Tautan-tautan Akses

AS

27 Komandan dan Kapten Angkatan Laut AS Kunjungi Kapal Induk China


Tentara China di atas kapal induk Liaoning yang menuju basis militer di Sanya, provinsi Hainan. (Foto: Dok)

Tentara China di atas kapal induk Liaoning yang menuju basis militer di Sanya, provinsi Hainan. (Foto: Dok)

Amerika telah mendesak semua pihak yang tersangkut dalam sengketa wilayah agar menghentikan reklamasi dan kegiatan yang mengandung aspek militerisasi.

Rombongan 27 orang komandan dan kapten Angkatan Laut Amerika berkunjung ke kapal induk satu-satunya milik China, sementara ketegangan antara kedua negara berlanjut atas klaim beberapa negara di Laut China Selatan.

Juru bicara Angkatan Laut Amerika Tim Hawkins mengukuhkan kepada VOA bahwa delegasi Amerika melakukan kunjungan “itikad baik” ke kapal induk Liaoning hari Senin (19/10). Ini kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke akademi kapal selam Angkatan Laut China keesokan harinya.

“Ini adalah kunjungan balasan yang sudah lama direncanakan setelah sebelumnya kunjungan delegasi angkatan laut China ke Amerika,” ujar Hawkins.

Laman militer China mengatakan para peserta membicarakan topik seperti pelatihan personel, pengelolaan, dukungan medis, dan pengembangan strategi kapal induk.

Situs itu mengatakan bahwa delegasi perwira angkatan laut China berkunjung ke Amerika bulan Februari lalu dalam rangka program pertukaran tahunan angkatan laut China-Amerika.

Kunjungan itu menyusul laporan bahwa Angkatan Laut Amerika berencana melakukan pelayaran satu kapal perang dekat zona nautikal 21 kilometer sekeliling pulau-pulau artifisial yang diklaim China sebagai wilayahnya.

Itu akan menunjukkan penolakan Washington mengakui klaim China di Laut China Selatan, apalagi pulau-pulau artifisial yang tetap dikatakan oleh Amerika tidak boleh digolongkan sebagai wilayah kedaulatan.

Sebelumnya bulan ini, China memperingatkan agar jangan melakukan tindakan provokatif di Laut China Selatan, yang tampaknya diarahkan terhadap Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Amerika Ash Carter kemudian mengatakan bahwa Amerika akan “terbang, berlayar dan beroperasi dimanapun hukum internasional mengizinkannya.”

China, Filipina, Vietnam, Taiwan, Malaysia dan Brunei mempunyai klaim yang tumpang tindih di Laut China Selatan, tetapi China mempunyai klaim yang paling luas di jalur pelayaran yang ramai dan kaya sumber daya itu.

Sekalipun Amerika tidak mempunyai klaim, Amerika telah mendesak semua pihak yang tersangkut dalam sengketa itu agar menghentikan reklamasi dan kegiatan yang mengandung aspek militerisasi. [gp]

XS
SM
MD
LG