Tautan-tautan Akses

Film Dokumenter Perkosaan BBC Ditonton Warga India Lewat Internet


FILE - Siswa India memegang poster dan meneriakkan slogan dalam sebuah protes untuk meningkatkan kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan di Mumbai, 10 Desember 2014.

FILE - Siswa India memegang poster dan meneriakkan slogan dalam sebuah protes untuk meningkatkan kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan di Mumbai, 10 Desember 2014.

Meski India telah melarang pemutaran film dokumenter kontroversial BBC tentang pemerkosaan di New Delhi tahun 2012, film itu telah disaksikan oleh puluhan ribu warga di India melalui internet.

Di New Delhi, Aditi Sengupta yang berusia 35 tahun awalnya setuju dengan kritik terhadap film dokumenter BBC “India’s Daughter” yang dikecam karena memberi kesempatan kepada pemerkosa yang terbukti bersalah dalam pemerkosaan kejam dua tahun lalu terhadap seorang mahasiswa fisioterapi berusia 23 tahun.

Sengupta kemungkinan tidak menonton film itu, tetapi keingintahuannya semakin besar oleh larangan pemerintah dan perdebatan sengit yang menyusul. Setelah menontonnya di internet, pandangan Sengupta berubah.

“Saya kaget dengan pola pikir yang digambarkan. Saya berpendapat film dokumenter itu seharusnya dirilis untuk orang lain, tidak sekedar pemerkosa. Saya lebih terkejut lagi melihat pola pikir pengacara,” katanya.

Mukesh Singh, salah satu laki-laki yang terlibat dalam perkosaan massal itu, mengatakan, korban adalah satu-satunya pihak yang harus dipersalahkan atas terjadinya insiden pemerkosan itu karena ia bepergian pada malam hari. Singh juga mengatakan pemukulan brutal yang menimbulkan kematian korban juga tidak akan terjadi jika korban bersikap pasrah dan tidak melawan. Dua pengacara bagi empat pemerkosa dalam kasus itu juga menyampaikan sentimen serupa.

Salah satu di antaranya adalah AK Singh, yang mengatakan ia akan membakar putrinya yang belum menikah jika bertingkah laku tidak sepantasnya. Lainnya mengatakan dalam masyarakat India, tidak ada tempat bagi perempuan.

Pemerintah yang melarang film itu demi keadilan dan ketertiban umum, mengatakan film dokumenter itu bisa menimbulkan ketakutan dan ketegangan. Ditambahkan, insiden keji itu seharusnya tidak dieksploitasi demi tujuan komersil, tuduhan yang dibantah para pembuat film.

Tetapi dalam era internet, larangan itu sia-sia. Meskipun YouTube dan para pengambil kebijakan pemerintah telah bergegas mencabut link film tersebut, beberapa video dengan judul baru yang diambil dari film itu dan link film itu tersebar luas secara bebas. Seperti Sengupta, puluhan ribu orang di India telah menonton film itu melalui internet.

Para penonton telah bertubi-tubi menyampaikan tanggapan mereka melalui media sosial, terutama perempuan-perempuan yang marah dan mengutuk sikap patriarki dalam masyarakat India.

Dan meski tadinya perhatian dipusatkan pada pernyataan pelaku perkosaan, Mukesh Singh, yang digunakan untuk mempromosikan film dokumenter itu, kemarahan masyarakat kini beralih kepada kedua pengacara pemerkosa.

Aktivis-aktivis perempuan dan sosiolog menyatakan secara terbuka bahwa jika pelaku perkosaan merupakan penjahat yang berasal dari latar belakang yang miskin, kedua pengacara itu justru berasal dari kalangan orang berpendidikan.

Sosiolog Dipankar Gupta di New Delhi mengatakan pernyataan kedua pengacara itu menunjukkan betapa brutal dan kasarnya mereka.

“Pernyataan itu benar-benar menjengkelkan, juga menakutkan mendengar pernyataan-pernyataan mereka. Saya kira, jika film ini disaksikan oleh masyarakat luas, banyak diantara mereka yang mungkin mengenali sisi jahat yang ada dalam diri mereka dan menghancurkannya ketika mereka melihat kedua pengacara ini bicara. Banyak orang tua pelaku pekosaan tidak membela tindakan anak-anak mereka seperti yang dilakukan pengacara-pengacara ini,” kata Gupta.

Kecaman luas itu memicu the Bar Council of India menerbitkan pemberitahuan kepada kedua pengacara itu dan minta mereka menjelaskan mengapa tindakan pendisiplinan tidak perlu diambil terhadap diri mereka.

Demonstrasi besar-besaran terjadi di India setelah tindakan pemerkosaan beramai-ramai pada pertengahan Desember 2012, dan memicu banyak inisiatif untuk mengatasi isu pola pikir patriarki tersebut.

Setelah menonton film “India’s Daughter” itu, Sekjen Federasi Nasional Perempuan India Krishna Mazumdar mengatakan masih banyak yang harus dilakukan. Ia merujuk pada terlalu seringnya tokoh-tokoh masyarakat menyampaikan sentimen serupa bahwa dalam insiden perkosaan, perempuan yang harus lebih dipersalahkan dibanding laki-laki

“Jika sudah banyak hal dilakukan maka kita tidak akan menyaksikan orang berpendidikan seperti pengacara ini mengatakan hal-hal seperti itu. Hal itu menunjukkan ada yang salah pada sistem pendidikandan sosialisasi kita. Jelas bahwa belum banyak yang dilakukan untuk melawan nilai-nilai yang tampaknya sudah melekat dalam masyarakat kita,” kata Mazumdar.

Beberapa aktivis perempuan mendukung larangan film itu tetapi banyak yang juga mengecam pemerintah karena memblokir pemutaran film dokumenter itu.

The Editors Guild of India telah meminta pemerintah untuk mencabut larangan itu dengan menyebutnya sebagai “hal yang tidak beralasan.” Ditambahkan bahwa film itu positif dan sangat menyentuh kebebasan, martabat dan keselamatan perempuan.

Sutradara “India’s Daughter” Leslee Udwin sebelumnya mengatakan India telah melakukan “bunuh diri secara internasional” dengan melarang film itu. Ia mengatakan terinspirasi membuat film itu setelah demonstrasi besar-besaran memprotes perkosaan beramai-ramai tahun 2012 itu dan ia ingin menunjukkan bahwa India kini mulai mengikhtiarkan perubahan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG