Tautan-tautan Akses

FIFA Tunda Proses Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia 2026


FIFA Secretary General Jerome Valcke speaks as he attends a news conference during his visit to the southern city of Samara, one of the 2018 World Cup host cities, Russia, June 10, 2015.

FIFA Secretary General Jerome Valcke speaks as he attends a news conference during his visit to the southern city of Samara, one of the 2018 World Cup host cities, Russia, June 10, 2015.

FIFA mengatakan telah menunda proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2026 di tengah skandal korupsi yang melanda badan sepakbola dunia ini.

"Omong kosong untuk memulai proses penawaran untuk saat ini," ujar Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke pada konferensi pers di Rusia, Rabu.

Pemilihan tuan rumah kejuaraan sepakbola dunia 2026 tadinya dijadwalkan untuk pertemuan anggota FIFA 2017 di Malaysia. Kini tidak jelas kapan pemilihan akan dilangsungkan.

Amerika Serikat, Kanada, Meksiko dan negara-negara Eropa diperkirakan termasuk di antara negara-negara yang akan mencalonkan diri menjadi tuan rumah 2026.

Pejabat-pejabat FIFA yang menjadi tersangka dalam penyelidikan FBI.

Pejabat-pejabat FIFA yang menjadi tersangka dalam penyelidikan FBI.

Dakwaan AS

Dakwaan dari AS bulan lalu menjerat sembilan pejabat FIFA dan lima eksekutif perusahaan dengan pelanggaran-pelanggaran yang termasuk di antaranya pemerasan, penipuan dan pencucian uang. Sebuah investigasi terpisah oleh Swiss menyelidiki penyalahgunaan dan pencucian uang yang terkait dengan penganugerahan tuan rumah bagi Rusia dan Qatar untuk 2018 dan 2022.

Walaupun belum resmi didakwa dengan tuduhan apapun, Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan akan mengundurkan diri begitu presiden baru terpilih. Pemilihan presiden baru FIFA direncanakan akan berlangsung antara Desember 2015 dan Maret 2016.

Presiden FIFA Sepp Blatter, Franz Beckenbauer (kanan) dan Kepala Piala Konfederasi FIFA Chuck Blazer .

Presiden FIFA Sepp Blatter, Franz Beckenbauer (kanan) dan Kepala Piala Konfederasi FIFA Chuck Blazer .

Kasus Suap

Catatan pengadilan AS yang dirilis kepada publik pekan lalu menunjukkan bahwa seorang mantan anggota komite eksekutif FIFA mengaku telah menerima suap terkait dengan Piala Dunia 1998 dan 2010.

Charles Blazer, seorang warga negara AS yang menjabat di FIFA selama 20 tahun, diam-diam mengaku bersalah pada November 2013 atas 10 tuduhan kriminal di New York sebagai bagian dari perjanjiannya dengan jaksa penuntut AS, menurut transkrip persidangan.

Blazer mengatakan kepada hakim AS bahwa ia dan pejabat-pejabat lainnya di komite eksekutif FIFA menerima suap sehubungan dengan keputusan menjadi Perancis sebagai tuan rumah Piala Dunia 1998. Ia juga mengaku menerima suap terkait dengan penganugerahan tuan rumah Piala Dunia 2010 kepada Afrika Selatan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG