Tautan-tautan Akses

Film Dokumenter 'Kingdom of Shadow', Soroti Kekerasan Terkait Narkoba di Meksiko

  • Greg Flakus

Kekerasan terkait narkoba di Mekesiko, diangkat ke layar lebar melalui film dokumentar "Kingdom of Shadow" (Foto: ilustrasi).

Kekerasan terkait narkoba di Mekesiko, diangkat ke layar lebar melalui film dokumentar "Kingdom of Shadow" (Foto: ilustrasi).

"Kingdom of Shadows" yang diputar perdana dalam Festival Film South by Southwest baru-baru ini, mengangkat tentang kekerasan dan kekacauan di Meksiko utara.

Kekerasan terkait narkoba di Meksiko telah menewaskan puluhan ribu orang dalam beberapa tahun ini sementara geng-geng saling bersaing memperebutkan jutaan dolar dengan menyelundupkan ganja, kokain dan narkoba lainnya ke AS.

Tetapi kekerasan dan pergolakan juga merugikan masyarakat, terutama di Meksiko utara dimana kartel-kartel narkoba juga terlibat dalam penculikan, pemerasan dan kejahatan lainnya. Sebuah film dokumenter baru mempelajari situasi itu dari tiga orang dengan sudut pandang berbeda.

"Kingdom of Shadows" yang diputar perdana dalam Festival Film South by Southwest baru-baru ini, mengangkat tentang kekerasan dan kekacauan di Meksiko utara. Film itu disutradarai Bernardo Ruiz, warga negara AS dan Meksiko.

“Film itu memperlihatkan Consuelo Morales, seorang biarawati Katolik dan aktivis HAM di kota Monterey, Meksiko, dan apa yang dilakukannya setiap hari, yaitu menghibur para keluarga yang kehilangan sanak keluarga mereka,” kata Bernardo Ruiz.

“Salah satu tragedi yang paling buruk adalah kehilangan orang tercinta. Meskipun kita belum tahu yang terjadi sebenarnya, kita terus berupaya mencari tahu,” lanjutnya.

Ruiz mengatakan para aktivis HAM seperti Morales teguh menentang sistem keadilan yang korup dan tidak berfungsi di Meksiko.

“Hanya sedikit kejahatan terkait pembunuhan dan penculikan yang berhasil diadili. Jadi akar masalahnya adalah pada sistem peradilan. Apapun yang terjadi turut didorong oleh budaya impunitas,” imbuh Bernardo Ruiz.

Agen pemerintah AS, Oscar Hagelsieb yang pernah menyamar di Meksiko, memberikan sudut pandang berbeda. Dia mengatakan maraknya kekerasan disebabkan oleh kebangkitan Zetas, bekas unit militer Meksiko yang beralih menjadi organisasi penyelundup narkoba.

“Dalam militer diajarkan bahwa apabila seseorang menyerangmu, atau mengambil sesuatu darimu, balas serangan mereka. Sejak Zetas memasuki medan narkoba, kekerasan meningkat secara signifikan,” kata Oscar Hagelsieb.

Sudut pandang ketiga dalam film itu datang dari peternak Texas Don Henry Ford, yang terlibat dalam penyelundupan narkoba beberapa dasawarsa lalu, ketika kekerasan belum semarak ini.

“Saya memutuskan untuk pergi ke Meksiko, beli sejumlah ganja dan berhasil menyelundupkannya untuk pertama kali. Memang agak amatir, tapi saya berhasil lolos,” imbuhnya.

Pada akhirnya dia ditangkap dan menjalani hukuman di sebuah penjara federal AS. Dia mengatakan kekerasan di Meksiko tidak semarak sewaktu organisasi kriminal yang lebih besar menguasai wilayah perbatasan.

“Mereka punya wilayah sendiri-sendiri dan tidak begitu banyak konflik,” jelas Don Henry Ford.

Ford memuji film itu karena menunjukkan tragedi orang-orang tak bersalah, yang terperangkap dalam dunia kekerasan dan kejahatan. “Isteri saya netral dan dia sangat tergerak dan terharu ketika menyaksikan film ini,” imbuhnya.

Sutradara Bernardo Ruiz berharap filmnya akan mengeraskan suara warga Meksiko yang dilanda kekerasan di tingkat dunia.

XS
SM
MD
LG