Tautan-tautan Akses

Sistem Ekonomi Global Saat Ini Ancam Prospek Kemakmuran

  • Joe de Capua

Gagasan untuk melestarikan lingkungan, termasuk kawasan hutan, sering dianggap sebagai "beban" ketika dihadapkan pada krisis ekonomi besar (foto: dok).

Gagasan untuk melestarikan lingkungan, termasuk kawasan hutan, sering dianggap sebagai "beban" ketika dihadapkan pada krisis ekonomi besar (foto: dok).

Sebuah laporan baru mengatakan, sistem ekonomi global yang muncul dari revolusi industri dinilai tidak sesuai dengan pertumbuhan berkelanjutan abad ke-21.

Worldwatch Institute mengatakan lingkungan hidup yang rusak, ketidakpastian ekonomi dan kesenjangan sosial semakin mengancam prospek kemakmuran. Hal itu dinyatakan lembaga itu dalam laporannya yang berjudul “Keadaan Dunia Tahun 2012: Bergerak Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan.”

Michael Renner, salah seorang penyusunan laporan itu, mengatakan, “Kami memilih istilah kemakmuran berkelanjutan karena kami merasa ada bahaya nyata bahwa gagasan menjaga lingkungan terlalu sering dianggap sebagai beban ketika kita sedang menghadapi krisis ekonomi besar. Saya kira sangat penting untuk maju dengan cara memperhatikan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Bagaimana kita bisa mengurangi beban di planet ini?”

Renner mengatakan, agar lebih banyak orang bisa menikmati hidup yang baik, sumber daya yang ada perlu digunakan dengan bijaksana.

“Saya kira hidup enak secara tradisional di negara-negara Barat didefinisikan sebagai kehidupan yang dibangun dengan konsumsi sumber daya – energi, air, dan lain sebagainya – dalam jumlah yang cukup besar. Yang kami persoalkan adalah kita masih bisa menjalani kehidupan yang baik, tanpa mengonsumsi begitu banyak sumber daya,” paparnya.

Satu contoh, ujarnya, adalah prasarana yang lebih baik. Ia mengatakan, “Misalnya, bagaimana sistem transportasi kita diatur sedemikian rupa, sehingga kita tidak perlu menempuh jarak yang begitu jauh setiap hari hanya untuk pergi bekerja, pergi belanja, atau menonton film dan sebagainya. Ada berbagai cara teknis dan struktural untuk memastikan agar kita memiliki kehidupan yang layak.”

Ia mengatakan bahwa negara-negara di dunia perlu bergerak ke arah pengembangan energi terbarukan dan tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Ia mengatakan bahwa penemuan baru minyak di Kenya, Uganda, Ghana dan negara-negara lain mungkin bukan pemecahan jangka panjang bagi kebutuhan energi.

Laporan itu juga membahas masalah pertumbuhan penduduk. Populasi dunia telah melampaui tujuh miliar. PBB memperkirakan jumlah itu akan mencapai sembilan miliar pada tahun 2050. Namun, laporan itu tidak menyarankan pembatasan populasi, seperti kebijakan satu anak yang telah diberlakukan Tiongkok. Dikatakan, "seiring dengan berjalannya waktu, pertumbuhan penduduk akan berhenti dan membalik" melalui kesehatan reproduksi dan hak yang sama bagi semua orang.

Tahun ini merupakan peringatan ke-20 tahun KTT Bumi pertama di Rio de Janeiro, Brasil. Bulan Juni mendatang, kota itu akan menjadi tuan rumah konferensi tentang pembangunan berkelanjutan yang disebut Rio+20. Worldwatch Institute menghimbau peserta konferensi itu agar "secara radikal mengubah budaya konsumsi" dan membuat "hidup berkelanjutan" sebagai prioritas.
XS
SM
MD
LG