Tautan-tautan Akses

Dubes Roy: Jokowi Harus Pilih Menteri yang Bisa Bekerja


Mantan Duta Besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Indonesia pada periode 1996-1999 dan China, J. Stapleton Roy.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Indonesia pada periode 1996-1999 dan China, J. Stapleton Roy.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Indonesia pada periode 1996-1999, J. Stapleton Roy memberikan pendapatnya tentang presiden Indonesia terpilih. Berikut wawancara selengkapnya.

VOA: Ambassador Roy, gubernur Jakarta, Joko Widodo, telah diumumkan sebagai pemenang resmi dalam pemilihan presiden Indonesia. Menurut Anda apa yang akan menjadi prioritas bagi presiden baru ini ketika ia memulai masa kerjanya?

Dubes Roy: Saya pikir prioritas nomor satu ketika ia memulai masa jabatannya adalah tentu saja memilih anggota pemerintah. Ia harus memilih menteri-menteri dan membangun pemerintah yang bisa langsung bekerja. Saya pikir tantangan besar yang akan ia hadapi adalah menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dan ia harus fokus pada masalah tersebut. Saya pikir salah satu tantangan terbesarnya sebagai presiden adalah memahami dengan baik keamanan nasional dan isu kebijakan luar negeri yang dihadapi oleh Indonesia. Sebelumnya, sebagai walikota Solo dan gubernur Jakarta, ia sebagian besar mengurus masalah-masalah domestik. Tapi kalau ia diresmikan sebagai presiden, Jokowi harus berhadapan dengan keamanan nasional dan isu kebijakan nasional yang dihadapi oleh negeri besar yang penting seperti Indonesia. Ia harus mengenal pemimpin internasional, dan ia harus punya penasihat yang bisa mendampinginya menghadapi masalah-masalah kompleks ini.

VOA: Menurut Anda Joko Widodo bisa menghadapi tantangan luar negeri begitu ia memulai masa kepemimpinannya?

Dubes Roy: Ia telah menjadi gubernur Jakarta selama beberapa tahun dan ia juga punya pengalaman sebagai walikota Solo. Ia berhasil menumbuhkan kepercayaan di hati banyak rakyat Indonesia bahwa ia punya kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi presiden dari negara terbesar keempat di dunia dilihat dari jumlah penduduknya. Jadi pertanyaannya sekarang adalah apakah sebagai presiden ia bisa menunjukkan kualitas kepemimpinan dan keputusan yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Saya pikir ia mendapatkan keyakinan dari bangsa Indonesia bahwa ia mempunyai kualitas tersebut. Jadi tantangan untuknya adalah untuk menebalkan keyakinan tersebut.

VOA: Apakah Anda berharap akan ada perubahan yang besar dalam hal kebijakan dengan pemerintah AS?

Dubes Roy: Tentu saja kita harus menunggu dan melihat bagaimana ia memilih kabinetnya dan siapa penasihat-penasihat utamanya. Tapi saya pikir tidak ada perubahan besar di Indonesia. Pemilu demokratis sudah berlangsung beberapa kali di Indonesia dan ada partai-partai yang berbeda yang memimpin Indonesia sejak tahun 1999. Dan kita belum melihat perubahan besar dalam kebijakan ketika satu presiden digantikan oleh presiden berikutnya. Jadi saya tidak mau mengasumsikan bahwa Jokowi akan menerapkan perubahan besar bagi Indonesia. Tentu saja ia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki bagaimana Indonesia mengatasi berbagai isu-isu, baik isu domestic atau luar negeri.

VOA: Pemilihan presiden merefleksikan sistem demokrasi di Indonesia atau di manapun di dunia. Apa pendapat Anda tentang keadaan demokrasi di Indonesia?

Dubes Roy: Saya pikir Indonesia menunjukkan bahwa negara ini mempunyai demokrasi yang sangat sehat dan bersemangat. Walaupun begitu, kami di Amerika Serikat telah menjalani demokrasi selama lebih dari 200 tahun, dan kami masih mempunyai cara pandang berbeda tentang hasil pemilihan pada tahun 2000, 14 tahun lalu yang mengharuskan Mahkamah Agung terlibat untuk pertama kalinya dalam sejarah kami. Jadi saya pikir walaupun ada potensi pertikaian akibat hasil pemilu ini, bukan berarti demokrasi tidak berfungsi di Indonesia, tapi ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak memberikan jalan keluar yang gampang bagi masalah-masalah yang melibatkan pemilihan pemimpin di negara-negara besar.

