Tautan-tautan Akses

Duterte Ingin Pasukan AS Keluar dari Filipina Selatan


Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyalahkan Amerika atas konflik dengan warga Muslim di Filipina selatan (foto: dok).

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyalahkan Amerika atas konflik dengan warga Muslim di Filipina selatan (foto: dok).

Presiden Filipina Rodrigo Duterte juga menyalahkan Amerika karena mengobarkan pemberontakan kelompok Muslim di kawasan itu.

Dalam pernyataan publik pertama menentang kehadiran pasukan Amerika di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte hari Senin (12/9) mengatakan ingin agar pasukan Amerika keluar dari wilayah selatan negaranya dan menyalahkan Amerika karena mengobarkan pemberontakan kelompok Muslim di kawasan itu.

Sejak menjadi presiden Juni lalu, Duterte memiliki hubungan yang kurang baik dengan Amerika dan secara terbuka mengkritisi kebijakan-kebijakan keamanan Amerika. Sebagai kandidat presiden, ia pernah mengumumkan akan menggariskan kebijakan luar negeri yang menunjukkan bahwa Filipina tidak akan tergantung pada Amerika.

Militer Amerika dikirim ke Filipina pada tahun 2002 untuk melatih, memberi nasehat dan menyediakan informasi inteljen dan senjata api kepada pasukan Filipina yang memerangi militan Abu Sayyaf yang terkait Al Qaida di bagian selatan negara itu.

Ketika pasukan Amerika ditarik mundur pada Februari 2015, pejabat-pejabat Amerika mengatakan sebuah kontingen penasehat militer yang lebih kecil akan tetap berada di sana. Rincian keberadaan militer Amerika saat ini masih belum diketahui.

Duterte tidak menyebut tenggat waktu atau mengatakan bagaimana ia ingin mewujudkan niatnya. Kedutaan Besar Amerika di Manila juga belum mengeluarkan reaksi apapun.

Filipina adalah koloni Amerika sejak tahun 1898 hingga 1946, kecuali pada masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Untuk menekankan tentangannya terhadap kehadiran militer Amerika di kawasan Mindanao, Duterte menyebut pembunuhan warga Muslim dalam operasi keamanan militer Amerika pada awal tahun 1900an, yang menurutnya merupakan akar pergolakan panjang kelompok minoritas Muslim di bagian selatan negara yang mayoritas penduduknya Katholik itu.

“Selama kita masih tergantung pada Amerika, kita tidak akan pernah merasakan perdamaian,” ujar Duterte dalam pidatonya pada pelantikan pejabat-pejabat baru pemerintah.

Ia menunjukkan foto-foto yang digambarkannya sebagai warga Muslim-Filipina – termasuk perempuan dan anak-anak – yang dibunuh pasukan Amerika pada awal tahun 1900an dan dibuang di sebuah lubang di Bud Daho, kawasan pegunungan di propinsi Sulu. Tentara Amerika tampak berdiri mengelilingi kuburan massal tersebut.

Duterte kembali menyampaikan kecaman terhadap Presiden Barack Obama karena menyampaikan keprihatinan atas operasi pemberantasan narkoba yang dilakukan di Filipina, tetapi tidak pernah minta maaf kepada rakyat Filipina atas kekejaman yang dilakukan tentara Amerika terhadap warga Muslim setempat.

Polisi mengatakan lebih dari 2.800 tersangka pengguna dan pengedar narkoba telah tewas sejak Duterte berkuasa pada 30 Juni 2015. [em/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG