Tautan-tautan Akses

AS

Ekstremisme Islamis di AS Kembali Jadi Sorotan

  • Jeff Swicord

Isi linimasa Twitter yang dilihat Pusat Ekstremisme di George Washington University.

Isi linimasa Twitter yang dilihat Pusat Ekstremisme di George Washington University.

Apakah agama pangkal persoalannya? VOA menyoal sebab-sebab radikalisasi di Amerika menyusul pembantaian di Orlando.

Sehari setelah penembakan massal terburuk dalam sejarah AS, berikut adalah yang diketahui mengenai pembunuhnya: ia mendukung Negara Islam (ISIS) tapi tidak memiliki hubungan langsung; ia menyatakan kebencian terhadap gay; mantan istrinya menuduhnya kasar; dan ia pernah mengklaim hubungan dengan al-Qaida, yang mendorong FBI untuk menginterogasinya sedikitnya dua kali.

Omar Mateen adalah juga seorang Muslim, seorang ayah, putra dari imigran Afghanistan kelas menengah, bekerja sebagai petugas keamanan selama hampir 10 tahun dan mempunyai surat izin kepemilikan senjata api yang dikeluarkan negara.

Pertanyaan dari beberapa pihak adalah, dari faktor-faktor tersebut, manakah yang merupakan kunci dari mengapa Mateen masuk sendirian ke klub malam gay di Orlando, Florida, Minggu dini hari dan membunuh 49 orang.

Tersangka penembak Orlando, Omar Mateen. (Foto: Kepolisian Orlando)

Tersangka penembak Orlando, Omar Mateen. (Foto: Kepolisian Orlando)

Arus Informasi Setelah Serangan

Dalam sebuah kantor sederhana di sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran kampus George Washington University di Washington, D.C., para peneliti melihat linimasa Twitter para pendukung Negara Islam (ISIS) yang berbahasa Inggris di seluruh dunia. Pusat Keamanan Dunia Maya dan Dalam Negeri tersebut adalah salah satu dari banyak lembaga studi ekstremisme yang bermunculan di seluruh AS.

“Ada begitu banyak informasi yang muncul tepat setelah serangan-serangan," ujar peneliti Audrey Alexander, yang bersama rekan-rekannya mengikuti lebih dari 1.700 akun berbahasa Inggris, 300 diantaranya di AS.

"Media sosial memberikan legitimasi besar terhadap gerakan ISIS. Jadi, fakta bahwa ada pertumbuhan seperti itu di dalam AS menunjukkan bahwa ini narasi dan pesan yang dahsyat."

Peneliti Audrey Alexander. (VOA/J. Swicord)

Peneliti Audrey Alexander. (VOA/J. Swicord)

"Pesan" tersebut bergaung di kelompok kecil tapi aktif dari pendukung media sosial ISIS di AS. Menurut sebuah laporan yang dirilis lembaga tersebut tahun lalu yang berjudul "ISIS di Amerika," lebih dari 56 orang mengambil langkah lebih jauh dan ditangkap karena secara aktif membantu ISIS dengan beberapa cara.

Tidak jelas mengapa kader-kader kecil di Amerika ini tertarik kepada ISIS. Semua ahli yang berbicara kepada VOA sepakat tidak ada profil yang umum. Dari 56 yang ditahan tahun lalu, 86 persen diantaranya laki-laki, mayoritas besar warga negara AS atau penduduk tetap, dan usianya berkisar antara 15 sampai 47 tahun.

"Secara statistik, mayoritas besar warga Amerika dari semua latar belakang, mungkin generasi kedua imigran," ujar Lorenzo Vidino yang turut menulis laporan tersebut.

Gagal dalam Hidup

Meski tidak ada profil umum, tapi ada karakteristik yang serupa, menurut para analis.

“Orang yang rapuh, melenceng dari jalur, yang gagal dalam hidupnya," ujar Anne Speckhard, psikolog peneliti dan direktur Pusat Internasional Ekstremisme dengan Kekerasan di Washington, DC. Ia telah mewawancarai ratusan orang yang direkrut ISIS di seluruh dunia.

"Ini bukan hanya soal kerentanan mereka, tapi paparan mereka ke jaringan teroris dan ideologinya."

Pada tahap awal investigasi ini, pihak berwenang masih mencoba mengukur sejauh mana paparan Mateen pada jaringan dan ideologi ISIS. Namun, ada banyak bukti bahwa ia orang yang "keluar jalur."

Anne Speckhard, psikolog peneliti dan direktur Pusat Internasional Ekstremisme dengan Kekerasan di Washington. (VOA/J. Swicord)

Anne Speckhard, psikolog peneliti dan direktur Pusat Internasional Ekstremisme dengan Kekerasan di Washington. (VOA/J. Swicord)

Dalam wawancara-wawancara, istri pertamanya -- Mateen telah menikah dua kali -- mengatakan ia meninggalkannya karena sikapnya yang kasar kepadanya. Ia juga menggambarkan Mateen sebagai orang yang kemungkinan menderita kelainan bipolar.

