Tautan-tautan Akses

Empat Pria Pelaku Perkosaan di New Delhi Dijatuhi Hukuman Mati


Sebuah bis membawa empat pria yang dinyatakan bersalah karena melakukan perkosaan brutal di ats bus, menuju pengadilan di New Delhi. Pengadilan menjatuhkan hukuman mati atas keempat pelaku perkosaan ini, dalam keputusan yang dibacakan hari Jumat (13/9).

Sebuah bis membawa empat pria yang dinyatakan bersalah karena melakukan perkosaan brutal di ats bus, menuju pengadilan di New Delhi. Pengadilan menjatuhkan hukuman mati atas keempat pelaku perkosaan ini, dalam keputusan yang dibacakan hari Jumat (13/9).

Pengadilan di India menjatuhkan hukuman mati atas empat pria yang dinyatakan bersalah melakukan perkosaan beramai-ramai terhadap perempuan muda di dalam sebuah bis di New Delhi akhir tahun lalu.

Seruan-seruan hukum gantung bagi para terpidana disampaikan oleh orangtua perempuan yang menjadi korban perkosaan dan masyarakat mendapat jawaban hari Jumat ketika empat laki-laki itu (Vinay Sharma, Pawan Gupta, Akshay Thakur, dan Mukesh Singh), dijatuhi hukuman mati dalam pengadilan cepat.

Dalam keputusannya , pekan ini, Hakim Yogesh Khanna mengatakan, kebejatan moral dalam kejahatan itu, dengan laki-laki menggunakan tongkat besi untuk melakukan kejahatan dan dengan sengaja membunuh “korban yang tidak berdaya”.

Perempuan berusia 23 tahun itu dalam perjalanan pulang dari menonton film, bersama teman laki-laki di New Delhi ketika mereka menerima tawaran untuk naik bus pribadi. Rincian apa yang terjadi malam tanggal 16 Desember itu mengguncang negara. Perempuan itu berulang kali di perkosa dan disiksa, temannya dipukuli. Keduanya dilempar keluar bus, berlumuran darah dan babak belur akibat dipukuli. Mahasiswi muda fisioterapi itu meninggal dua pekan kemudian di rumah sakit Singapura.

Setelah peristiwa itu, massa tumpah di jalan-jalan kota-kota besar India mengadakan demonstrasi dengan marah. Sarjana ilmu politik Radha Kumar, Direktur Delhi Policy Group, mengatakan, kemarahan umum membuyarkan sikap publik yang selama ini tidak menghiraukan kekerasan terhadap perempuan, sebagaimana yang dialami oleh perempuan muda itu.

“Namanya simbolis, mereka menyebutnya “berani”. Ia bukan korban, ia seorang pejuang. Ia berjuang untuk segalanya. Dia berjuang untuk pendidikannya, untuk pekerjaan, dan berjuang untuk menjalani kehidupan di kota,” papar Radha Kumar.

Perjuangan ini sama dengan perjuangan banyak sekali perempuan, khususnya di New Delhi, yang mengatakan mereka merasa tidak aman baik di dalam bus umum maupun berjalan pulang setelah hari gelap.

Karena perkosaan berkelompok bulan Desember itu, Delhi Policy Group mengumumkan laporan mengenai jender bulan lalu untuk memeriksa status perempuan yang menggunakan petunjuk seperti petunjuk mengenai jenis kelamin, kesehatan, pendidikan, aliran politik, pembuatan keputusan, pekerjaan dan kejahatan. India tidak menunjukkan hal itu, kecuali pekerjaan.

Laporan tersebut mengatakan kejahatan terhadap perempuan meningkat 25 persen dari tahun 2008 menjadi lebih dari 144.000 kasus yang dilaporkan tahun 2012.
New Delhi tetap mendapat nama tidak baik sebagai Ibukota pemerkosaan, di India.

Laporan mengenai jender itu mendapati bahwa tidak hanya kejahatan terhadap perempuan yang tidak dilaporkan, tetapi juga pernyataan bersalah atas jumlah kasus yang disidangkan di pengadilan hanya 24 persen.
Menanggapi kasus pemerkosaan berkelompok tanggal 16 Desember dan demonstrasi-demonstrasi atas kejadian itu, pemerintah India mengesahkan undang-undang anti pemerkosaan, dan membentuk pengadilan cepat khusus di Ibukota India.

Mengenai empat laki- laki yang dijatuhi hukuman mati karena serangan tanggal 16 Desember itu, hukuman mereka harus dikukuhkan oleh Mahkamah Agung India.
Pengacara mereka mengatakan mereka akan naik banding.

Orangtua korban mengatakan kepada para wartawan, puteri mereka akhirnya memperoleh keadilan, tetapi perjuangan masih belum selesai.
XS
SM
MD
LG