Tautan-tautan Akses

17 Tewas akibat Serangan atas 2 Gereja di Kenya


Petugas sedang mengamankan gereja "African Inland" di Garissa dekat perbatasan Somalia pasca serangan granat (1/7).

Petugas sedang mengamankan gereja "African Inland" di Garissa dekat perbatasan Somalia pasca serangan granat (1/7).

Sedikitnya 17 orang tewas dan 40 orang lainnya luka-luka dalam serangan simultan terhadap dua gereja di Garissa, perbatasan Somalia hari Minggu (1/7).

Polisi Kenya menyatakan orang-orang bersenjata menyerang dua gereja di kota Garissa di bagian Timur, hari Minggu, sehingga menewaskan 17 orang dan mencederai sedikitnya 40 orang.

Menurut pihak berwenang, dalam kedua kasus tersebut, para penyerang melemparkan granat dan melepaskan tembakan ke arah jemaat.

Serangan yang paling banyak menewaskan korban terjadi di Gereja Tanah Dalam Afrika (African Inland), di mana sedikitnya 10 orang tewas, termasuk dua polisi. Serangan kedua terjadi di sebuah gereja Katolik.

Polisi belum langsung menyatakan siapa yang bertanggungjawab atas kekerasan tersebut. Mereka menuding serangan-serangan serupa dilakukan oleh simpatisan kelompok militan al-Shabab yang berbasis di Somalia.

James Mwamu, wakil ketua Perhimpunan Hukum Afrika Timur, mengatakan kepada VOA bahwa waktunya sudah tiba bagi Kenya untuk menindak keras terorisme dan pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi warganya.

Ia mengatakan teroris tidak dapat dibiarkan membunuh orang-orang sipil yang tidak bersalah yang tidak ada hubungannya dengan keadaan di Somalia.

Kenya mengirim pasukan ke Somalia tahun lalu untuk membantu memburu militan al-Sabab. Pemberontak ingin mengubah Somalia menjadi negara Islam yang ketat.

Garissa berlokasi sekitar 140 kilometer sebelah barat perbatasan Somalia. Kota ini juga terletak sekitar 80 kilometer sebelah barat daya kamp pengungsi Dadaab, yang dihuni hampir 500 ribu pengungsi Somalia.

Hari Jumat, beberapa lelaki bersenjata di kamp Dadaab membunuh seorang warga Kenya dan menculik empat relawan asing.
XS
SM
MD
LG