Tautan-tautan Akses

Ekonomi China Tahun 2015 Alami Pertumbuhan Paling Lambat


Pengunjung menunggu di depan pertokoan mewah di Hong Kong. (Foto: ilustrasi)

Pengunjung menunggu di depan pertokoan mewah di Hong Kong. (Foto: ilustrasi)

Tahun 2015 adalah tahun sulit bagi perekonomian China, yang mengalami pertumbuhan terlambat dalam hampir 25 tahun, dan tahun depan tampaknya akan sama. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah lama bergantung pada jumlah tenaga kerja yang sangat besar.

Dari fajar hingga senja, pasar Jingwen di Beijing selalu ramai dan sibuk. Timbunan barang dagangan menumpuk di mana-mana dan diangkut ke lorong-lorong pasar yang penuh berbagai macam barang dagangan pakaian mulai dari jaket musim dingin hingga piyama. Walaupun begitu, tidak banyak pedagang grosir yang tampak optimis.

Seorang pramuniaga bernama Ye mengatakan tidak tahu apa yang terjadi tahun ini, tetapi menurutnya buruk.

Seperti banyak orang lainnya di pasar itu, Ye berasal dari Wenzhou, lemahnya bisnis bukan satu-satunya ketidakpastian yang dihadapi Ye dan pedagang lainnya.

Pihak berwenang Beijing sedang berupaya menutup pasar-pasar seperti Jingwen dan memindahkannya jauh dari pusat kota. Dalam beberapa hal, pasar dipindahkan dengan jarak satu jam lebih dari lokasi semula ke provinsi Hebei.

Pihak berwenang mengatakan langkah itu akan mengurangi tekanan penduduk dan melancarkan lalu lintas serta mengurangi polusi yang sering mengganggu Beijing.

Banyak kantor administrasi pemda juga direncanakan pindah ke bagian timur kota Beijing. Langkah ini diperkirakan akan menarik kira-kira 400 ribu warga pindah ke pinggiran timur Tongzhou.

Beijing juga bertekad "mengendalikan pertumbuhan penduduk secara ketat," dengan menetapkan jumlah maksimum 23 juta orang. Tapi jumlah itu, kata para analis, terlalu rendah dan berisiko melenyapkan keragaman penduduk yang dibutuhkan di ibukota China.

Profesor di Universitas Tsinghua, Cai Jiming, mengatakan sebuah kota internasional membutuhkan penduduk dari berbagai latar belakang.

Cai mengatakan harus ada mahasiswa, mahasiswa pascasarjana, ilmuwan serta jumlah besar pekerja sektor industri jasa. Ia mengatakan jika orang-orang itu tersingkir, kota akan kehilangan vitalitasnya.

Para pedagang grosir di Jingwen mengatakan akan mencari jawaban dari pasar sendiri, bukan dari upaya pemerintah melakukan mikro-manajemen, untuk mengetahui di mana mereka dapat melakukan usaha.

Seorang pedagang grosir, Xing, mengatakan rencana memindahkan sejumlah pasar ke tempat-tempat yang jauh sangat tidak realistis.

Xing mengatakan yang penting adalah memenuhi kebutuhan pelanggan. Ia mengatakan selalu ada cara untuk mencari uang. Ditambahkannya, ia bisa menjual barang-barang kelas bawah atau kelas atas dan masih akan tetap bisa bertahan.

Perdagang grosir lainnya, Su, yang telah bekerja di pasar Jingwen selama sembilan tahun mengatakan jika pasar ini akhirnya pindah, ia mungkin akan kembali ke kampung halamannya.

Su mengatakan kita sebenarnya bisa melakukan usaha di mana saja. Kita bisa membuka toko online, katanya, ada banyak cara.

Daripada memperketat kebijakan, para analis mengatakan para pejabat seharusnya tidak terlalu kaku dalam menetapkan target jumlah penduduk, dan sebaiknya meniru para pedagang grosir yang telah belajar beradaptasi dengan pasar yang selalu berubah. [zb/ii]

XS
SM
MD
LG