Tautan-tautan Akses

Filipina: Reklamasi China di Laut China Selatan Rugikan Kawasan

  • Simone Orendain

Filipina mengecam proyek reklamasi lahan oleh China di sejumlah terumbu karang terpencil di Laut Cina Selatan (foto: dok).

Filipina mengecam proyek reklamasi lahan oleh China di sejumlah terumbu karang terpencil di Laut Cina Selatan (foto: dok).

Filipina mengatakan proyek reklamasi lahan oleh China di sejumlah terumbu karang terpencil dan disengketakan di Laut China Selatan berdampak buruk pada lingkungan dan merugikan negara-negara tetangga secara ekonomi.

Departemen luar negeri Filipina mengatakan proyek reklamasi di tujuh terumbu karang di Kepulauan Spratly di Laut China Selatan merugikan negara-negara sekitarnya hingga 100 juta dollar per tahun.

Filipina hari Senin (13/4) mengatakan reklamasi tersebut merusak sekitar 121 hektar terumbu karang yang menjadi habitat dan tempat berkembang biak banyak spesies laut di sana.

Filipina mengklaim enam dari ke-tujuh terumbu itu, sementara China mengklaim seluruh wilayah perairan tersebut.

Dalam pernyataan minggu lalu, jurubicara departemen luar negeri China Hua Chunying mengatakan pihak pengembang memberlakukan “standar perlindungan lingkungan yang tinggi” dan sistim ekologi di laut itu “tidak akan rusak.”

Menurutnya, pulau-pulau buatan hasil reklamasi itu nantinya akan digunakan untuk aktivitas sipil dan, jika diperlukan, untuk tujuan pertahanan militer.

Juru bicara pertahanan nasional Filipina Peter Paul Galvez mengatakan pulau-pulau baru itu pada dasarnya memberi China “kekuasaan atas seluruh wilayah tersebut.”

“Reklamasi itu akan mengubah wilayah keamanan dalam tiga hingga empat tahun mendatang,” ujar Galvez.

Selain Filipina dan China, bagian-bagian Laut Cina Selatan juga diklaim oleh Brunai, Malaysia, Taiwan dan Vietnam.

Filipina telah menggugat klaim China atas seluruh perairan itu ke pengadilan arbitrasi internasional (PCA). China menolak gugatan itu dan menolak bekerja sama dalam arbitrasi tersebut.

Filipina mengatakan aktivitas reklamasi itu “bertentangan dengan hukum internasional.”

Carl Thayer adalah analis keamanan pada Akademi Pertahanan Australia. Menurutnya, Filipina harus merespons semua klaim China sekaligus merayu negara-negara lain agar mendukung sudut pandangnya dalam sengketa ini.

“Itu penting untuk mendapatkan dukungan lebih banyak, terutama di Asia Tenggara dimana isu lingkungan alam menjadi keprihatinan. Itu bisa menjadi alternatif bagi Filipina. Yang paling penting adalah apa niat China sesungguhnya? Jika mereka mengangkut pasir dan mengecor beton di terumbu-terumbu karang itu, apa dampaknya?,” ujar Thayer.

Tanpa menyebut Amerika, China mengatakan negara-negara yang tidak mengklaim apapun di wilayah perairan itu sebaiknya tidak berpihak dan bertindak lebih banyak untuk mendorong perdamaian dan stabilitas.

XS
SM
MD
LG