival di Los Angeles, film “DRY” juga berhasil menang di ajang Bentonville Film Festival 2015 di Arkansas, AS, di mana aktris utama sekaligus produser dan penulis skenario, Stephanie Linus, berhasil menang di kategori Best Protagonist atau tokoh protagonist terbaik. Film berbiaya kurang lebih 250 ribu dolar AS ini juga berhasil lolos dalam official selection atau seleksi resmi untuk diputar di ajang Toronto Black Film Festival 2016, Miami Woman international Film Festival, St. Louis International Film Festival 2015, dan Montreal Black Film Festival 2015.

“Di Afrika kalau saya enggak salah kita sudah dapat lima atau enam (penghargaan) termasuk best supporting actress (untuk karakter) Halimah, kita dapat (penghargaan) best cinematographer, best social message, dan kita bulan Maret kita masuk 11 nominasi kategori,” kata perempuan yang sudah menetap di Amerika Serikat sejak tahun 2006 ini.

Sebagai ko-produser dan editor, Jane berharap akan semakin banyak lagi orang yang menonton film ini agar bisa membuka pandangan mereka. Jane mengatakan berangkat dari keberhasilan film “DRY” di berbagai ajang festival film internasional ternyata berhasil membuka diskusi dan dampak yang positif.

“Film ini membuat orang terbuka, mulai berpikir bahwa ‘oh, enggak boleh,’ kita harus kasih kesempatan buat anak-anak ini. Mereka enggak boleh kawin muda. Kita harus biarkan anak-anak ini bertumbuh,” ujar pecinta olah raga golf ini.

Stephanie Linus sendiri juga pernah diundang untuk berbicara di depan pemerintah Nigeria untuk menyuarakan pendapatnya tentang kekerasan dan pernikahan dini.

Saat ini film “DRY” tengah diputar di beberapa negara di Afrika. Jane berharap film ini juga bisa diputar kelak di Indonesia.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG