Tautan-tautan Akses

'Fifty Shades' Mengglobal, Tapi Tak Semua Negara Tayangkan Versi Filmnya


Poster film "Fifty Shades of Grey" di Regal Theater di Los Angeles, California, 12 Februari 2015.

Poster film "Fifty Shades of Grey" di Regal Theater di Los Angeles, California, 12 Februari 2015.

Novel panas "Fifty Shades of Grey" adalah fenomena global, tapi para penggemarnya di China dan negara-negara lain tidak bisa menyaksikannya di bioskop walaupun adegan-adegan seks yang ada di novel tersebut telah dibuat diperhalus untuk versi layar lebar.

Film yang diadaptasi dari novel tersebut ditayangkan minggu lalu di 57 pasar internasional termasuk Perancis, di mana disebutkan bisa ditonton untuk anak-anak berusia minimal 12 tahun.

Film tersebut bercerita tentang hubungan seksual antara seorang pengusaha kaya raya dan seorang mahasiswa dan berisi adegan-adegan yang menggambarkan pecutan dan ikatan.

Distributor film tersebut, unit Comcast Universal Pictures, tidak berniat untuk menayangkannya di bioskop di China, pasar film terbesar kedua dunia, menurut sumber yang mengetahui rencana studio itu dan tidak ingin diungkap identitasnya. Film dengan gambar-gambar seks yang eksplisit biasanya tidak lolos sensor pemerintah China.

Tiga negara yang sering keberatan dengan adegan seksual, Malaysia, Indonesia dan Kenya, telah melarang pemutaran "Fifty Shades" di bioskop.

Di Malaysia, ketua badan sensor film menyebutnya "pornografi dan bukan film," menurut publikasi perdagangan Hollywood Variety. Distributor di Indonesia mengatakan film itu tidak memenuhi standar sensor Indonesia.

Pejabat Kenya tidak memberikan alasan atas pelarangan film tersebut tapi negara tersebut memang tercatat sering menyensor film beradegan seksual yang eksplisit. Mereka melarang film blockbuster "The Wolf of Wall Street," pada tahun 2013, sebuah film yang berisi penggambaran grafik seks dan obat-obatan.

Pada pemutaran perdana film tersebut di London, pengarang "Fifty Shades" E.L. James mengatakan, "Oh, buku itu memang dilarang di beberapa negara. Ini publikasi yang bagus, dan toh DVD akan beredar dan semoga mereka bisa menontonnya melalui DVD."

Tidak jelas apakah "Fifty Shades" akan ditayangkan di India atau di Timur Tengah. Hanya Lebanon yang mempunyai jadwal pemutaran film tersebut.

Pencinta buku penuhi bioskop

Kritikus film mengatakan adegan seks di film itu tidak sevulgar apa yang digambarkan di buku.

"Mereka yang ingin melihat seks yang panas, dan nakal akan kecewa," tulis Claudia Puig dari koran USA Today dalam ulasannya.

Sebagian besar menyambut film itu, dan pengamat film box-office memprediksikan penjualan tiket internasional akan laku keras. Negara-negara yang memutar film ini termasuk Inggris, Jerman, Hong Kong, Australia, Rusia, Singapur dan Jepang.

Film ini telah meraup 28,6 juta dolar di 34 negara tempat film ini diputar pada hari Rabu (11/2) dan Kamis (12/2) dan mencatat rekor baru. Di Argentina, film ini menguasai peringat teratas pada hari pembukaannya dibanding film lainnya di negara itu.

"Fifty Shades" meraup 8,6 juta dolar Kamis (12/2) malam di AS dan Kanada, yang merupakan pasar film terbesar dunia, bila kedua negara itu digabungkan.

Juru bicara Universal menolak berkomentar tentang apakah film ini diedit untuk pasar film luar negeri, yang biasanya menguntungkan bagi studio film.

"Fifty Shades of Grey" adalah bagian pertama dari trilogi yang ditulis oleh James. Ketiga buku itu telah terjual lebih dari 100 juta kopi dan telah diterjemahkan ke 52 bahasa.

"Silakan dihitung," kata Phil Contrino, kepala analis situs film Boxoffice.com. ''Biarpun hanya sepertiga orang yang membaca buku itu yang menonton filmnya, keuntungannya masih besar."

Para penggemar berharap sekuel kisah itu juga akan diangkat ke layar lebar, tapi Universal belum mengatakan apakah akan ada film "Fifty Shades" berikutnya.

XS
SM
MD
LG