Tautan-tautan Akses

'Exit Strategy' Turki di Suriah Dipertanyakan


Tentara Turki mengendarai tank ketika akan memasuki kota Jarablus, Suriah dekat perbatasan Turki (25/8) lalu.

Tentara Turki mengendarai tank ketika akan memasuki kota Jarablus, Suriah dekat perbatasan Turki (25/8) lalu.

Seminggu setelah militer Turki melancarkan serangan ke Suriah utara, pengamat di dalam maupun luar Turki bertanya-tanya kapan serangan akan berakhir.

Tekanan internasional kini sedang meningkat terhadap Turki karena operasi militernya di Suriah terhadap ISIS dan milisi Kurdi-Suriah atau YPG. Tetapi di tengah tekanan semacam itu, Turki menolak menyampaikan jadwal penarikan pasukan, yang memicu spekulasi tentang berapa lama serangan itu akan berlangsung.

Pasukan Turki – yang mendukung elemen-elemen Tentara Pembebasan Suriah – terus melanjutkan operasi terhadap militan ISIS dan milisi Kurdi-Suriah atau YPG, di Suriah.

Juru bicara Presiden Turki – Ibrahim Kalin hari Rabu (1/8) menegaskan tujuan “Operasi Perisai Efrat” itu untuk memastikan keamanan di perbatasan dan menghabisi para teroris.

Turki juga menyatakan akan mencegah YPG mencapai tujuannya menghubungkan daerah Kobani dan Afrin. Mantan diplomat senior Turki Aydin Selcen – yang pernah berdinas di Irak dan kini menjadi analis kawasan – mengatakan, seperti dalam pengiriman pasukan Turki sebelumnya ke Irak, operasi terbaru ini tampaknya akan berlangsung dalam waktu lama.

“Melihat contoh Bashiqa baru-baru ini dan pengalaman di Irak bagian utara, saya tidak melihat adanya strategi untuk segera menyudahi operasi ini. Saya kira target utamanya adalah untuk menghentikan kemungkinan bersatunya daerah Afrin dan Kobani. Saya melihat kehadiran pasukan militer ini untuk jangka waktu lama, tetapi jika saya diminta mendefinisikan “jangka waktu lama” itu, saya tidak bisa,” ungkap Aydin Selcen.

Bashiqa adalah pangkalan militer besar Turki di Irak, yang katanya dibentuk untuk melatih pasukan Irak melawan ISIS, tetapi Turki mengabaikan desakan Irak untuk menarik pasukannya itu.

Para pengamat mengatakan Turki menggunakan pangkalan itu untuk memperlemah kegiatan-kegiatan PKK – kelompok Kurdi yang dilarang – yang beroperasi di kawasan itu.

Tetapi operasi yang berkepanjangan itu berbahaya, demikian menurut pensiunan pejabat militer Turki Brigadir Haldun Solmazturk, seorang veteran operasi lintas perbatasan terhadap PKK yang kini mengepalai Institut Abad ke-21 – sebuah organisasi penelitian yang berkantor di Ankara.

“Menempatkan pasukan di Suriah adalah bagian yang paling mudah. Yang susah adalah kapan menarik kembali pasukan itu. Begitu ada disana, ini seperti permainan catur. Kita tidak bisa mengendalikan perkembangannya, karena kita bukan satu-satunya pemain. Ada sejumlah pemain lain. Kuncinya adalah pelajaran yang dipetik oleh Amerika, Inggris, Israel, dan Rusia di Afghanistan,” ujar Solmazturk.

Militer Turki terus memperkuat kehadiran pasukannya di Suriah dengan memperluas ke bagian barat dan selatan. Para analis mengatakan Turki agaknya berusaha untuk menguasai kawasan seluas 100 kali 30 km di dalam Suriah., Kawasan semacam itu akan menjadi pangkalan guna mencegah upaya YPG lebih jauh mencapai targetnya menyatukan daerah-daerah Kurdi.

Iran dan Rusia telah menyampaikan keprihatinan mereka tentang kapan Turki akan menarik pasukannya. Tetapi para pengamat mengatakan militer Turki punya reputasi di kawasan itu bahwa sekali mereka ditempatkan, mereka enggan mundur.

Sementara, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan operasi itu juga untuk mencegah YPG menguasai lebih banyak wilayah untuk menghubungkan wilayah-wilayah Kurdi, Kobani dan Afrin, yang akan membentuk kesatuan wilayah di bawah kendali YPG di perbatasan Turki. Turki menganggap YPG kepanjangan PKK, partai terlarang yang memerangi Turki.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Ash Carter minggu ini mendesak Turki agar "tetap fokus" pada ISIS, bukan pada pasukan Kurdi. [ka/em]

XS
SM
MD
LG