Tautan-tautan Akses

Eddie Van Halen Bahas Imigrasi, Inovasi dalam Musik

  • Associated Press

Eddie Van Halen dalam sebuah pertunjukan di Los Angeles bersama band-nya Van Halen.

Eddie Van Halen dalam sebuah pertunjukan di Los Angeles bersama band-nya Van Halen.

Gitaris band Van Halen itu memiliki darah Belanda, dengan ibu yang lahir di Indonesia, sebelum orangtuanya pindah ke Amerika.

Untuk Eddie Van Halen, membuat musik adalah masalah memiliki telinga yang baik dan bakat untuk bereksperimen dengan gitar dan alat pengeras suara untuk menciptakan nada yang tepat.

Sekarang berusia 60 tahun, Van Halen mengatakan pada kantor berita The Associated Press ia siap untuk kembali tur. Band-nya telah merekam album secara langsung, yang pertama dengan penyanyi awal kelompok itu David Lee Roth, pada 2013, dan sekarang menunggu tanggal peluncuran.

Pada Kamis (12/2), Eddie Van Halen berkunjung ke Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian untuk membahas pembuatan musik dan rancangan gitar dan pengeras suaranya yang inovatif. Ia bahkan memegang hak paten untuk beberapa karya ciptaannya.

Van Halen, adalah imigran Belanda yang lahir di Amsterdam dan datang ke AS ketika berusia tujuh tahun. Banyak yang mengira ia lahir sebagai bintang rock, ujarnya. Hidup tidak mudah untuknya dan adik serta teman bermain band, Alex.

Keluarga mereka berimigrasi ke California pada 1962, dengan mimpi di "tanah kesempatan." Ayahnya adalah musisi yang juga bekerja sebagai petugas pembersih, sementara ibunya yang lahir di Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keluarga Van Halen tinggal di sebuah rumah bersama tiga keluarga lainnya.

"Kami datang ke sini dengan US$50 dan piano," ujar Van Halen. "Kami datang dari belahan dunia lain tanpa uang, tanpa pekerjaan tetap, tanpa tempat tinggal dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris."

"Yang menyelamatkan kami adalah karena ayah saya seorang musisi dan lambat laun bertemu musisi lain dan manggung pada akhir pekan, mulai dari acara perkawinan sampai apapun untuk menghasilkan uang."

Van Halen kemudian membentuk salah satu band rock paling populer pada 1980an, dikenal dengan lagu-lagu hit "Jump" dan "Why Can't This Be Love." Ia membahas akarnya sebagai imigran dan kegemarannya bereksperimen.

"Sekkolah pertama saya masih memisahkan murid kulit putih dan kulit berwarna. Karena saya dianggap warga kelas dua saat itu, saya disamakan dengan orang-orang kulit hitam. Sulit sekali saat itu, tapi musik adalah benang dalam keluarga kami yang menyelamatkan kami," ujarnya.

Keluarganya sangat senang musik, tambahnya, bermain dengan panci dan wajan sementara sang ayah berlatih musik.

Van Halen sendiri tidak pernah belajar membaca not balok, namun menurutnya ia memiliki pendengaran yang tajam.

"Saya diberkahi telinga yang bagus. Saya harus melihat jari-jari saya bergerak. Percaya atau tidak, saya tidak pernah bisa bermain gitar secara bagus dalam kegelapan. Saya harus melihat jari-jari saya," ujarnya.

Untuk menjaga warna musik Van Halen tetap relevan, band itu harus jujur pada dirinya sendiri dan tidak mengikuti trend, tuturnya.

"Kami dikontrak oleh Warner Brothers pada 1977 di tengah tren punk dan disco. Kami tampak aneh. Tentu saja kalau main di klub kami main lagu-lagu Top 40, tapi saya tidak pernah bisa membuat suara seperti semestinya. Saya tidak bisa meniru permainan orang, dan itu berkah tersembunyi," ujarnya.

Hal paling penting yang pernah ia ciptakan dengan alat musik adalah menggabungkan gitar Gibson dan Fender, ujarnya.

"Setelah itu, setiap perusahaan di planet ini membuat gitar seperti itu," ujarnya.

Ia juga memodifikasi alat pengeras suara dengan menempelkan lampu redup untuk mengatur voltase.

Mengenai sumbangannya ke Smithsonian, ia mengatakan, "Apa lagi yang dapat saya minta setelah ambil bagian dari kontribusi terhadap perubahan? Yang dapat saya katakan adalah, hanya di Amerika."

XS
SM
MD
LG