Tautan-tautan Akses

Eksodus Tahunan Rohingya Myanmar Tertunda


Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi di kawasan Thandwe, negara bagian Rakhine, Myanmar saat berkampanye pada 17 Oktober 2015.

Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi di kawasan Thandwe, negara bagian Rakhine, Myanmar saat berkampanye pada 17 Oktober 2015.

Penindasan pemerintah terhadap para penyelundup manusia dan pemilu yang baru diadakan membuat banyak orang optimistis bahwa situasi bagi warga Rohingya mungkin akan membaik.

Dalam beberapa tahun ini, ribuan Muslim Rohingya yang dikucilkan melakukan perjalanan berbahaya dengan kapal ke luar negeri. Dalam perjalanan, sebagian diantara mereka jadi korban penyelundupan manusia.

Terlepas dari berbagai risikonya, banyak yang memilih untuk lari daripada tinggal di Myanmar, di kamp-kamp yang dijaga ketat, dengan sedikit pendidikan, layanan kesehatan di bawah standar dan pengangguran massal. Banyak yang putus asa.

Salah seorang diantaranya adalah Muhammed Kasim.

“Saya berencana pergi naik kapal karena kami tidak sanggup menderita lebih lama lagi. Kami sangat menderita di sini. Hitler membunuhi Yahudi. Tapi tidak seperti ini. Ini adalah genosida perlahan-lahan," katanya.

Pada waktu yang sama tahun lalu, sekitar 25.000 warga Rohingya telah lari. Tahun ini, hanya sekitar 1.000 yang menyeberangi lautan.

Sebagian karena pemerintah menindak keras para penyelundup manusia, sehingga warga yang ingin lari harus berusaha sendiri.

Abdul Malik adalah seorang pengungsi Rohingya.

“Kini tidak ada lagi penyelundup manusia, jadi saya mau membeli sebuah kapal. Lebih baikmati di laut daripada tinggal disini tanpa kebebasan dan tidak punya hak apapun,” kata Malik.

Noor Muhammed juga berencana melakukan perjalanan ke Malaysia. Semua pakaian dan harta benda keluarganya harus muat dalam sebuah karung beras.

Ia mengatakan, "Tinggal di kamp ini, situasinya sangat buruk. Kami tinggal di dalam sebuah kamar seluas 8 meter persegi dengan delapan anggota keluarga; isteri saya, orangtua dan juga anak-anak. Jadi tidak cukup. Kami diperlakukan seperti binatang. Saya mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya. Paling tidak di negara lain hak asasi kami dihormati. Saya akan bisa bekerja disana dan menghidupi keluarga."

Meskipun Noor tidak sabar untuk keluar dari kamp itu, dia menunda perjalanannya karena kemenanganbesar partai oposisi Aung San Suu Kyi dalam pemilu baru-baru ini.

Banyak warga Rohingya berharap partai Aung San Suu Kyi akan berupaya memperbaiki kehidupan di kamp-kamp, meskipun pemenang hadiah Nobel itu selama ini tidak banyak berkomentar mengenai penderitaan warga Rohingya. Untuk sekarang ini, nasib ribuan orang seperti Noor masih belum jelas, namun mereka tetap berharap akan terjadi perubahan. [vm/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG