Tautan-tautan Akses

Festival Kopi Aceh untuk Dunia Meriahkan Tahun Kunjungan Banda Aceh 2011


Rainhard, seorang peracik kopi Australia melayani pengunjung Festival Kopi di Aceh (27/11)

Rainhard, seorang peracik kopi Australia melayani pengunjung Festival Kopi di Aceh (27/11)

Festival kopi Internasional terbesar pertama di Banda Aceh diikuti sekitar 30 anjungan induk dan peserta manca negara.

Dengan dukungan Pemerintah Kota Banda Aceh, festival kopi internasional pertama kali ini digelar dipusat kota di kawasan wisata terpadu Taman Sari, Banda Aceh. Festival berlangsung sejak Jum’at tanggal 25 hingga 27 November 2011.

Salah seorang panitia festival, Windy Lestari mengatakan Sabtu (26/11) di Banda Aceh, dalam festival perdana kali ini terdapat lebih tiga puluhan peserta yang mengisi sekitar 30 anjungan induk. “Peserta lokal, nasional dan internasional, juga lembaga internasional yang konsentrasinya di kopi. Mereka mendatangkan peracik kopi (barista) internasional, Q-Grader dan Cupper. Ada pakar-pakar kopi internasional juga,” ungkap Windy.

Dengan mengangkat tema "Kopi Aceh Untuk Dunia", festival ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan unggulan dalam memeriahkan tahun kunjungan Banda Aceh 2011 (Visit Banda Aceh Year 2011). "Penyelenggaraan Festival kopi Aceh ini supaya orang punya pandangan yang berbeda tentang Aceh. Membuat Aceh terkenal karena sesuatu yang Aceh punya, diantaranya budaya minum kopi,” jelas Windy.

Seorang Pengusaha kopi asal Aceh, Wiarwan Jakin, memuji besarnya dukungan pemerintah daerah. Wirwan minta pemerintah mendukung perjuangan kalangan petani kopi, agar harga kopi lokal di Aceh lebih tinggi, sehingga berdampak kepada kesejahteraan petani. “Kita memiliki kira-kira memiliki sekitar 75 petani (mitra), yang masing-masing memiliki sekitar 50 hektar kebun kopi.Sejauh ini pemerintah daerah cukup peduli. Harga (kopi) di luar cukup tinggi, namun harga kopi di tingkat petani cukup rendah kami tetap memperjuangkan itu,” kata Wirawan.

Para pengunjung festival didominasi kalangan muda memiliki kometar beragam, beberapa diantaranya memuji cita rasa kopi khas Aceh, yang disajikan secara cuma-cuma. “Jenis kopi yang saya tau ada dua, arabika dan robusta, satu lagi kopi luwak. Yang paling bikin mules itu robusta, karena paling nggak enak diantara kopi-kopi yang lain," demikian komentar Icha, salah seorang pengunjung festival kopi ini.

Sementara beberapa yang lain mengatakan, agar festival kopi yang sama digelar reguler dan menjadi agenda rutin yang dapat mempertemukan kalangan penikmat dan pelaku bisnis kopi dunia."Saya tidak pernah lihat festival sekeren ini, dan antusiasme orang-orang tambah kita bikin bangga .Ada tamu dari Amerika dan Australia, ada rombongan pelajar dari Malaysia,” ujar Rifky.

Sebelumnya Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo Mustafa Ali mengatakan, dari tahun ke tahun secara umum ekspor kopi Arabika Gayo, terdapat peningkatan cukup berarti, sehingga berdampak terhadap kesejahteraan ditingkat petani, khususnya di provinsi Aceh. “Ekspor terbesar ke Eropa dan Amerika. Sekitar 4000 ton atau sekitar 200 kontainer , uangnya triliunan (Rupiah) itu,” kata Mustafa Ali.

Berdasarkan data Forum Kopi Aceh, sampai sekarang Kopi Arabika Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan nasional, dengan luas lahan sekitar 90.000 hektar, terletak di kawasan pegunungan di provinsi Aceh, dengan elevasi 1.200 meter di atas permukaan laut, perkebunan kopi arabika kawasan dataran tinggi Gayo menjadi perkebunan terbaik dan cukup produktif yang dimiliki Indonesia.

Pihak Asosiasi Kopi Spesial Amerika (SCAA) baru-baru ini telah menilai kualitas Kopi Arabika Gayo sebagai kopi yang memiliki cita rasa yang khas dan unik. Sampai sekarang Kopi Arabika Gayo mendominasi berbagai varietas yang tengah dikembangkan. Produksi kopi Arabika yang dihasilkan di Aceh merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

XS
SM
MD
LG