Tautan-tautan Akses

2 Tentara Perempuan Pertama Lulus dari Sekolah Elit Ranger AS


Letnan I AS Shaye Haver (kanan) berbicara dengan reporter (20/8).

Letnan I AS Shaye Haver (kanan) berbicara dengan reporter (20/8).

Dua perempuan mencatat sejarah, Jumat (21/8), sebagai tentara perempuan pertama yang lulus dari sekolah Ranger Angkatan Darat AS yang bergengsi.

Hanya tiga persen personil Angkatan Darat AS bisa bergabung dengan pasukan elit Ranger. Sebuah spanduk di depan pangkalan militer Fort Benning, Georgia memperingatkan, program ini "bukan untuk mereka yang lemah dan pengecut."

Enam puluh persen tentara yang dipilih untuk mengikuti pelatihan di sekolah Ranger tidak lolos dari program ini. Angkatan kali ini terdiri dari 364 siswa, tapi hanya 94 pria dan dua perempuan yang dinyatakan lulus dari program ini.

"Anda tidak boleh lelah bahkan untuk sehari saja. Anda harus terus berjuang keras," ujar Kapten Kristen Griest, salah satu dari dua perempuan yang lulus dari program ini.

Pekan demi pekan, peserta program harus menghadapi ujian fisik dan mental siang dan malam. Setelah melalui serangkaian tes kebugaran yang sulit, para tentara harus dapat melalui berminggu-minggu di hutan, gunung dan rawa-rawa sebelum dapat meraih predikat Ranger. Tapi Letnan I Shaye Haver - tentara perempuan lainnya yang lulus dari program ini - mengatakan ia bertekad untuk tidak menyerah.

Standar yang sama

Dua lulusan perempuan ini, Griest dan Haver, harus melalui ujian yang sama dengan rekan-rekan lelakinya untuk dapat meraih pangkat Ranger. Ini termasuk mengangkut beban dengan berat yang sama, menuntaskan berbagai tugas dalam hitungan waktu yang sama dan harus dapat meraih dukungan dari rekan-rekan mereka selama pelatihan kepimpinan.

"Saya tidak peduli apakah ia laki-laki atau perempuan - kalau mereka punya pangkat Ranger, saya ingin mereka di samping saya," ujar Letnan II Erickson Krogh. "Dan dua perempuan ini telah membuktikan diri mereka bahwa mereka bisa bertugas bersama saya kapan saja karena saya tahu saya bisa percaya pada mereka, dan saya harap mereka bisa percaya pada saya."

Kesuksesan kedua tentara perempuan ini bermakna signifikan, menurut Katherine Kidder, seorang analis dengan Center for a New American Security di Washington.

"Ini benar-benar menantang asumsi bahwa perempuan tidak dapat bersaing, dan saya rasa ini juga menunjukkan bahwa ada peluang bagi perubahan budaya," katanya.

Angkatan Ranger berikutnya, yang programnya akan dimulai bulan November, akan memiliki lebih banyak peserta perempuan.

Perempuan dalam pertempuran

Terobosan datang di saat militer Amerika sedang mempelajari apakah mereka akan mengikutkan perempuan dalam peran yang sepanjang sejarah dipegang oleh pria. Di bawah peraturan saat ini, Griest dan Haver dapat meraih pangkat Ranger tapi tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai Ranger di lapangan.

Para kepala staf militer memiliki waktu hingga 1 Oktober untuk memutuskan apakah akan membuka posisi tempur bagi tentara perempuan, ujar Menteri Pertahanan Ash Carter kepada reporter di Pentagon Kamis. Ia membutuhkan dokumentasi sebagai justifikasi bila mereka memutuskan untuk tidak membuka posisi-posisi tersebut bagi personil militer perempuan.

"Kebijakan Departemen Pertahanan adalah bahwa semua posisi tempur akan dibuka bagi perempuan kecuali bila analisis data faktuan dengan seksama menunjukkan bahwa posisi tersebut harus tetap ditutup," ujar Carter.

Grist mengatakan kepada reporter Kamis bahwa ia tertarik untuk bergabung dengan pasukan khusus angkatan darat.

"Setiap tentara yang berada di medan tempur harus memiliki kesempatan untuk datang dan mengikuti program Ranger," ujar Kolonel David Fivecoat, komandan Brigadir Pelatihan Ranger dan Angkatan Udara. "Kedua perempuan ini adalah yang pertama lulus dan memenuhi standar, dan di masa depan, jika Angkatan Darat memutuskan, kita akan dengan senang hati menerima mereka."

XS
SM
MD
LG