Tautan-tautan Akses

Fibershed Project, Industri Garmen Lokal Ramah Lingkungan


Katherine Jolda sedang mengayuh pedal pemintal benang yang digunakan untuk membuat pakaian dan asesoris lokal yang ramah lingkungan.

Katherine Jolda sedang mengayuh pedal pemintal benang yang digunakan untuk membuat pakaian dan asesoris lokal yang ramah lingkungan.

Proyek ini digarap oleh seorang aktivis lingkungan di California, di mana gaya hidup ramah lingkungan sedang digemari.

“Food Locavores” adalah julukan bagi orang yang sumber bahan makanannya berasal dari daerah setempat atau lokal. Tak hanya makanan, namun bisa juga berlaku pada pakaian, biasa disebut “clothing locavores”. Di Kalifornia bagian utara terdapat warga yang bahan pakaiannya berasal dari kapas dan domba setempat. Bahan lokal tersebut diubah menjadi rok, celana panjang, dan kaus kaki. Bahan pewarnanya pun berasal dari tanaman lokal.

Di daerah perbukitan Fairfax, negara bagian Kalifornia, Katherine Jolda sedang mengayuh pedal sepedanya yang unik di hari yang panas itu. Sepeda unik itu tidak beroda, karena rantai sepeda dipasang pada dua drum logam pemintal. Jolda memasukan serat wol yang baru dicukur dari domba, ke dalam drum tersebut.

Gerigi drum itu lalu menarik serat-serat wol, mengolahnya dan mengeluarkan benang wol dari sisi lain drum tersebut.

Saat itu, Jolda sedang memberi demonstrasi pembuatan sebuah baju untuk Rebecca Burgess yang dimulai dari pemanfaatan serat wol lokal.

Burgess, seorang aktivis lingkungan hidup mulai memakai baju berbahan baku lokal. Sebelumnya Ia mempunyai 15 potong celana dan 30 baju buatan pabrik dimana karena pakaian sebanyak itu menambah 40 kali lipat karbon dioksida ke dalam atmosfir yang diakibatkan oleh pengiriman, pembuatan baju pabrik dan polusi oleh pabrik tekstil. Ia pun memulai proyek yang disebut “ Fibershed Project” dan berlokasi di San Fransisco.

Aktivis lingkungan Rebecca Burgess sedang mengawasi proses pembuatan pakaian ramah lingkungan.

Aktivis lingkungan Rebecca Burgess sedang mengawasi proses pembuatan pakaian ramah lingkungan.

Connie Ulasewicz, seorang professor dari Universitas San Fransisco mengatakan, proyek serat tersebut sepenuhnya tergantung pada dedikasi dan pengetahuan Burgess di kawasan yang kaya akan tanaman berserat, binatang dan banyak para aktivis yang mendukung proyek tersebut.

“ Saya rasa, minat yang besar terhadap ramah lingkungan sedang melanda Kalifornia utara,” kata Ulasevic.

Profesor itu mengatakan, kritik terhadap proyek yang tidak dapat memproduksi garmen dalam jumlah besar tersebut, tidaklah tepat . Proyek itu merefleksikan perubahan umum ke arah pelestarian lingkungan.

“(Yang dibuat disini adalah) Disain yang bertema ramah lingkungan. Bagaimana kami dapat menyederhanakan, mengurangi pencemaran karbon ? Saat ini ada perubahan besar dari pembuatan lokal ke pabrik lokal,” jelas Ulasevic.

Rebecca Burgess mengakui kekurangan proyek tersebut, yaitu tidak semua orang bisa membuat pakaian lokal karena membutuhkan waktu, keahlian dan dukungan banyak orang untuk mendisain, memberi warna, menenun dan menjahit. Hanya saja, ia menambahkan, proyek ini mengilustrasikan kekeliruan yang dibuat industri tekstil terhadap lingkungan hidup. Ia melihat banyak peternak yang membuang sisa domba ke tempat pembuangan sampah setelah mengambil dagingnya, sedangkan mereka masih mengimpor jutaan kilo wol dari Selandia Baru, yang kemudian dipintal di Tiongkok. Menurut Burgess, pembuatan baju lokal memang memerlukan biaya operasional, namun diperkirakan tidak akan banyak merugikan lingkungan.

XS
SM
MD
LG