Tautan-tautan Akses

45 Nelayan Myanmar Diselamatkan, Diduga Korban Perdagangan Manusia

  • Associated Press

Sekelompok mantan budak nelayan dikawal polisi Myanmar tiba di bandar udara internasional Yangon, Mei 2015. (AP/Gemunu Amarasinghe)

Sekelompok mantan budak nelayan dikawal polisi Myanmar tiba di bandar udara internasional Yangon, Mei 2015. (AP/Gemunu Amarasinghe)

Polisi sedang menyelidiki apakah pria-pria itu merupakan korban perdagangan manusia dan bagaimana mereka dapat melakukan perjalanan tanpa dokumen yang benar.

Polisi Indonesia telah menyelamatkan 45 nelayan Myanmar, diyakini sebagai korban-korban perdagangan manusia, dari sebuah hotel di Jakarta Pusat tempat mereka dibawa setelah bepergian dengan dokumen palsu, menurut para pejabat dan nelayan tersebut, Kamis (6/8).

Pihak berwenang melacak kelompok tersebut Rabu lewat sinyal ponsel, ujar AKBP Arie Dharmanto, kepala unit perdagangan manusia (trafficking) di Kepolisian Republik Indonesia. Mereka telah dibawa ke Jakarta dari Ambon.

"Mereka rupanya korban perdagangan manusia," ujar Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Komjen Budi Waseso. "Kami masih menyelidiki kasus ini untuk mengungkap jaringan perdagangan manusia dan siapa otak di balik ini semua."

Maret lalu, kantor berita Associated Press mengungkap perbudakan nelayan di desa Benjina, Maluku, dimana ratusan nelayan asing dari Myanmar, Kamboja, Thailand dan Laos dipaksa bekerja sebagai budak di atas kapal-kapal Thailand. Beberapa pria ditemukan dikurung dalam kandang di sana.

Salah satu dari pria-pria yang baru diselamatkan itu mengatakan ia bingung dengan apa yang terjadi dan bagaimana ia dan yang lainnya bisa ada di Jakarta.

Ia mengatakan seorang agen menariknya dari Myanmar ke Thailand dengan janji pekerjaan, namun kemudian ditaruh di atas kapal nelayan dan dibawa ke Ambon, tempat mereka bekerja di atas empat kapal yang berbeda.

Pria itu mengatakan semua diberi dokumen awak kapal Thailand yang palsu, meskipun mereka berkewarganegaraan Myanmar. Ia menambahkan bahwa mereka bekerja untuk perusahaan itu selama empat tahun dan dibayar kurang dari yang dijanjikan. Seorang pria lain mengatakan bahwa ia tidak diberi gaji selama tiga tahun.

"Kami dipukuli di atas kapal dan tidak diperbolehkan beristirahat, bahkan ketika kami sakit," ujar pria Myanmar tersebut.

Ia mengatakan mereka diterbangkan ke Jakarta dua bulan lalu untuk mendapatkan dokumen dan kemudian dikembalikan ke Ambon. Mereka terbang kembali ke ibukota minggu ini sebelum diselamatkan. Alasan kedua perjalanan itu belum jelas.

Polisi sedang bekerja untuk menentukan apakah pria-pria itu diperdagangkan dan bagaimana mereka dapat bepergian tanpa dokumen yang benar. Mereka ditempatkan di rumah yang aman sekarang ini.

"Mereka hanya korban. Kita akan mengungkap kebenaran, termasuk bagaimana jaringan ini mengelola kejahatan ini dan bagaimana itu terjadi di sini," ujar Budi, menambahkan bahwa polisi akan menginterogasi dan menyelidiki perusahaan yang merekrut awak tersebut. Nama perusahaan tidak disebutkan.

Laporan AP telah menyebabkan goncangan dalam industri perikanan. Hal itu telah mengakibatkan repatriasi lebih dari 800 pria. Selain itu, tujuh orang telah ditahan di Indonesia dan dua lagi di Thailand terkait dengan kasus Benjina. Kasus-kasus perdagangan manusia lainnya terus diselidiki.

XS
SM
MD
LG