Tautan-tautan Akses

Dugaan Serangan Perparah Krisis Imigrasi Uni Eropa


Para pendukung gerakan anti-imigrasi yang menamakan diri mereka PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamization of the West) berunjuk rasa di Dresden, Jerman (12/1).

Para pendukung gerakan anti-imigrasi yang menamakan diri mereka PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamization of the West) berunjuk rasa di Dresden, Jerman (12/1).

Pihak berwenang Swedia sekarang harus menjawab tuduhan bahwa polisi menutup-nutupi serangan serupa terhadap perempuan di Swedia.

Krisis imigrasi Eropa memasuki babak baru setelah ada laporan bahwa serangan terhadap perempuan pada malam Tahun Baru di Cologne (Jerman) dan kota-kota lain dilakukan oleh kelompok-kelompok imigran. Pihak berwenang Swedia sekarang harus menjawab tuduhan bahwa polisi menutup-nutupi serangan serupa terhadap perempuan di Swedia.

Sementara gelombang migran dari Afrika Utara, Timur Tengah dan beberapa bagian Asia terus tiba di Eropa, sejumlah pemerintah berjuang untuk membendung sentimen anti-imigran di dalam negara mereka.

Ribuan demonstran turun ke jalan di Leipzig, kota di wilayah timur Jerman untuk menyerukan toleransi di tengah protes anti-imigran yang diselenggarakan oleh LEGIDA, cabang lokal kelompok nasionalis sayap kanan Jerman PEGIDA.

Kelompok anti-imigran telah lama memprotes apa yang mereka sebut Islamisasi Barat, dan laporan serangan terhadap perempuan pada Malam Tahun Baru di Cologne dan kota-kota lain telah memperkuat perjuangan mereka.

"Pengungsi Muslim ini telah memulai serangan teroris umum, serangan terhadap perempuan Jerman, terhadap perempuan putih berambut pirang," kata Tatjana Festerling, pemimpin PEGIDA.

Massa xenophobia (massa yang ketakutan akan sesuatu yang serba asing) disalahkan atas serangkaian serangan terhadap sejumlah lelaki Pakistan, Suriah dan Afrika di Cologne Minggu malam. Tapi banyak perempuan muncul untuk memprotes kekerasan itu.

"Apa yang dilakukan PEGIDA hari ini membuat saya marah. Kita semua tahu bahwa PEGIDA, dan preman yang berkumpul hari ini, tidak peduli tentang hak-hak perempuan. Mereka selalu datang ke sini untuk memukuli orang asing. Bagi mereka, ini tentang propaganda, bukan melawan seksisme," kata Emily Michels, anggota kelompok Cologne Menentang Haluan Ekstrem Kanan.

Sementara itu, sejumlah laporan media Swedia menuduh polisi berusaha menutup-nutupi fakta bahwa imigran berada di balik sebagian besar serangan pada hari besar di sana. Kepala kepolisian nasional Dan Eliasson mengatakan Senin tuduhan itu akan diselidiki.

"Kami harus menyelidiki sampai tuntas. Jika ada kebenaran mengenai informasi ini, itu harus ditangani hukum dan kami akan melihat apakah seseorang telah melakukan kesalahan," jelasnya.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan arus imigrasi yang tidak terkendali harus dihentikan. "Kita harus mengintensifkan perang melawan penyebab yang membuat orang melarikan diri. Dan kemudian kita akan dapat, dan itu yang kita inginkan tahun ini,mengurangi jumlah pengungsi. Itu jelas. Karena kita juga memiliki tugas untuk mengintegrasikan mereka. Itulah yang dibicarakan semua orang di sini - apa yang akan menjadi metode integrasi terbaik Dan kita tahu, sejak peristiwa mengerikan malam itu di Cologne,untuk integrasi kita perlu keterbukaan masyarakat, tapi para pengungsi juga harus bersedia mengikuti aturan dan nilai-nilai kita," pesannya.

Bagi sebagian orang yang dibesarkan dalam budaya kekacauan dan kekerasan, integrasi mungkin menjadi bagian yang tersulit. [as/uh]

XS
SM
MD
LG