Tautan-tautan Akses

Etnis Tatar Inginkan Pasukan PBB di Krimea


Pemimpin etnis Tatar Krimea, Mustafa Dzhemilev (foto: dok).

Pemimpin etnis Tatar Krimea, Mustafa Dzhemilev (foto: dok).

Pemimpin etnis Tatar Krimea mengatakan ingin agar pasukan penjaga perdamaian internasional dikirim ke semenanjung Krimea.

Pemimpin etnis Tatar Krimea mengatakan ia ingin supaya pasukan penjaga perdamaian internasional dikirim ke semenanjung Krimea di Laut Hitam itu yang belum lama ini dianeksasi Rusia dari Ukraina.

Penganjur HAM senior Mustafa Dzhemilev, menjalani hukuman penjara enam kali di Soviet dari tahun 1966 sampai 1986. Ia hari Senin berbicara di New York dalam sidang tidak resmi DK PBB yang diselenggarakan Lithuania.

Setelah pertemuan itu Dzhemilev mengatakan kepada VOA ia khawatir etnis Tatar Krimea akan menjadi sasaran kekerasan dibawah kekuasaan Rusia dan menginginkan pasukan penjaga perdamaian dikerahkan ke Krimea.

Pilihan kedua kata Dzhemilev adalah mengirim pasukan NATO seperti yang dilakukan sebelumnya di Kosovo.

Etnis Tatar Krimea dideportasi besar-besaran oleh diktator Soviet Josef Stalin tahun 1944 karena dituduh bekerja sama dengan Nazi Herman dan baru kembali ke tanah air mereka di semenanjung itu tahun 1991. Kini jumlah warga Tatar sekitar 12% dari hampir dua juta penduduk Krimea.

Menurut Rusia, 96 persen lebih dari mereka yang memilih dalam referendum 16 Maret memilih Krimea bergabung dengan Rusia dan pemilih yang memberikan suara 83 %.

Dzhemilev berkeras pemilih yang memberikan suara hanya 32%. Selain itu katanya referendum yang diadakan Rusia “aneh” karena menurut pandangannya hak untuk menentukan nasib sendiri sebuah wilayah hanya dimiliki penduduk asli dari wilayah itu, dalam kasus Krimea adalah etnis Tatar. Tapi katanya mereka memboikot referendum itu.

Misi Rusia di PBB memboikot sidang tidak resmi DK mengenai Krimea hari Senin, menyebutnya sebagai “pertunjukan propaganda yang memihak”.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG