Tautan-tautan Akses

Ekspedisi Islam Nusantara: Rekam Jejak Sejarah dan Sebarkan Perdamaian­­­­

  • Petrus Riski

Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Wagub Saifullah Yusuf bersama peserta tim Ekspedisi Islam Nusantara di Gedung Negara Grahadi (Foto: VOA/Petrus)

Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Wagub Saifullah Yusuf bersama peserta tim Ekspedisi Islam Nusantara di Gedung Negara Grahadi (Foto: VOA/Petrus)

Puluhan pemuda dari organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama, melakukan perjalanan mengunjungi beberapa kota di Indonesia dalam rangka Ekspedisi Islam Nusantara.

Perjalanan Ekspedisi Islam Nusantara akan mengunjungi 40 daerah di 20 Provinsi, di mana agama Islam menyebar dan berkembang di Indonesia. Menurut Imam Pituduh, Ketua Tim Ekspedisi Islam Nusantara, ekspedisi ini bertujuan mendokumentasikan sejarah Islam di Indonesia, sekaligus meluruskan sejarah akulturasi Islam Nusantara yang selama ini dinilai keliru.

“Ekspedisi Islam Nusantara dimaksudkan untuk melakukan rekam jejak Islam Nusantara, dan menyebarluaskan perdamaian, serta melakukan upaya deradikalisasi dan anti-narkoba. Ini dimaksudkan untuk melakukan rekonstruksi sejarah, di mana sejarang yang selama ini dikenal bersumber dari naskah-naskah kolonial yang itu harus kita rekonstruksi ulang, di mana sejarah ke-Indonesia-an yang sebenarnya harus kita ungkap,” kata Imam Pituduh, Wakil Sekjen PBNU.

Ekspedisi Islam Nusantara menurut Imam, juga ingin menunjukkan misi perdamaian yang dibawa Islam di Nusantara, yang berbeda dengan persepsi yang berkembang saat ini mengenai Islam yang berwatak keras. Kegiatan ini juga sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, dan semangat anti-radikalisme kepada kaum muda.

“Menyampaikan kepada dunia bahwa Islam Nusantara berbeda dengan Arabian Moslem, Arabian Islam. Jadi tidak punya watak kekerasan, tidak punya watak radikal, dan tidak punya watak yang merugikan peradaban. Justru keberadaan Islam Nusantara adalah bagian dari upaya untuk menyangga peradaban, dimana proses persenyawaan dan akulturasi kebudayaan dan Islam sangat berbalut manis dan berbalut erat, bahwa Islam tidak bertentangan dengan kebudayaan,” lanjutnya.

Berdasarkan temuan di beberapa daerah yang telah dijelajahi, Imam mengatakan bahwa sejarah Islam di Indonesia telah banyak dibelokkan oleh pemerintahan kolonial, dan bertahan hingga saat ini. Ekspedisi Islam Nusantara kata Imam, ingin menggali sejarah masuknya Islam ke Indonesia, khususnya setelah Kerajaan Majapahit runtuh.

“Kita sudah menemukan bahwa proses akulturasi kebudayaan di Nusantara kita, dari peradaban seluruh agama-agama, dari kerajaan ke kerajaan, dari kerajaan non-muslim ke kerajaan muslim pun terjadi dengan smooth dan tidak ada konflik, yang selama ini diasumsikan bahwa Majapahit dengan Demak Bintoro semisal, proses transformasinya dengan konflik itu salah besar,” imbuh Imam Pituduh.

Sementara itu Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, Ekspedisi Islam Nusantara merupakan gerakan yang sangat baik untuk mempelajari sejarah yang sebenarnya, dari sebuah agama maupun bangsa.

“Ekspedisi Islam Nusantara ini sangat penting, karena mempelajari proses transformasi antara Islam dan akulturasi dengan kebudayaan yang dilakukan oleh, luar biasa para Wali Songo, ada Mocopatan, ada Sunan Bonang lewat kesenian, ada macam-macam, luar biasa. Sehingga hal inilah yang kemudian sampai sekarang di Solo dan Yogyakarta, model-model itu dilestarikan dengan kegiatan setiap tahun baru Islam, maka ada kegiatan-kegiatan antara Ngaji di satu pihak dan lewat “gong” (alat musik tradisional Jawa) di satu pihak,” jelas Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. [pr/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG