Tautan-tautan Akses

AS

FBI: Ancaman 'Diaspora Teroris' Makin Besar


Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey.

Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey.

Para pejuang asing yang tadinya berbondong-bondong ke kawasan-kawasan yang dikuasai ISIS akan kembali ke kampung halaman mereka sendiri dan menciptakan gangguan hebat di sana.

Setiap langkah yang diambil Amerika dan mitra-mitra koalisinya untuk menumpas militan Negara Islam (ISIS) di Irak dan Suriah terus memperkuat ancaman serangan di dunia Barat.

“Apa yang disebut kekhalifahan itu akan kita hancurkan,” kata direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey kepada para anggota DPR hari Selasa (27/9).

“Tapi soalnya, ibarat kita menggunakan tangan untuk menghancurkan mereka, ratusan orang-orang yang sangat berbahaya akan lolos dari celah-celah jari kita.”

Pernyataan Comey itu serupa dengan berbagai peringatan yang dikeluarkan dalam beberapa bulan terakhir oleh Comey dan sejumlah pejabat lain tentang akan munculnya “diaspora teror,” dimana para pejuang asing yang tadinya berbondong-bondong ke kawasan-kawasan yang dikuasai ISIS akan kembali ke kampung halaman mereka sendiri dan menciptakan gangguan hebat di sana.

“Tidak semua dari mereka akan mati di medan perang Suriah dan Irak,” kata Comey.

“Akan ada diaspora teroris yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya dalam waktu dua sampai lima tahun ke depan."

Para pembuat kebijakan di Amerika sejak lama berpendapat bahwa yang penting untuk mengurangi kekuatan mereka sebagai kekuatan teroris adalah menghancurkan kekhalifahan kelompok teroris itu dan menghapus kesan bahwa mereka tidak bisa ditumpas.

Para pejabat intelijen dan kontrateroris Amerika masih yakin bahwa pandangan ini benar. Namun Direktur Pusat Kontrateroris Nasional, Nicholas Rasmussen memperingatkan, strategi ini akan makan waktu lama dan akan menjurus pada suatu masa dimana Amerika dan sekutu-sekutunya berada dalam keadaan “rentan yang berkepanjangan”.

“Dampak yang akan kita saksikan adalah kekosongan yang terjadi di medan perang setelah kita berhasil menumpas mereka,” kata Rasmussen.

“Ini bukan sekedar merebut wilayah atau memenangkan pertempuran di Mosul atau al-Raqqa. Tapi kita harus mengejar dan menghancurkan secara sistematis jaringan ISIS yang menyebar ke banyak tempat."

Para pejabat intelijen Amerika memperkirakan ada lebih dari 40.000 pejuang asing, termasuk 7.600 orang Barat, yang bergabung dengan ISIS dalam konflik di Suriah dan Irak.

“Apabila ISIS bisa kita hancurkan dan mereka hanya berfungsi seperti kelompok-kelompok pemberontak kecil, para pembunuh itu akan datang ke Eropa Barat dan ke Amerika dan akan membunuh orang-orang sipil yang tidak bersalah," kata Comey. “Karena itu kita harus menyiapkan diri.” [isa/sp]

XS
SM
MD
LG