VOA: Menurut Anda seperti apa hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat setelah presiden baru ini terpilih?

Dubes Roy: Saya pikir Amerika akan bisa bekerjasama dengan siapapun yang menjadi presiden Indonesia.

VOA: Baik Prabowo maupun Jokowi?

Dubes Roy: Baik Prabowo. Kalau kita menghormati demokrasi, dan saya pikir Amerika menghormatinya, kita harus siap untuk menerima hasil proses demokratis pemilihan pemimpin di negara-negara lain termasuk Indonesia.

VOA: Apapun sejarahnya?

Dubes Roy: Dengan kata lain, pertanyaan siapa yang pantas menjadi presiden Indonesia bukan ditentukan oleh Amerika, tapi oleh rakyat Indonesia dan mereka sekarang punya mekanisme untuk memutuskan hal tersebut dan saya pikir kita (Amerika) membiarkan mekanisme tersebut berjalan.

VOA: Anda belum menjawab pertanyaan kami mengenai tantangan luar negeri tersulit apa yang akan dihadapi oleh presiden baru. Apakah berurusan dengan China atau apa?

Dubes Roy: Saya pikir ada beberapa tren negatif di Asia Timur dan itu sangat penting bagi Indonesia karena kesuksesan ekonomi Indonesia dicapai sebagian besar karena stabilitas dan perdamaian di Asia Timur. Jadi menurut saya Indonesia harus memperhatikan ketegangan antara China dan Jepang tentang sengketa Laut China Selatan yang bisa menyebabkan konflik kalau tidak ditangani dengan baik, dan saya harap Indonesia akan menggunakan pengaruhnya untuk berusaha mengembalikan pandangan positif di Asia Timur di mana ketegangan antara berbagai negara mengenai masalah territorial ditangani dengan cara yang tidak mengancam masa depan pertumbuhan ekonomi dan perdamaian di kawasan tersebut.

VOA: Apa pendapat Anda mengenai pengunduran diri Prabowo sebelum pengumuman dan apa yang ia ingin dapatkan dari langkah itu?

Dubes Roy: Saya tidak tahu apa yang akan Prabowo lakukan. Yang saya pahami, pemilu sudah berjalan. Ini baru pertama kali terjadi sejak Indonesia melangsungkan pemilihan presiden langsung. Sebelumnya sudah ada, tapi ini pertama kalinya hanya ada dua calon. Dan hasilnya ketat dibandingkan pemilihan presiden sebelumnya yang memiliki lebih banyak calon presiden. Yang saya pahami posisi Prabowo Subianto, ia mengklaim ada kecurangan di pemilu ini dan oleh karena itu ia mengundurkan diri memonitor hasil akhir pemilu. Indonesia tahu cara mengatasi masalah ini. Indonesia punya KPU. Indonesia punya pengamat dari berbagai penjuru dunia yang menyaksikan pemilihan dan saya pikir ada perselisihan pendapat antara Prabowo dan pengamat pemilu lainnya tentang ada atau tidaknya kecurangan yang substansial dalam pemilu ini. Jadi saya tidak tahu apakah langkah Prabowo selanjutnya, tapi saya pikir penting bagi demokrasi Indonesia bahwa proses penentuan siapa presiden Indonesia ditangani dengan cara yang konsisten dengan huku, dengan penegakan demokrasi di Indonesia.

VOA: Anda setuju dengan alasan Prabowo mengundurkan diri karena proses pemilu bermasalah? Menurut beberapa analis, tuduhan Prabowo tentang kecurangan berlebihan.

Dubes Roy: Saya tidak punya kemampuan independen untuk memutuskan apakah ada kecurangan dan sejauh apa kecurangan tersebut. Yang saya tahu adalah banyak pengamat pemilihan yang tidak percaya bahwa, kalaupun ada kecurangan, kecurangan tersebut cukup untuk mengubah hasil pemilu sebagaimana telah ditentukan oleh KPU. Kalau Prabowo yakin ada kecurangan, menurut saya penting baginya menggunakan mekanisme yang ada agar apa yang ia klaim tersebut diperiksa.

XS
SM
MD
LG