Tautan-tautan Akses

Filipina Tidak akan Bantu Patroli AS di Laut China Selatan


Seorang petugas tengah memberikan tanda kepada pilot pesawa jet tempur untuk bergerak di atas kapal induk USS John C. Stennis, saat latihan militer bersama AS, Jepang dan India di Okinawa, Jepang, 15 Juni 2016. (AP Photo/Shizuo Kambayashi, File)

Delfin Lorenzana mengatakan kapal-kapal dan pesawat Amerika dapat menggunakan pangkalan di Guam, Okinawa, atau menerbangkan pesawatnya dari kapal-kapal induk untuk berpatroli di perairan sengketa.

Menteri Pertahanan Filipina, Kamis (8/12) menyatakan negaranya kemungkinan besar tidak akan membiarkan wilayahnya menjadi pangkalan patroli di Laut China Selatan yang disengketakan, guna menghindari konflik dengan China.

Delfin Lorenzana mengatakan kapal-kapal dan pesawat Amerika dapat menggunakan pangkalan di Guam, Okinawa, atau menerbangkan pesawatnya dari kapal-kapal induk untuk berpatroli di perairan sengketa.

Di bawah pemerintah pendahulu Presiden Rodrigo Duterte, Benigno Aquino III, sejumlah pesawat dan kapal Amerika singgah di Filipina dalam perjalanannya untuk berpatroli di perairan sengketa, untuk menantang klaim territorial China.

Duterte yang menjabat sejak Juni lalu telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki hubungan dengan China dan bersikap bermusuhan terhadap pemerintahan Obama, setelah Amerika menyatakan keprihatinan terkait tindakan keras Duterte terhadap perdagangan narkoba.

Ketika ditanya apakah Filipina akan terus menjadi tempat untuk disinggahi kapal-kapal dan pesawat Amerika yang berpatroli di perairan sengketa, Lorenzana mengatakan Duterte kemungkinan besar tidak akan membiarkannya, “guna menghindari tindakan provokatif yang dapat meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan.”

Para pejabat Amerika belum mengeluarkan pernyataan. Komandan pasukan Amerika di Pasifik, Laksamana Harry Harris, bulan lalu mengatakan kerjasama militer dengan Manila tidak berubah meskipun Duterte mengemukakan retorika seperti itu. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG