Tautan-tautan Akses

Ekonomi Rusia Diperkirakan akan Tergelincir dalam Resesi


Warga berjalan di papan elektronik di Moskow yang menunjukkan nilai mata uang Rusia Rubel terus menurun ke rekor terendah (1/12).

Warga berjalan di papan elektronik di Moskow yang menunjukkan nilai mata uang Rusia Rubel terus menurun ke rekor terendah (1/12).

Ekonomi Rusia diperkirakan menyusut 0,8 persen pada tahun 2015, akibat merosotnya pendapatan dari ekspor minyak dan sanksi-sanksi Barat.

Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia Selasa (2/12) menyatakan memprediksi ekonomi Rusia akan menyusut 0,8 persen pada tahun 2015, turun dari proyeksi terdahulu, 1,2 persen.

Kemajuan ekonomi Rusia terhambat oleh merosotnya pendapatan dari ekspor minyak, tulang punggung anggaran negara, dan sanksi-sanksi negara Barat terkait intervensi Rusia di Ukraina.

Sanksi-sanksi tersebut merugikan bank-bank Rusia dan investasi di negara tersebut berkurang, sementara itu nilai mata uang Rusia, rubel, terhadap dolar Amerika merosot lebih dari 40 persen tahun ini.

Kementerian ekonomi menyatakan sebelumnya, prediksi yang lebih baik memperkirakan sanksi-sanksi yang diterapkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa akan dicabut tahun depan, tetapi proyeksi baru memperkirakan “berlanjutnya risiko-risiko geopolitik yang kuat.”

Menurut perkiraan tersebut, akan terjadi lebih banyak lagi “pelarian modal” dari Rusia, suatu kemerosotan 125 miliar dolar investasi, lebih banyak daripada 100 miliar dolar perkiraan sebelumnya

Ekonomi Rusia sangat terpukul terutama oleh merosotnya pendapatan dari minyak. Harga minyak mentah di pasar dunia turun hingga sepertiga sejak Juni menjadi 70 dolar atau lebih rendah lagi per barel.

Dengan jatuhnya nilai rubel, inflasi di Rusia meningkat, dan dapat mencapai 9 persen dalam beberapa pekan mendatang. Kementerian ekonomi memperkirakan bahwa penghasilan riil warga Rusia akan berkurang 2,8 persen tahun depan, bukannya pertambahan 0,4 persen yang diprediksi sebelumnya.

Kemunduran dalam ekonomi Rusia sejalan dengan prospek suram di berbagai penjuru dunia, kecuali di Amerika Serikat, di mana ekonomi terbesar dunia itu menunjukkan perbaikan yang berarti. Blok mata uang euro yang beranggotakan 18 negara, yang secara kolektik merupakan ekonomi terbesar dunia, di ambang resesi, sedangkan ekonomi Tiongkok melamban dan ekonomi Jepang kini telah mengalami resesi.

XS
SM
MD
LG