Tautan-tautan Akses

Diduga Terkait Rencana Serangan di Indonesia, Dua Militan Ditangkap


Protes di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Indonesia, Jumat, 25 November 2016.

Protes di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Indonesia, Jumat, 25 November 2016.

Pasukan anti-teror Indonesia menangkap dua militan yang berencana menyerang beberapa tempat strategis di ibukota Jakarta, termasuk Kedutaan Myanmar.

Dalam keterangan pers hari Minggu (27/11), juru bicara Kepolisian Indonesia Boy Rafli Amar mengatakan polisi menangkap kedua militan itu setelah menelusuri informasi yang diperoleh dari interogasi terhadap tersangka pembuat bom, Rio Priatna Wibawa, yang ditangkap pekan lalu. Ketiganya mengaku telah menyatakan kesetiaan kepada ISIS.

Bahrain Agam ditangkap di bagian utara Aceh Sabtu malam (26/11) dan Saiful Bahri ditangkap di Banten hari Minggu (27/11).

Polisi mengatakan Wibawa memiliki sejumlah bahan peledak di rumahnya di Jawa Barat, yang cukup untuk membuat bom yang tiga kali lebih dahsyat dari yang digunakan dalam ledakan di Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang.

Sejak pemboman di Bali, yang dilakukan kelompok militan Jemaah Islamiyah yang terkait Al Qaeda, operasi keamanan telah menjaring ratusan orang yang radikal dan menggagalkan upaya untuk melakukan serangan besar. Tetapi ancaman baru muncul dari ratusan warga lain yang baru kembali ke tanah air setelah berjuang bersama ISIS di luar negeri dan kelompok-kelompok yang mendukung mereka.

Amar mengatakan militan yang tertangkap itu mengatakan kepada pihak berwenang bahwa mereka ingin membalas serangan terhadap warga Muslim-Rohingya dengan menyerang Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Mereka juga berencana menyerang gedung DPR, markas polisi dan beberapa stasiun televisi. Serangan terhadap kedutaan besar itu sedianya dilakukan bulan ini atau Desember mendatang.

Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta memang menjadi lokasi demonstrasi besar pada hari Kamis (24/11) dan Jum'at (25/11) menentang serangan terhadap warga Muslim-Rohingya. Demonstrasi serupa juga terjadi di Bangladesh, Malaysia dan Thailand.

Aksi kekerasan di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha itu telah menewaskan sejumlah warga Muslim-Rohingya dan memaksa ribuan lainnya mengungsi. Warga Muslim-Rohingya juga menghadapi diskriminasi dan dinyatakan sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar meskipun mereka telah berada di negara itu selama beberapa generasi.

Dalam keterangan pers itu, polisi mengatakan ketiga militan yang ditangkap pekan ini merupakan bagian dari jaringan yang diyakini terlibat dalam serangan di Jakarta Januari lalu, yang menewaskan 8 orang. “Kami masih menyelidiki dan mencari anggota-anggota lain kelompok ini,” tambah Boy Rafli Amar.

Bahrain Agam diketahui menyediakan sejumlah dana tunai dan bahan peledak, sementara Saiful Bahri membantu Rio Priatna Wibawa merakit bom.

Polisi mengatakan Rio Priatna Wibawa adalah mahasiswa yang putus kuliah dari sebuah universitas pertanian, yang kemudian menjadi radikal setelah membaca tulisan-tulisan ustad Aman Abdurahman, yang juga menerima dana dari warga Indonesia yang sudah teradikalisasi di Arab Saudi, Malaysia dan Taiwan. Ditambahkan, mereka beroperasi di bawah perintah Bahrun Naim, seorang militan Indonesia yang bertempur bersama ISIS di Suriah. [em/jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG