Tautan-tautan Akses

Filipina Adili Marinir AS Tersangka Pembunuh Transgender

  • Simone Orendain

Anggota Marinir AS, Joseph Scott Pemberton (ke-4 dari kanan) dikawal saat memasuki pengadilan di Olongapo , provinsi Zambales, Filipina (foto: dok).

Anggota Marinir AS, Joseph Scott Pemberton (ke-4 dari kanan) dikawal saat memasuki pengadilan di Olongapo , provinsi Zambales, Filipina (foto: dok).

Filipina melangsungkan persidangan terhadap seorang Marinir Amerika yang dituduh membunuh seorang transgender warga Filipina Oktober lalu.

Persidangan seorang Marinir Amerika yang dituduh membunuh seorang transgender warga Filipina Oktober lalu sedang berlangsung, dan sebagian orang memperhatikan dengan cermat syarat-syarat perjanjian kunjungan pasukan Amerika yang disebut dalam 'Visiting Forces Agreement' antara Amerika dan Filipina.

Kelompok hak-hak perempuan Gabriela mengatakan kelompok itu "mengikuti dengan cermat" pengadilan terhadap prajurit Joseph Scott Pemberton. Kelompok itu menginginkan vonis bersalah terhadap Pemberton, yang dituduh membunuh Jennifer (nama sebelumnya Jeffrey) Laude.

Saksi-saksi menemukan tubuh Jennifer Laude di kamar mandi hotel di Olongapo City di Subic Bay setelah mereka terakhir melihat Laude dengan Pemberton tanggal 11 Oktober.

Sekretaris Jenderal Gabriela Joms Salvador mengatakan terdapat sejumlah tekanan atas kasus ini. Ia mengatakan keluarga Laude seharusnya tidak dibujuk untuk mencapai penyelesaian damai dan harus mengupayakan putusan bersalah atas pembunuhan.

Menurut Salvador, mendapatkan putusan bersalah hanyalah satu langkah, tetapi perjuangan nyatanya adalah mengenai status penahanan Pemberton yang berusia 19 tahun.

"Kami berharap, daripada mencoba melindungi kepentingan Pemberton sebagai warga Amerika yang tercakup dalam Visiting Forces Agreement, pemerintah Filipina dan Amerika seharusnya mementingkan keadilan bagi Jennifer Laude sebagai pertimbangan utama," ujar Salvador.

Kelompok-kelompok nasionalis dan advokasi HAM selama ini dengan keras menentang ketentuan dalam Visiting Forces Agreement (VFA) yang mengatakan Amerika akan menahan tentara Amerika yang dituduh melakukan kejahatan di Filipina sepanjang proses hukum itu. Pemberton berada dalam tahanan Amerika di markas besar militer Filipina di Metro Manila.

Salvador mengatakan kasus perkosaan 10 tahun lalu yang berakhir dengan dibebaskannya seorang Marinir Amerika masih diingat orang. Salvador mengatakan setelah Marinir itu dinyatakan bersalah oleh pengadilan yang lebih rendah, ia tetap dalam tahanan Amerika sampai pengadilan banding membebaskannya.

Jaksa Francesca Lourdes Senga mengkhususkan diri dalam hukum publik internasional dan prosedur hukum pidana di San Beda College Manila. Ia mengatakan kasus itu masih dalam batas-batas VFA.

"Periode antara pengadilan itu dan putusan pengadilan banding menunjukkan bahwa kasus tersebut masih berlanjut, artinya belum ada keputusan akhir dari pengadilan. Karena belum ada putusan akhir, dia tidak tunduk pada yurisdiksi Filipina sepenuhnya," kata Senga.

Gabriela adalah satu dari beberapa kelompok yang menyerukan VFA harus dihapus sama sekali. Menurut Salvador, dengan adanya kesepakatan itu berarti bagian dari hukum Filipina yang berlaku dalam dakwaan pembunuhan "tidak dihormati" oleh Amerika.

XS
SM
MD
LG