Tautan-tautan Akses

Pengamat: Ekonomi Indonesia Lebih Dipengaruhi Situasi di AS Dibanding Eropa

  • Iris Gera

Situasi di bursa saham New York (Foto: dok). Perekonomian Amerika yang lebih ekspansif dinilai pengamat lebih mempengaruhi kondisi di Indonesia dibanding pengaruh Eropa.

Situasi di bursa saham New York (Foto: dok). Perekonomian Amerika yang lebih ekspansif dinilai pengamat lebih mempengaruhi kondisi di Indonesia dibanding pengaruh Eropa.

Pengamat mengingatkan bahwa meski kondisi Eropa berpengaruh terhadap Indonesia, yang harus lebih diwaspadai adalah kondisi perekonomian Amerika.

Hingga Jum’at (22/6) petang, perdagangan saham di Indonesia melemah, demikian juga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama terhadap dollar Amerika.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah dan berada di level 3.889, atau turun 42 poin dari sebelumnya, sementara nilai tukar rupiah di level 9.500 rupiah per dolar Amerika, tidak berubah signifikan dibanding sebelumnya.

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina, Dinna Wisnu, melemahnya IHSG dan nilai tukar rupiah diakibatkan ketidakjelasan perekonomian global. Jika kondisi ekonomi Amerika dan Eropa masih dinilai terpuruk, dampak negatif akan sangat terasa oleh Indonesia.

Melemahnya perekonomian Indonesia, kata Dinna, kemungkinan masih akan terjadi hingga dua tahun ke depan dan ia mengingatkan bahwa pengaruh dari kondisi Amerika akan lebih terasa bagi Indonesia dibandingkan dengan pengaruh Eropa.

Perekonomian Eropa aktif bergerak hanya di kawasan Eropa, sementara Amerika lebih ekspansif hampir ke seluruh penjuru dunia. “Selama dua tahun ke depan ini masa yang kritis menurut saya. Semua orang akan sangat berhati hati. Kita masih punya ruang sebenarnya untuk bergerak karena kita masih di lapis kedua dari krisis tersebut. Tapi kalau kita tidak hati-hati menginvestasikan itu dengan baik, dua tahun ini bisa jadi akan memojokkan Indonesia di periode berikutnya,” kata Dinna.

Di Amerika belum terlihat titik terang dari krisis, sehingga investor lebih memilih untuk bermain aman. “Bukan baru sekali orang asing datang ke saya menanyakan kinerja Indonesia. Mereka masih ragu kinerja Indonesia akan bersinambungan kalau situasinya masih memburuk. Gaya manajemen negara kita dianggap masih kurang baik,” ujar Dina.

Melemahnya perekonomian global juga memicu kenaikan harga komoditas internasional. Aktivis Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, mengatakan pemerintah harus membantu petani saat harga komoditas naik agar tidak menambah sulit kehidupan mereka.

Menurut Said, petani di Indonesia adalah produsen yang juga sebagai konsumen sehingga perlu cara tertentu dalam membantu kelompok tani. “Pemerintah harus memberikan insentif lain, dalam bentuk yang lain kepada konsumen. Enam puluh persen konsumen yang berisiko itu kan di desa, kenapa pemerintah tidak memberikan insentif kepada si produsennya dengan memberikan jaminan harga lebih atas produk yang dihasilkan oleh petani supaya pendapatan petani menjadi lebih banyak,” katanya.

Harga komoditas hanya menghasilkan keuntungan sangat kecil bagi petani karena banyaknya oknum yang menampung hasil petani, ditambah lagi petani harus membeli hasil mereka sendiri dengan harga tinggi saat diperjualbelikan dipasar.
XS
SM
MD
LG