Seorang rekan kerja mengatakan ia sering membuat pernyataan yang meremehkan perempuan dan kelompok-kelompok lain. Dan ayahnya mengatakan putranya sangat marah setelah melihat dua pria berciuman di depannya dan anaknya -- yang mengindikasikan motif penyerangan Orlando.

Agama Bukan Faktor Utama

Speckhard mengatakan, meski seringkali ada komponen agama dalam ekstremisme, jarang sekali hal itu menjadi faktor yang dominan. Ia mengatakan bergabung dengan kelompok ekstremis Islamis atau bahkan berpartisipasi dalam percakapan media sosial seringkali membawa arti dan tujuan ke dalam kehidupan seseorang.

Para pendukung ISIS tidak selalu mulai sebagai Muslim. Dari 3,3 juta Muslim di Amerika, sekitar 24 persennya adalah mualaf. Tapi mualaf mencakup 40 persen dari mereka yang ditangkap karena kaitan dengan ISIS.

"Mereka mengetahui tentang ekstremisme Islamis dan kemudian pindah agama. Dan mereka melakukannya karena hal itu memenuhi kebutuhannya. Bukan karena mereka memang mencari agama," ujarnya.

Psikolog Speckhard menceritakan tentang seorang guru sekolah Minggu yang tinggal terisolasi di barat laut AS. Setelah ISIS membunuh wartawan Amerika James Foley, perempuan muda itu menulis di Twitter, "mengapa seorang teroris memenggal jurnalis?"

ISIS menjawab: "Karena ini revolusi. Darah tumpah dalam revolusi dan kami sedang mengubah dunia."

Perekrut dari ISIS itu kemudian bertanya, "Tahukah kamu bahwa Islam adalah penuntasan dari Kristen?" Percakapan dan radikalisasi guru sekolah itupun dimulai.

"Ia kesepian," ujar Speckhard. “Orang-orang itu kemudian mendekatinya, memperhatikannya, mengirimkan cuitan di Twitter, mengirimkan pesan, menawarkan obrolan di Skype. Dan pada akhirnya ia pindah agama karena ingin menjadi bagian dari sesuatu. Ia ingin sesuatu dalam hidupnya."

Akhirnya, setelah perekrut itu menyarankan perempuan itu dan adik laki-lakinya datang bergabung dengan ISIS di Suriah, nenek yang tinggal bersama mereka turun tangan.

Isi linimasa Twitter menyusul serangan di Brussels.

Isi linimasa Twitter menyusul serangan di Brussels.

Meskipun perempuan muda itu memiliki kerabat yang terbukti membantu, karakter umum lain dari orang-orang yang tersedot radikalisasi adalah keluarga yang berantakan.

Mohamed Khweis, putra imigran Palestina yang lahir di AS ditangkap oleh pasukan Kurdi di Irak setelah diduga bergabung dengan ISIS.

Khweis mengatakan kepada orangtuanya ia meninggalkan rumah mereka di Virginia utara untuk berlibur di Eropa. Dalam wawancara di stasiun televisi Kurdi, ia mengatakan ia terbang ke London, kemudian Amsterdam, dan lalu Istanbul, tempat ia secara acak bertemu seorang perempuan yang abangnya adalah pejuang ISIS. Ia menawarkan untuk membawa Khweis berkunjung ke ISIS.

Minggu lalu, Khweis diekstradisi ke AS untuk diadili. Ia didakwa membantu ISIS secara materi, yang dapat menjebloskannya ke penjara selama 20 tahun. Menurut dokumen FBI, ia mengaku niatnya sejak awal adalah bergabung dengan ISIS.

Speckhard mengatakan jadwal penerbangannya adalah yang biasa ditempuh orang-orang yang direkrut ISIS untuk menghindari deteksi. Seorang pria muda Arab terbang dari AS langsung ke Istanbul akan menimbulkan kecurigaan. Ia menduga pria itu mencoba melarikan diri dari masalah keluarga; ISIS menawarkan jalan keluar, dan perempuan muda itu dikirim untuk bertemu dan mungkin menikahinya. Itu semua sesuai pola seseorang yang rapuh dan perlu perhatian.

"Saya mendapat informasi bahwa ayahnya pemabuk. Jadi bayangkan seorang Muslim yang dibesarkan seorang ayah yang tak acuh dan minum terlalu banyak. Itu mengecewakan. Jadi ia pun pergi," ujar Speckhard, yang menambahkan masalah figur ayah yang pemabuk ke dalam banyak kasus radikalisasi.

Kasus-kasus ini, dan yang sedang dikumpulkan para peneliti, menggambarkan potret ekstremisme Islamis di Amerika yang menantang salah satu fokus dominan mengenai teror saat ini, bahwa Islam ada di pusat masalah. Dan hal ini menimbulkan pernyataan, dengan mendefinisikan Islamisme yang disertai kekerasan semata-mata dari sudut agama, apakah Amerika telah menyediakan sumber-sumber daya untuk melawannya dengan cara yang paling efisien dan efektif? [hd]

XS
SM
MD
LG