Tautan-tautan Akses

Dua Perempuan Maju dalam Pemilihan Presiden Taiwan


Didukung oleh anggota Partai Nasionalis, Hung Hsiu-chu, mantan guru sekaligus wakil ketua parlemen swat ini, ketika diajukan sebagai calon presiden untuk pemilihan presiden bulan Januari mendatang, 19 Juli 2015, di Taipei, Taiwan.

Didukung oleh anggota Partai Nasionalis, Hung Hsiu-chu, mantan guru sekaligus wakil ketua parlemen swat ini, ketika diajukan sebagai calon presiden untuk pemilihan presiden bulan Januari mendatang, 19 Juli 2015, di Taipei, Taiwan.

Para pemilih di Taiwan yakin, tahun depan akan memilih seorang perempuan sebagai presiden mereka. Partai Nasionalis yang berkuasa, Minggu (19/7), memilih wakil ketua legislatif dan mantan guru, sebagai calon mereka.

Perempuan pertama calon dari Partai Nasionalis Taiwan yang berkuasa, akan bertarung pada pemilu Januari 2016, melawan seorang perempuan yang dipilih tahun ini oleh partai oposisi.

Calon Partai Progresif Demokrasi yang beroposisi, Tsai Ing-wen pernah maju sebagai calon pada tahun 2012, melawan seorang laki-laki yang kini menjadi Presiden, Ma Ying-jeou. Ia kini mencalonkan diri melawan wakil ketua parlemen, Hung Hsiu-chu.

Perempuan telah menjadi kepala negara di India dan Korea Selatan, di antara negara-negara Asia lainnya, tetapi belum pernah terjadi di Taiwan. Juru bicara kampanye calon presiden Partai Nasionalis, Philip Yang mengatakan, Taiwan telah menarik perhatian dunia karena dua perempuan itu bersaing untuk dipilih menjadi presiden.

“Tidak ada di negara lain calon dari, partai oposisi utama, dan calon dari partai yang berkuasa keduanya perempuan, jadi mungkin ini yang membuat kampanye menjadi sangat menarik,” katanya.

Calon dari Partai Nasionalis, Hung berusia 67 tahun dan seorang mantan guru. Dia dikenal sebagai seorang yang terkadang melontarkan pertanyaan-pertanyaan pedas dan jenaka pada pejabat-pejabat yang dipanggil parlemen untuk menjelaskan kerja pemerintah. Saingannya, Tsai, berusia 58 tahun, seorang pengacara hukum. Ia kalah dalam pemilihan presiden tahun 2012 dengan perbedaan 6 persen suara.

Para pengamat politik mengatakan, para pemilih Taiwan dapat menerima presiden perempuan, karena sistem demokrasi mereka telah dewasa sejak penghujung tahun 1980-an, dan perempuan di atas usia 50 tahun secara tradisional dianggap mampu sebagai pemimpin marganya dalam budaya tradisional Tionghoa yang berakar di Taiwan. Sepertiga anggota parlemen Taiwan juga perempuan, dan wanita memimpin sebagian perusahaan terkemuka di negara itu.

Sebagai petunjuk bahwa soal gender adalah soal kecil bagi para pemilih, perdebatan mengenai jabatan kepresidenan telah bergeser ke arah salah satu dari dilema sulit Taiwan, yaitu hubungannya dengan China yang tegang namun belakangan ini bersahabat. China telah mengklaim kedaulatannya atas Taiwan yang berpemerintahan sendiri sejak tahun 1940-an dan menuntut kedua pihak akhirnya menyatu. Jajak pendapat menunjukkan, rakyat Taiwan lebih suka tingkat otonomi sekarang.

Banyak orang Taiwan menginginkan hubungan yang lebih berhati-hati dengan China, dan jajak pendapat menunjukkan Tsai unggul dari lawannya sementara pemilihan masih setengah tahun lagi. Pemenangnya akan dilantik bulan Mei, menggantikan Presiden Ma yang harus mundur karena sudah mencapai batas masa jabatannya.

XS
SM
MD
LG