Tautan-tautan Akses

Dunia Kecam Peluncuran Roket Korea Utara 


Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un saat menyaksikan peluncuran roket di Pyongyang (7/2) (Foto: KCNA).

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un saat menyaksikan peluncuran roket di Pyongyang (7/2) (Foto: KCNA).

Dewan Keamanan PBB menyatakan akan segera menindaklanjutinya dengan suatu resolusi mengenai sanksi-sanksi untuk menanggapi pelanggaran “serius dan berbahaya” yang dilakukan Pyongyang.

Dewan Keamanan PBB mengutuk keras peluncuran roket Korea Utara hari Minggu (7/2) kemarin. Dalam suatu pernyataan yang dilansir beberapa jam setelah peluncuran tersebut, badan dunia beranggotakan 15 negara itu menyatakan akan segera menindaklanjutinya dengan suatu resolusi mengenai sanksi-sanksi untuk menanggapi pelanggaran “serius dan berbahaya” yang dilakukan Pyongyang.

Pernyataan itu ditetapkan dalam suatu sidang darurat setelah Korea Utara mengumumkan telah meluncurkan roket untuk menempatkan sebuah satelit ke orbit. China, anggota tetap Dewan Keamanan yang juga sekutu Pyongyang, mendukung pernyataan tersebut.

Peluncuran hari Minggu itu berlangsung sebelum Dewan Keamanan PBB mengakhiri perundingan mengenai sanksi-sanksi lebih keras terkait uji coba nuklir keempat Korea Utara yang dilakukannya pada 6 Januari lalu. Korea Utara menyatakan peluncuran itu merupakan bagian dari program antariksa ilmiahnya, tetapi kebanyakan negara menganggapnya sebagai uji coba misil balistik.

“Anggota-anggota Dewan Keamanan mengutuk keras peluncuran ini,” kata Dubes Venezuela Rafael Ramirez.

Rafael Ramirez, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB, mengatakan bahwa penggunaan teknologi misil balistik, meskipun untuk meluncurkan roket, melanggar beberapa resolusi PBB dan berperan dalam pengembangan sistem senjata nuklir Korea Utara.

Rancangan resolusi mengenai sanksi untuk Korea Utara, yang disiapkan oleh Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat, sedang dirundingkan dengan China. Tetapi Beijing selama ini enggan mendukung resolusi yang akan merugikan perekonomian Korea Utara yang telah lemah, dan menyatakan dokumen tersebut seharusnya bertujuan untuk mengurangi ketegangan serta mendorong solusi melalui perundingan. Rusia juga memperingatkan tentang keruntuhan ekonomi negara miskin tersebut.

Korea Selatan khawatir mengenai sikap bermusuhan negara tetangganya itu serta menginginkan sanksi-sanksi yang kuat dan segera. Pasukannya, yang didukung oleh Amerika, kini dalam tingkat kesiagaan tinggi.

“Sebelum, selama dan setelah peluncuran, Ketua Gabungan Kepala Staf Korea Selatan Lee Soon-jin dan saya sendiri, serta pusat-pusat operasi gabungan kami, berkomunikasi dengan sangat erat untuk memastikan bahwa kami mengikuti dengan cermat kegiatan mereka, kami juga memastikan bahwa pasukan kami dalam kondisi yang tepat," kata komandan pasukan gabungan Amerika-Korea Selatan, Jenderal Curtis Scaparrotti.

Warga Korea Utara yang menyaksikan peluncuran hari Minggu itu di sebuah layar raksasa di tengah kota Pyongyang menyatakan mendukung pemerintah mereka. “Saya tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya saya sewaktu mendengar berita bahwa peluncuran satelit Kwangmyongsong-4 berhasil. Ini membuat saya benar-benar merasa bahwa kami adalah negara kuat,” kata warga Pyongyang, Cha Jong Sim.

Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan empat perangkat sanksi terhadap Korea Utara sejak negara itu pertama kali menguji coba peralatan nuklirnya pada tahun 2006.

China atau Rusia dapat menggunakan hak veto mereka untuk menghalangi resolusi yang dapat memperkuat sanksi-sanksi tersebut, seperti melarang kapal-kapal Korea Utara bersandar di pelabuhan mereka atau membatasi pengiriman minyaknya. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG